Wednesday, 23 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

PT Rajawali Nusantara Indonesia

Visi Kementerian BUMN : "Meningkatkan peran BUMN sebagai instrumen negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme"

Achievements

PT Rajawali Nusindo sebagai Distributor  Terbaik PT Biofarma  tahun 2011

Activity

April  2014
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Contact Us

pic

Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

BUMN Yang Besar Dan Gesit

25 October 2010

bumn_produk_400

HANDITO JOEWONO Chief Strategy Consultant Arrbey Indonesia
Pemimpin perusahaan yang tidak terlalu besar sering kali mempunyai kegesitan dan daya juang lebih tinggi. Langkah strategis Kementerian BUMN yang berencana membentuk holding company di bidang perkebunan patut diacungi jempol. Ini merupakan contoh kegesitan pengambil kebijakan dalam membangun perusahaan besar yang dimiliki oleh negara.

Sekarang bukan saatnya lagi menempatkan perusahaan BUMN sebagai pihak yang perlu dilindungi apalagi dikasihani. Sekarang saat yang ideal untuk menjadikan para BUMN sebagai sokoguru pembangunan perekonomian nasional. Kedepan, kita ingin menyaksikan lebih banyak lagi BUMN tangguh yang mampu menang bersaing baik di pasar domestik maupun global.

BUMN yang tangguh tidak hanya akan menjadi mesin penyetor dividen untuk membiayai pembangunan nasional, tetapi juga diharapkan berperan sebagai penjaga teritori wilayah ekonomi nasional dari gempuran perusahaan multinasional raksasa.

Hanya perusahaan besar yang sanggup menahan gempuran dan memenangkan kompetisi dari para multinasional raksasa.
Dalam kaitan tersebut, langkah strategis membesarkan BUMN termasuk BUMN perkebunan merupakan langkah mutlak yang perlu diprioritaskan.

Tentu saja membesarkan BUMN perkebunan dan BUMN lainnya membutuhkan rencana strategis dan pemimpin strategis yang juga mempunyaa nyali dan inovasi besar. BUMN yang makin besar diharapkan tetap gesit, dan perlu dikendalikan oleh pemimpin yang efektif.

Pemimpin perusahaan yang tidak terlalu besar seringkali mempunyai kegesitan dan daya juang lebih tinggi karena sudah terbiasa dengan berbagai keterbatasan yang dipunyai.

PTPN XII yang luas kebunnya tidak lebih dari 100.000 hektare misalnya, tergolong perkebunan BUMN bukan besar, terlihat menikmati keterbatasannya sehingga malah kreatif dalam pengembangan bisnisnya.

Pengembangan kopi olahan dan kafe Rollas merupakan salah satu langkah konkret bagaimana kegesitan dipadukan dengan keinginaan untuk menjadi lebih besar.

Pemimpin bisnis Bisnis zaman sekarang, termasuk di BUMN, membutuhkan kepemimpinan bisnis yang berkompeten, gesit dan solid. Cara paling primitif untuk menyelesaikan hal ini adalah melakukan bongkar-pasang mengganti dengan personel lain yang lebih kompeten termasuk membajak profesional kompeten.

Arah baru pengelolaan perusahaan mengedepankan adanya kepemimpinan berorientasi proses dan hasil yang mengedepankan sinergi sumber daya dan inovasi menuju daya saing perusahaan berkelanjutan. Dengan arah baru pengelolaan perusahaan, tidak bisa lagi kita mengelola perusahaan dengan prinsip PDCA atau Plan, Do, Check and Action secara murni. Sudah bukan zamannya perusahaan dikelola dengan bersandarkan mutlak pada PDCA.

Sesuai dengan prinsip PDCA, setelah membuat plan semestinya menjalankan do berupa langkah melaksanakan plan, lalu check untuk mengontrol hasilnya dan lalu melakukan action lanjutan sampai roda aktivitas berputar ke plan lagi dan seterusnya. Bagaimana dengan kinerja atau hasil yang dicapai? Dengan PDCA yang terpenting rencana berjalan.

Bahkan ada juga manajer yang menggunakan PDCA sesuai dengan seleranya, yang penting ritme kerjanya PDCA. Manajer PDCA maniac seperti ini urutan waktu kerjanya adalah rapat Planning, setelah rapat dia bekerja Do seperti biasanya dan bahkan terkadang cuek dengan hasil planning karena dia punya selera sendiri untuk mengelola pekerjaannya.

Setelah itu yang bersangkutan Check melihat pekerjaan anak buahnya, terutama melihat apakah anak buahnya rajin dan loyal pada manajer tadi. Setelah itu dia melanjutkan Action bekerja seperti biasa yang kembali tanpa ingat lagi rencana yang sudah dirumuskan.

Kini bukan zamannya lagi mengendalikan perusahaan dengan hierarki supervisor, manajer atau general manager. Di perkebunan dikenal adanya jabatan administratur yang disegani.

Kalaupun masih ada pangkat atau jabatan yang biasanya disukai oleh pegawai baru tersebut, maknanya lebih ke arah hierarki karier atau administratif.

Jadi tetap sah-sah saja ada pangkat atau jabatan supervisor, manajer, general manager atau administratur; tetapi pengelolaan perusahaan semestinya bertumpu pada model kepemimpinan yang efektif. erusahaan besar dan gesit juga  membutuhkan pemimpin gesit yang tidak hobi menunda-nunda pekerjaan atau keputusan. Pemimpin yang berlarut-larut dalam pengambilan keputusan misalnya akan membuat peluang bisnis bisa berlalu sia-sia.

Pemimpin yang tidak tangkas akan membuat permasalahan semakin besar dan berlarut-larut. Tentu saja kondisi permasalahan berlarut-larut seperti ini tidak sehat, lagipula salah satu peran yang diharapkan dari pemimpin adalah menyelesaikan masalah.

Sering kali berlarut-larutnya permasalahan disebabkan oleh keragu-raguan dalam mengambil keputusan. Sesungguhnya tidak ada keputusan yang pasti benar atau pasti salah.

Tidak ada hitam yang benar-benar hitam, demikian juga tidak ada putih yang benar-benar putih. Selalu saja ada titik abu-abu dan pemimpin semestinya tidak perlu ragu-ragu mengambil keputusan.

Kepemimpinan yang efektif dengan dukungan followership yang baik dari timnya akan membuat perusahaan, termasuk BUMN perkebunan, menjadi perusahaan-perusahaan besar dan gesit.

Source :Bisnis Indonesia



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Your email address will not be published. Required fields are marked *

: *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>