Reklamasi Bekas Tambang - Menyulap Penghasil Timah Jadi Kayu Putih

Pagi menjelang siang, matahari tanpa malu-malu memancarkan sinarnya ke atas lahan bekas penambangan timah di Desa Nibung, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Sinar mentari yang benderang memaksa orang-orang yang berada di tempat itu menyipitkan matanya. Beberapa di antaranya bahkan sudah menyiapkan kacamata hitam dan topi bercaping.

Lahan tersebut pada masanya banyak menghasilkan timah yang membuat Bangka diperhitungkan daerah luar bahkan negara lain. Namun, bekas penambangan itu kini hanya menyisakan galian yang cukup dalam dan terlihat lapisan pasir berwarna putih kecoklatan. Beberapa bagian bahkan menjelma menjadi danau ketika musim hujan tiba.

Bangka memang dikenal sebagai penghasil timah. Jika dilihat dari jendela pesawat terbang di ketinggian akan tampak beberapa area berwarna putih kecokelatan di sela-sela lahan hijau.

Hari itu, Desa Nibung patut bersyukur karena ada rombongan yang datang dari jauh untuk menghidupkan kembali lahan bekas penambangan. Lebih dari 30 tahun lalu, PT Koba Tin beroperasi di daerah itu untuk mendapatkan timah dari dalam bumi Desa Nibung.

Namun, mengingat kontrak karya Koba Tin habis, sejak 2013 mereka tida lagi beroperasi di desa itu. “Perusahaannya masih berdiri, Cuma kegiatannya di Bangka Tengah sudah tidak ada lagi, kata Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah Julhasnan.

Warga yang sebelumnya menjadi karyawan Koba Tin pun kehilangan pekerjaan. Mereka masih kerap mengeruk sisa-sisa timah di lahan bekas penambangan, tetapi hasilnya kurang maksimal. Jadilah lahan itu telantar karena tak lagi menguntungkan.

PT Surveyor Indonesia tergerak untuk melakukan reklamasi lahan bekas penambangan timah di Desa Nibung. Bangka cukup akrab bagi perusahaan pelat merah ini. BUMN tersebut selama ini melakukan verifikasi untuk timah yang akan diekspor mulai dari asal barang, kualitas hingga urusan administrasi.

Surveyor Indonesia setidaknya mendatangkan sekitar 2.000 pohon kayu putih dalam kegiatan reklamasi bekas penambangan timah seluas dua hectare. “Kami tanam secara simbolis dulu, selanjutnya kami serahkan kepada pemerintah daerah setempat untuk mengurusnya, kata Presiden Direktur Surveyor Indonesia M. Arif Zainuddin pada Rabu (19/11). Meski sinar matahari cukup terik, Arif tampak semangat menanam kayu putih lalu menyiramnya.

Pohon kayu putih dipilih karena dinilai cocok di tanam di daerah yang berpasir. Kabid Kehutanan Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bangka Tengah Husef Sribuono mengatakan pada saatnya pohon itu member manfaat secara ekonomi bagi warga sekitar.

Dia melanjutkan warga desa Nibung dapat mengolah daun dan ranting pohon tersebut menjadi minyak kayu putih yang banyak diperlukan untuk industri farmasi. Minyak kayu putih atau cajuput oil memiliki sifat antibakteri dan anti mikroba sehingga sering menjadi bahan campuran untuk sabun, deodorant, parfun dan produk kesehatan lainnya.

Kepala Unit Pogram Kemitraan & Bina Lingkungan Surveyor Indonesia Arief Wardhana Soedjono menjelaskan BUMN itu mengeluarkan dana sekitar Rp. 81 juta untuk penanaman pohon kayu putih di Desa Nibung.

“Kami bekerjasama dengan Dinas Pertambangan dan Energi serta Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bangka Tengah. Jadi pelaksanaan selanjutnya termasuk perawatan dan segala macam memang mereka yang melakukan, “ katanya. (TisyrinNaufalty/BisnisIndonesia/22112014)


Kategori Artikel