Harga Karet Naik Tajam, Ini Penyebabnya

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet di Tokyo berhasil rebound bahkan membukukan kenaikan terbesarnya dalam sekitar sebulan pada perdagangan hari ini, Jumat (16/8/2019), saat pasar menantikan kabar dari pertemuan sejumlah negara penghasil karet.

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Januari 2020 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) ditutup menanjak 1,69 persen atau 2,80 poin di level 168,80 yen per kg dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (15/8/2019), harga karet kontrak Januari 2020 merosot 1,54 persen atau 2,60 poin dan berakhir di posisi 166 (lihat tabel). Karet mulai bangkit dari pelemahannya dengan dibuka naik 0,30 persen atau 0,50 poin di posisi 166,50 pagi tadi.

Kenaikan yang dibukukan pada akhir perdagangan hari ini adalah yang terbesar sejak 18 Juli. Sepanjang perdagangan, harga karet kontrak Januari 2020 bergerak di kisaran 167,80-172,00.

Dilansir dari Bloomberg, pejabat pemerintah dari Thailand, Indonesia, dan Malaysia akan menutup pertemuan mereka di Bangkok yang membahas sejumlah isu pasar termasuk pembatasan ekspor.

Langkah pembatasan ekspor selama empat bulan oleh Indonesia dan Malaysia yang telah membantu mengangkat harga pada semester pertama berakhir bulan lalu, sementara Thailand berakhir pada akhir September.

Produksi ketiga negara produsen utama karet yang tergabung dalam wadah International Tripartite Rubber Council (ITRC) itu diketahui berkontribusi untuk dua pertiga pasokan global.

Turut mendorong kenaikan karet, nilai tukar yen terpantau lanjut melemah tipis 0,08 persen atau 0,09 poin ke level 106,22 yen per dolar AS pukul 15.38 WIB, setelah berakhir terdepresiasi 0,2 persen atau 0,21 poin di posisi 106,12 pada Kamis (15/8).

Pelemahan nilai tukar yen berlanjut untuk hari kedua seiring dengan memulihnya daya tarik aset-aset berisiko. Data teranyar yang menunjukkan lonjakan penjualan ritel AS pada Juli memberi kelegaan kepada investor setelah kondisi pasar obligasi Amerika Serikat sempat mengindikasikan tanda-tanda resesi.

Pasar saham di Asia pun menguat setelah pemerintah China yang mengisyaratkan lebih banyak dukungan untuk ekonominya. Pada saat yang sama, harapan stimulus agresif dari bank-bank sentral utama meningkat.

Sentimen pasar semakin terangkat ketika perencana negara China mengatakan bahwa Beijing akan menggelontorkan rencana untuk meningkatkan pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable income), meskipun tidak menyampaikan detail lebih lanjut.

Seperti diketahui, pelemahan nilai tukar yen terhadap dolar AS memberi angin segar bagi karet, yang dapat mengangkat harga komoditas ini dengan terdorongnya prospek permintaan dari pembeli asing.

Sejalan dengan karet, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September 2019 ikut rebound dan menguat 1,56 persen atau 0,85 poin ke level US$55,32 per barel pada pukul 15.28 WIB, setelah berakhir melemah 1,38 persen di posisi 54,47 pada Kamis (15/8).

Adapun minyak Brent kontrak Oktober 2019 naik tajam 1,68 persen atau 0,98 poin ke level US$59,21 per barel, setelah berakhir anjlok 2,10 persen atau 1,25 poin di posisi 58,23 pada Kamis.

Karet sintetis yang menjadi bahan subtitusi utama karet alam dibuat dari polimer turunan minyak, sehingga pergerakan harganya dipengaruhi harga minyak yang menjadi bahan baku asalnya.

https://market.bisnis.com/read/20190816/94/1137595/harga-karet-naik-tajam-ini-penyebabnya


Kategori Berita