Saturday, 19 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Visi PTPN VII  (Persero) : "Menjadi perusahaan agribisnis berbasis karet, kelapa sawit, teh dan tebu yang tangguh serta berkarakter global"

Achievements

IT Governance Award BUMN

Activity

April  2014
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Contact Us

pic

Polls

How Is My Site?

  • Good (33%, 3 Votes)
  • Bad (22%, 2 Votes)
  • No Comments (22%, 2 Votes)
  • Excellent (11%, 1 Votes)
  • Can Be Improved (12%, 1 Votes)

Total Voters: 9

Loading ... Loading ...

PTPN VII Memasuki Fase Pertumbuhan

13 April 2012

Direktur Utama PTPN VII Boyke Budiono saat menyampaikan program PTPN VII

PT Perkebunan Nusantara VII (Persero) ditargetkan dapat lepas landas
(take off) menuju fase pertumbuhan pada 2013, setelah berhasil
melakukan konsolidasi sejak tahun 2007. Proses konsolidasi PTPN VII
telah berjalan sesuai dengan jalur yang benar atau on the track
sehingga perusahaan pun tumbuh menggembirakan.

Pada tahun 2007 total aset PTPN VII sebesar Rp2,5 triliun, pada akhir
tahun 2011 sudah mencapai Rp6,7 triliun. Begitu juga pendapatan dari
sekitar Rp3 trilun pada 2007 bertumbuh menjadi Rp6,2 tiliun, dengan
tingkat kesehatan perusahaan dari kategori menjadi AAA.

Boyke juga menjelaskan dalam beberapa tahun terakhir PTPN VII terus
membukukan keuntungan meski setiap tahunnya terjadi fluktuasi atau
naik dan turun bergantung pada produksi komoditas andalan yang
dihasilkan. Untuk 2010, keuntungan mencapai Rp252 miliar dan tahun
2011 keuntungan sekitar Rp160 miliar.

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Ir. Boyke Budiono,
ketika berdialog dengan sejumlah pemimpin redaksi dan wartawan di
Kantor Direksi PTPN VII, Rabu (11/4), menganalogikan perkembangan PTPN
VII seperti pesawat terbang yang hendak take off. Periode 2007—2013,
BUMN perkebunan ini berada pada fase konsolidasi.

Pada fase tersebut, perusahaan membangun pondasi yang kuat dengan
melakukan pembenahan diberbagai bidang, seperti membangun budaya
perusahaan (corporate culture) yang baru, kode etik dan aturan main
(code of conduct), penerapan prinsip good corporate governance (GCG),
prosedur baku (SOP), sistem administrasi dan akuntansi, sistem sumber
daya manusia, dan sistem teknologi informasi.

“Kebun yang sudah tua umur tanamannya juga harus direhabilitasi,
diremajakan dan diganti yang muda. Pabrik yang tua juga direvitalisasi
dan ditingkatkan kapasitasnya,” ujar Boyke, yang baru sebulan menjadi
dirut PTPN VII, menggantikan Andi Punoko.

Setelah konsolidasi itu selesai pada 2013, selanjutnya tahun 2014 PTPN
VII harus maju ke depan memasuki tahapan pertumbuhan. Didampingi
Sekretaris Perusahaan Sonny Soediastanto dan Kaur Humas PTPN VII
Sandri R. Kamil, Dirut PTPN VII itu menegaskan fase pertumbuhan
dilakukan melalui dalam dua bentuk, yakni secara vertikal dan
horizontal.

Pertumbuhan vertikal antara lain menggarap industri hilir sehingga
memberikan nilai tambah dari produk PTPN. “Seperti membangun pabrik
mentega, sabun, dan lainnya. Sehingga bisa lebih menyerap tenaga
kerja. Apalagi pasar produk ini masih terbuka lebar.”

Sedangkan pertumbuhan horizontal, PTPN VII akan memperluas areal
perkebunan dengan memanfaatkan lahan tidur, semisal hutan tanaman
industri yang ada di Lampung, Sumatera, Selatan, dan Bengkulu.

“Termasuk membuka bisnis baru yang terkait dengan perkebunan, seperti
bisnis terpasu pakan ternak, sapi potong, pabrik kompos, sampai rumah
potong hewan. “Kita punya potensi bahan baku pakan ternak yang sangat
besar seperti pucuk tebu dan pelepah sawit,” ujarnya.
Sasaran Tahun 2012

Menurut Boyke, sasaran yang ingin dicapai PTPN VII pada tahun 2012
adalah total pendapatan naik dari Rp4,898 triliun pada tahun 2011
menjadi Rp6,208 triliun atau naik 27 persen, laba setelah pajak dari
Rp166,485 miliar menjadi Rp304,170 miliar, dan total aset naik dari
Rp5,757 triliun menjadi Rp6,703 trilun.
Secara lebih rinci Boyke Budiono menguraikan untuk komoditas karet
pada tahun 2012 sasarannya produktivitas naik dari 1.600 kg/ha/tahun
menjadi 1.700 kg. Kemudian produk olah RSS naik dari 4.719 ton menjadi
7.118 ton dan SIR dari 62.399 ton menjadi 74.766 ton dengan muta
standar SNI.
Sementara untuk komoditas sawit, produktivitas naik dari 20
ton/ha/tahun menjadi 20,50 ton, dengan produk minyak sawit naik dari
198.463 ton menjadi 262.598 ton, inti sawit dari 43.709 ton menjadi
57.025 ton, rendemen dari rata-rata 22,54 persen menjadi 22,70 persen,
dan mutu (persentase ALB) dari 4,90 menjadi 4,25.
Kemudian untuk komoditas teh, produktivitas naik dari 3 ton teh kering
per ha per tahun menjadi 3,15 ton dengan produk dari 4.405 ton menjadi
4.504 ton terdiri atas 55 peren mutu I dan 35 persen mutu II. “Syukur
alhmadulillah, saat ini produktivitas teh kita yang tertinggi di
Indonesia, yaitu di atas 3 ton per ha per tahun, sementara di
kebun-kebun lain rata-rata baru 2,3 ton,” ujarnya.
Sedangkan untuk komoditas tebu, sasarannya produktivitas naik dari 62
ton per ha per tahun pada 2011 menjadi 69 ton pada 2012, dengan
rendemen dari 6,78 persen menjadi 8,1 persen. Produk gula juga naik
dari 90.373 ton menjadi 127.498 ton. “Pada tahun ini juga ada
perluasan kebun sendiri dari 16.142 ha menjadi 18.506 ha, yaitu dengan
dibukanya kebun baru di Pagardewa, Tulangbawang,” tambahnya.
Boyke menjelaskan revitalisasi kapital yang dilakukan sejak tahun 2007
hingga 2011 telah menghasilkan banyak hal. Di bidang SDM, terjadi
peningkatan kompetensi dan kualitas serta tertanamnya nilai-nilai baru
yang tertuang dalam ProMOSI, yaitu produktivitas, mutu, organisasi,
servis, dan inovasi.

Di bidang tanaman telah dilakukan replanting dipercepat, rekondisi
tanaman produktif, perbaikan kesuburan tanah, dan perbaikan
lingkungan. Sejak tahun 2008 hingga 2011 karet yang diremajakan
sebanyak 15.116 ha, sementara sawit sebanyak 12.155 ha. “Kita
menginginkan kebun kita prima,” katanya.
Bahkan, dengan perlakukan dan norma teknis yang tepat dan benar, di
kebun terjadi perubahan yang sangat membanggakan, antara lain masa TBM
karet rata-rata menjadi 4 tahun dari sebelumnya 5 tahun dan masa TBM
sawit menjadi rata-rata 3 tahun dari sebelumnya rata-rata 3 tahun 6
bulan. “Produktivitas per hekternya pun naik secara signifikan,”
ujarnya.

Di pabrik juga dilakukan revitalisasi dengan perbaikan dan penambahan
kapasitas olah, baik pada pabrik karet, gula, maupun teh. PPKR yang
dinaikkan kapasitasnya adalah Tebenan dan Pematang kiwah dari 30 ton
karet kering per hari menjadi 40 ton; Baturaja dari 20 ton menjadi 40
ton; dan pembangunan pabrik baru di Tulungbuyut dengan kapasitas 40
ton.

Kapasitas pabrik gula Bungamayang juga dinaikkan dari 5.250 ton tebu
per hari (TCD) menjadi 7.000 TCD dan pabrik Cintamanis dari 4.250 ton
menjadi 5.500. Sedangkan pabrik teh Pagaralam kapasitasnya juga
ditambah dari 40 ton menjadi 80 ton per hari.
“Kemudian di bidang keuangan, selama lima tahun terakhir likuiditasnya
baik dan struktur keuangan sangat menunjang. Dengan modal yang telah
kita miliki tersebut, kita tinggal melakukan capital driven sehingga
lima tahun ke depan kita sudah menjadi perusahaan yang tangguh, terus
tumbuh, dan berkarakter global,” tandasnya.



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Your email address will not be published. Required fields are marked *

: *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>