Minggu, 20 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Vision 2020 : "To be one of the best integrated Engineering, Procurement and Construction (EPC) and Investment Companies in South East Asia."

Prestasi

Info Bank Award 2013

Kegiatan

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Jajak

Menurut Anda keunggulan yang dimiliki WIKA dalam pengerjaan proyek adalah

  • Mutu (28%, 263 Votes)
  • Inovasi (23%, 218 Votes)
  • Berorientasi lingkungan (22%, 206 Votes)
  • Sistem Metode kerja (7%, 65 Votes)
  • Tepat waktu (5%, 48 Votes)

Total Voters: 932

Loading ... Loading ...

Jembatan Selat Sunda Diprioritaskan

17 Pebruari 2011

Meskipun investasinya sangat besar, Jembatan Selat Sunda diyakini mampu memompa potensi ekonomi di Banten dan Lampung untuk mengeruk untung.

Jangan heran bila perbaikan jalan raya, jembatan dan proyek infrastruktur daerah lain berjalan lambat. Pemerintah kini sedang memusatkan perhatian untuk membangun proyek-proyek infrastruktur raksasa yang berdampak jangka panjang. Fokus utamanya, antara lain membangun Jembatan Selat Sunda pada tahun 2011-2025.

Pengalihan fokus pembangunan infrastruktur itu dipastikan setelah Kementerian Koordinator Perekonomian dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyusun master plan ekonomi 2011-2025. Dalam master plan itu terangkum delapan program dan 18 aktivitas utama, termasuk pembangunan Kawasan Strategi Nasional Jembatan Selat Sunda.

“Aktivitas utama itu akan mengutamakan pengembangan ekonomi daerah, termasuk peluang kerja dalam jumlah besar bagi masyarakat. Pembangunan jembatan ini tidak hanya soal fisiknya, melainkan mengembangkan kawasan sekitarnya di Provinsi Banten dan Lampung,” kata Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Dr. Armida Alisjahbana, di Jakarta, Rabu  9 Februari 2011.

Pembangunan fisik jembatan akan dimulai pada akhir 2013 atau awal 2014, dengan jangka waktu pelaksanaan sekitar 10 tahun. Anggaran pembangunannya pun besar, yaitu senilai US$  15 miliar atau Rp 135 triliun itu.

Sejauh ini, konsorsium bisnis pelaksana pembangunan Jembatan Selat Sunda belum dibentuk karena proses tender belum dimulai. Bahkan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih menunggu terbitnya peraturan (perpres) yang mengatur pembentukan dewan dan badan pelaksana sebagai pemegang otoritas operasional proyek tersebut.

“Namun beberapa BUMN akan diundang untuk berpartisipasi, yaitu PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dan PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA) untuk membantu memperkuat pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS),”  kata Menteri BUMN Mustafa Abubakar usai rapat koordinasi dengan para menteri di jajaran Menko Perekonomian pekan lalu.

Jasa Marga diperlukan atas pengalaman selama ini membangun dan mengelola jalan-jalan tol di Indonesia dan Malaysia. Sedangkan WIKA diperlukan sebagai kontraktor handal dalam berbagai proyek konstruksi, engineering, perdagangan, real estat dan manufaktur.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan pembangunan JSS tidak akan dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semata. “Terlalu besar nilainya, sehingga APBN tidak akan kuat. Kita akan menggandeng swasta domestik atau asing, meskipun BUMN dan BUMD diprioritaskan,” lanjut Ketua Umum PAN itu.

BUMN yang dilibatkan antara lain, adalah PT Krakatau Steel sebagai pemasok kebutuhan baja bagi proyek JSS.  Kebutuhan baja nasional pada periode 10 tahun mendatang diperkirakan sekitar 10 juta ton per tahun. Saat ini PT Krakatau Steel dan industri baja domestik baru hanya mampu menyediakan 4 juta ton per tahun.

“Jika pabrik patungan PT Krakatau Steel dan Posco Korea Selatan di Cilegon sudah beroperasi, akan ada pasokan tambahan tiga juta ton baja per tahun dalam lima tahun kedepan. Pada periode yang sama, akan hadir pula investasi pabrik baja dari China,” ujar Menteri Perindustrian MS Hidayat beberapa waktu lalu.

Berdasarkan studi awal konsultan perancangan teknis PT Bangungraha Sejahtera Mulia, Jembatan Selat Sunda akan terdiri dari lima seksi yang seluruhnya berbahan baja tahan karat. Tinggi jembatan untuk tiang tertinggi sepanjang 400 meter.

Seksi dua dan empat masing-masing berupa jembatan  ultra panjang dengan panjang bentang utama 2.200 meter. Seksi satu, tiga dan lima berupa rangkaian 108 jembatan kantilever seimbang (series of balanced cantilever bridges) dengan panjang bentang setiap bilah jembatan kecil masing-masing 200 meter.

Pembangunan jembatan itu akan menggunakan teknologi mutakhir rancangan dari Italia. Teknologi itu sudah diterapkan dalam pembangunan Jembatan Messina di Italia sepanjang 3.300 meter serta Jembatan Xihoumen di China sepanjang 1.650 meter. Jembatan berteknologi terbaru itu dirancang mampu bertahan dari gempa berkekuatan 9 pada skala richter.

“Kita memakai teknologi generasi ketiga yang didesain lempeng jembatannya setebal lima meter dan berbobot paling ringan. Ini cocok karena batangnya sangat panjang, tapi strukturnya tidak terlalu tebal,” ujar Direktur Utama PT Bangungraha Sejahtera Mulia, Agung Prabowo, seperti dikutip Vivanews.com. Bangungraha Sejahtera Mulia merupakan salah satu perusahaan dibawah naungan Artha Graha Network (AG Network) yang terlibat dalam konsorsium Pembangunan Jembatan Selat Sunda.

Biaya konstruksinya diperkirakan US$ 9,5 sampai US$ 10,4 miliar. Ini belum termasuk biaya pembebasan lahan, pembangunan infrastruktur penunjang sampai biaya bunga bank. Nilai investasi ini tentu tidak bisa ditutup dengan hasil pendapatan biaya tol, meskipun jumlah kendaraan yang melintas antara Pulau Jawa dan Sumatera bisa mencapai ribuan unit per hari.

Guna meningkatkan laju pengembalian investasi yang berkisar Rp 100 triliun itu, pemerintah dan konsultan teknis berencana membangun kawasan industri, pergudangan, pertokoan, perkantoran hingga pariwisata disekitar basis Jembatan Selat Sunda di wilayah Banten dan Lampung. Investor akan diberi konsesi untuk mengelola kawasan industri dan komersial itu selama periode tertentu, lalu dikembalikan lagi kepada pemerintah.

Konsep kawasan bisnis yang meliputi Jembatan Selat Sunda itu diperkirakan memerlukan investasi hingga Rp 140 triliun. “Anggaran itu termasuk untuk jalur kereta api yang dibangun sejajar dengan jalur tol,” kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Diharapkan Jembatan Selat Sunda ini mampu menjadi tujuan wisata layaknya Golden Gate Bridge di San Francisco (Amerika Serikat) dan Sydney Harbour Bridge di Australia.

Pembangunan Jembatan Selat Sunda ini bukan berarti tanpa resiko. Para insinyur perancang teknis jembatan ini sangat mencemaskan gangguan angin uang terlalu kuat. Bila tidak dirancang sebaik-baiknya, badan jembatan yang tergantung pada kabel-kabel baja bisa bergoyang-goyang dan mengganggu lalu lintas di atasnya. Soalnya, badan jembatan itu terletak cukup tinggi, yaitu 80 meter di atas permukaan laut sehingga tekanan anginnya cukup besar.

Namun kami sudah menyiapkan lubang-lubang di bawah penyangga landasan badan jembatan untuk sirkulasi angin. Kami memperkirakan jembatan ini masih stabil biarpun dihantam angin berkecepatan 24 jam per kilometer,” kata Agung Wibowo dari Bangungraha. Kecepatan angin di Selat Sunda rata-rata tidak  mencapai kekuatan sebesar itu.

Bagaimana dengan Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda?
Para pakar teknik yang merancang Jembatan Selat Sunda itu justru mengaku bersyukur dengan fakta bahwa Gunung Anak Krakatau meletus hampir setiap tahun. Ini berarti energi dan timbunan lava di dalam kepundannya dilepaskan secara teratur pula.

“Yang harus kita takutkan justru kalau Gunung Anak Krakatau diam saja, berarti sedang menimbun energi sangat besar. Letusan-letusan aktif selama 10 tahun terakhir ini meniadakan ancaman letusan dashyat,” kata Dr. Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Dengan pola letusan sekarang, Surono memperkirakan Gunung Anak Krakatau tidak akan meletus dengan dahsyat dalam 200 tahun mendatang. Krakatau, menurut dia, memiliki periodesasi letusan dahsyat selama 1500 tahun. “Letusan dahsyat terakhir 1883. Gunung api di Jawa lebih galak dibanding di Sumatera, dan Selat Sunda merupakan tempat transisi,” ujar Surono.

Selain itu, letusan Gunung Anak Krakatau selama ini juga hanya mempunyai radius sekitar 2-3 km. Padahal letak Jembatan Selat Sunda dengan Anak Krakatau jaraknya 50 kilo meter.

Namun Surono mengingatkan agar aktifitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau secara seksama. Jika gunung berapi itu diam lebih lama dari biasanya, Surono mengusulkan untuk memancing letusan kecil dengan ‘menyuntikkan’ energi ke dalam kepundan  gunung berapi tersebut.

Majalah Forum, Edisi 14 Februari / 20 Februari 2011, hal. 88