Perketat pengawasan impor produk China

Direktur Utama PT Sucofindo (persero) Arif Safari menyinyalir dampak krisis keuangan global dapat menimbulkan kian tingginya arus impor produk jadi.

Hal ini dimungkinkan mengingat pelemahan pasar yang kini serius di Amerika Serikat dan Uni Eropa akan memicu pengalihan besar-besaran pasar dunia dari kawasan utama berbagai tujuan alternatif seperti Indonesia

Jika banjir produk-produk impor terjadi, sambungnya kondisi tersebut akan menghantam kelompok industri manufaktur berbasis pasar domestik seperti makanan dan minuman, produk-produk kerajinan, barang-barang dari plastik hingga semen dan barang galian nonlogam "Gejalanya memang belum terlihat datpi akan mengarah ke sana cepat atau lambat "katanya kemarin."

China diperkirakan menjadikan negara Asia, termasuk Indoanesia, sebagai tujuan ekspor baru untuk produk-produk manufakturnya, seperti tekstil, sepatu, lampu dan elektronik, eleokimia, hingga produk makanan dan minuman

Ketua umum Industri Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Thomas Dharmawan mengatakan langkah memperketat pengawasan produk-produk ekspor dari Luar negeri itu penting dilakukan untuk mengatisipasi dampak krisis saat ini

"Krisis ini baru mulai dampaknya baru bisa dirasakan tiga atau enam bulan kedepan. Melihat Eropa, China dan Jepang dampaknya akan terjadi resesi. Kita harus mempertahankan pasar. Departemen Teknis, Badan POM dan Badan Karantina harus mengerti kondisi ini," katanya seusai Temu Asosiasi Industri Makanan dan Minuman dalam Mengantisipasi Krisis Perekonomian Global, kemarin.

Rekomendasi Lain

Selain meningkatkan pengawasan beberapa rekomendasi yang diajukan sejumlah pelaku industri makanan dan minuman diantaranya adalah memberlakukan safeguard atau antidumping untuk perdagangan yang di fair, dan meninjau kembali kebijakan perpajakan seperti PPN, Bea Masuk

Selain itu, meningkatkan daya saing industri harus juga dilakukan melalui penyedian infrastruktur dan menghilangkan biaya tinggi, pungli dan retribusi daerah yang memberatkan pengusaha.

"startegi yang dilakukan saat ini, kita harus menjaga pasar dalam negeri dengan cara yang elegan. Artinya kalau China mau masuk kita harus menerapkan azas resiprokal" katanya

Di Industri makanan dan minuman lanjut Thomas krisis fianansial diperkirakan akan mengoreksi panjualan (ekspor) produk ke pasar AS sekitar 5% pada 2009 atau paling tidak mencatat pertumbuhan 0%.

Ditempat terpisah Ketua Asosiasi Industri Perlampuan Indonesia (Aperlindo) Johan Manopo mengatakan potensi meningkatnya produk asal China juga dapat terjadi pada industri lampu.

Hingga akhir 2008 peredaran lampu impor China diproyeksi meningkat menjadi 80% dari total konsumsi lampu nasional saat ini sebesar 120 juta unit. Hingga Juli 2008 impor lampu asal China mencapai 57 Juta unit dan krisis global dikhawatirkan memicu kanaikan impor produk sebesar 10 juta unit per builan

"Di Eropa dan AS konsumsi lampu pada Oktober, November dan Desember ini akan meningkat karena musim dingin dan natal. Kalau ternyata impor mereka dihentikan tentu China akan cari pasar baru dan indonesia berpotensial mendapatkan limpahannya (waluyo@bisnis.co.id)

Source :Bisnis Indonesia


Kategori Berita