Artikel


PTSI TATA PKL

Jawa Tengah - Januari 2014

Pedagang Kaki Lima (PKL) kerap menjadi biang masalah ketidaktertiban dan ketidaknyamanan. Tapi tidak bagi PT Surveyor Indonesia (Persero). Bagi perusahaan yang bergerak di bidang jasa pemeriksaan, teknis, survei, pengkajian, penilaian, pengawasan, auditing serta konsultansi itu, solusi mengatasi PKL tidak harus selalu harus dibubarkan, sebaliknya justru ditata tanpa mengurangi keindahan kota, seperti penataan PKL Bambu Runcing yang dilakukan PTSI bekerjasaman dengan Dinas Perindustrian Perdagangan UMKN Magelang, Jawa Tengah. (Senin 16/12)

PTSI menggelontorkan dana Rp 50 juta untuk menata 7 dari 29 kios di sepanjang kawasan Tugu Bambu Runcing. Kini, penampilan kios yang diisi delapan pedagang kuliner mulai dari pedagang angkringan, sate, mie pun naik kelas, tendanya biru seragam, tiangnya kokoh dan lantainya bersih. “ Kalau PKL rapi, pemda pun senang. Pedagang tidak perlu was-was, khawatir dikejar-kejar petugas, Kalau usahanya maju terus, kami pun bisa menawarkan pinjaman,” kata Direktur Utama PTSI, M. Arif Zainuddin.

Sekretaris Camat Muntilan, Mashadi, mengatakan, sebagai kota transit, Muntilan menjadi lokasi udeal membuka usaha, khususnya PKL. “Muntilan tercatat memiliki 200 pedagang yang beroperasi tiap malam. Saking banyaknya masyarakat yang transit di kota ini, PKL menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Bahkan para PKL umumnya tutup jam 23.30 karena dagangannya sudah habis,” urainya. “Tapi keberadaannya tidak bisa dibubarkan, terlebih mereka berpartisipasi menggerakkan ekonomi bangsa, mengentaskan kemiskinan karena menyerap tenaga kerja,” sambungnya. • PKBL Action No. 16 Tahun II Januari 2014


Kategori Artikel