Friday, 18 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Visi PTPN VIIĀ  (Persero) : "Menjadi perusahaan agribisnis berbasis karet, kelapa sawit, teh dan tebu yang tangguh serta berkarakter global"

Achievements

IT Governance Award BUMN

Activity

April  2014
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Contact Us

pic

Polls

How Is My Site?

  • Good (33%, 3 Votes)
  • Bad (22%, 2 Votes)
  • No Comments (22%, 2 Votes)
  • Excellent (11%, 1 Votes)
  • Can Be Improved (12%, 1 Votes)

Total Voters: 9

Loading ... Loading ...

PTPN VII BANGKITKAN KEMBALI POLA KEMITRAAN

3 February 2010

Suara gaduh demonstran beringas dengan berbagai senjata terhunus sempat menjadi mimpi buruk pengusaha yang menanamkan investasinya dengan pola kemitraan di Lampung. Berbagai kasus kekerasan massa dari unsur petani pecah hingga memacetkan usaha, bangkrut, bahkan menutup usahanya.


Catatan merah tentang kemitraan begitu gamblang. Sebab, kisah itu menyangkut perusahaan besar. Kita masih ingat, betapa PT Dipasena Citra Darmaja, perusahaan tambak udang terpadu terbesar di Asia itu bersimpuh kepada plasma. Remah-remah PT Tris Delta Agrindo, perusahaan perkebunan dan pengolahan nanas di Lampung Tengah untuk konsumsi impor itu juga menjadi saksi kekuatan mitra. Juga beberapa perkebunan besar di Lampung yang tak dapat diselamatkan.


Padahal, nama-nama perusahaan itu bukan korporat kacangan. Dipasena yang bernaung di bawah Gajah Tunggal Group adalah holding usaha internasional. Tris Delta adalah perusahaan dengan modal Korea. Juga yang lain. Kekuatan kapital yang sungguh besar itu luluh lantak oleh satu “kesalahan” sistem yang dipilih saat itu. Yakni, pola kemitraan.


Pada masa jayanya, perusahaan-perusahaan dengan pola kemitraan ini memang luar biasa produktif. Regulasi pemerintah melalui Menteri Koperasi dan pengembangan usaha kecil berhasil memediasi pemodal dengan rakyat.


Dengan modal yang tidak terlalu besar, pengusaha sudah dapat menguasai lahan, mengolah, memetik hasilnya, dan berbagi sedikit dengan petani pemilik lahan. Soal keamanan yang selama ini menjadi momok, tidak jadi urusan. Sebab, dengan pengakuan plasma sebagai “pemilik sah” usaha itu, sebanyak mitra itu menjadi “satpam” perusahaan. Mereka merasa ikut memiliki sehingga ikut menjaga.


Tampaknya, kemudahan dan empuknya hidup mengeruk sumber daya alam dan sumber daya manusia membuat pemodal lupa diri. Dengan dalih penerapan manajemen mutakhir, berbagai upaya dilakukan untuk membodohi plasma. Dan, saat beberapa “orang dalam” sadar bahwa perusahaan melakukan kebohongan, bocorlah rahasia. Lalu, informasi menjadi provokator yang menggerakkan air bah menjadi kekuatan dahsyat. Usaha pun tumbang kocar-kacir.


 


 


 


Kemitraan Bangkit


Kampung Gedungrejo Sakti, Kecamatan Penawar Aji, Rabu ( 27-1). Koperasi Serbausaha Sejahtera Bersama menggelar hajat; Peletakan batu pertama pembangunan gedung sebagai markas utama kegiatan koperasi itu. Meski berlabel “serbausaha”, tampaknya


koperasi itu akan fokus kepada usaha agroindustri. Mereka berkomitmen dan menggandeng PTP Nusantara VII untuk memulai usaha.


Ketua Koperasi Serbausaha Sejahtera Bersama Mustopa mengatakan terbentuknya koperasi yang dipimpinnya, meskipun baru berdiri dua tahun, sudah cukup produktif. “Modal awal kami dari simpanan pokok anggota Rp50 ribu per anggota. Simpanan wajib Rp5.000 per bulan. Tetapi, dengan usaha keras, aset kami cukup lumayan. Kami sudah punya satu unit ekskavator senilai Rp600 juta, kendaraan operasional, beberapa komputer, dan aset lain. Ditambah nanti gedung yang akan kami bangun ini,” kata Mustopa, saat peletakan batu pertama pembangunan gedung koperasi.


Soal kerja sama koperasi dengan PTP Nusantara VII, BUMN perkebunan yang bermarkas di Bandar Lampung, Kepala Urusan Kemitraan PTP Nusantara VII Syaiful Rasyid mengatakan pihaknya siap bermitra. Ia menambahkan program revitalisasi perkebunan sudah diawali dengan mengadakan survei pendahuluan. “Setelah survei pendahuluan, kami tindaklanjuti dengan studi kelayakan yang dilakukan lembaga independen dalam, hal ini pusat penelitian kelapa sawit (PPKS) Medan,” kata dia.


Dari hasil survei PPKS Medan, untuk wilayah Rawapitu, kata Syaiful, layak untuk perkebunan kelapa sawit. Sedangkan di wilayah Kecamatan Gedungaji belum dinyatakan layak karena arealnya masih tergenang air. “Supaya layak harus terlebih dulu dibuat tanggul-tangul sistem irigasinya untuk pengeringan lahan.”


Tindak lanjut dari studi kelayakan ini, kata dia, pihaknya sudah mengadakan sosialisasi untuk program revitalisasi dan sosialisasi di sembilan kampung. “Yang disosialisasikan ini syarat-syarat calon petani peserta, keberadaan petani, dan keberadaan koperasi.”


Pola yang dianut dari revitalisasi ini menggunakan pola satu manajemen. Maksudnya, pegelolaan tanaman mulai dari pendataan lahan petani, pemberkasan, dilanjutkan dengan perjanjian. “Perjanjian ini, perjanjian antara petani dan koperasi, lalu koperasi dan PTPN VII, dan diketahui oleh bupati,” kata dia.


Menurut dia, dalam program revitalisasi ini, rencananya pembangunan di Rawa Pitu sekitar 10 ribu hektare yang akan dibangun dalam beberapa tahap. “Ke depan kami akan bangun pabrik juga untuk mengantisipasi panen kelapa sawit, supaya nanti petani menjual hasil panenan lebih dekat, enak penyetoran hasil panenannya dalam pengelolaannya.”


Hingga kini, data yang sudah masuk sekitar 4.000 hektare. Luas ini masih berlanjut dan masih terus mendata calon plasma dalam rangka melengkapi persyaratan yang harus dipenuhi petani. Salah satu persyaratanya, pas foto, KTP, kartu keluarga, dan sertifikat tanah, dilengkapi surat pernyataan dan surat kuasa dari petani ke koperasi. Seterusnya dari koperasi ke PTPN VII.


Setelah semuanya lengkap, akan dibuat perjanjian untuk melengkapi proposal pengajuan dana kepada pihak bank sebagai pelaksana. “Tahap awal Maret 2010, kami adakan perjanjian. Tahap selanjutnya kami juga telah mengadakan pembibitan sekitar 40 hektare.”


Tentang keberanian membuka kerja sama kemitraan dengan petani, Syaiful mengatakan sudah menjadi kewajiban BUMN untuk ikut membangun bangsa, memberi kesejahteraan kepada masyarakat Lampung. “Kami punya tanggung jawab moral yang tinggi kepada rakyat. Kami percaya, kami yakin, rakyat juga pasti percaya kepada kami. Itu kunci utama keberhasilan usaha kita,” kata dia

Source :humas