(Indonesia) BUMN tak lagi Kelola Dana PKBL
3 July 2012Padang, Padek—Kementerian BUMN Dahlan Iskan menekankan bahwa pengelolaan dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) tidak akan dikelola lagi perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tapi dikerjasamakan dengan lembaga spesialis mengelola pengusaha kecil.
Demikian dikemukakan Meneg BUMN Dahlan Iskan ketika berdialog dengan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sumbar, tokoh pers pemimpin redaksi dan sejumlah wartawan, di ruang rapat lantai I PT Semen Padang, Indarung, kemarin (1/7).
”Kita memang sedang menggagas pengelolaan dana PKBL tak lagi dikelola BUMN. Kebijakan ini guna meringankan beban kerja BUMN, sehingga mereka bisa fokus mengerjakan tugas utamanya sesuai bidang masing-masing. Apalagi mereka juga tidak memiliki keahlian menjalankan program pembinaan tersebut,” kata Dahlan.
PT Semen Padang misalnya. Sewaktu merekrut pengawai, pastilah tidak ada merekrut pegawai dengan kompetensi membina pengusaha kecil atau membuat pupuk. Namun, pegawai memiliki kompetensi bisa membuat semen dan mesin. Artinya, bisa tetap dipaksakan mengelola di luar bidang kerjanya bakal menambahk beban kerja secara psikis.
”Makanya, perlu dikerjasamakan dengan lembaga bisa dipercaya, memiliki reputasi baik, dan berpengalaman. Apakah berbentuk lembaga swadaya masyarakat (LSM), terpenting lembaga itu spesialis membina pengusaha mikro, kecil, menengah,” jelas Dahlan dalam dialog dimoderatori Ketua PWI Sumbar, Basril Basyar.
Keberadaan lembaga tersebut, tambah Dahlan, secara tidak langsung memudahkan BUMN dalam menjalankan kerjanya. Apalagi PKBL ini harus dilaksanakanBUMN. Bila tidak, pastilah akan melanggar aturan juga nantinya.
”Kalau tetap BUMN mengelolanya, serba salah juga nantinya. Bila gagal, bisa bermasalah juga nantinya. Begitu juga kalau berhasil, bisa-bisa BUMN tak lagi mengelola tugas utamanya,” ujar Dahlan yang juga mantan Dirut PT PLN Persero ini.
Dahlan juga berjanji melibatkan PWI dalam mencari lembaga khusus menangani PKBL ini. ”Kita akan libatkan PWI dalam mencari lembaga khusus menagani dana PBKL ini. Kalau PWI menangani tentu tidak pada tempatnya juga, sebab bukan keahliannya. Bisa-bisa merusak reputasi PWI nantinya,” kata Dahlan dalam pertemuan juga dihadiri COO Riau Pos Group Padang, Sutan Zaili Asril, tokoh pers Sumbar Basril Djabar.
Menyikapi pertanyaan pengurus PWI Sumbar Eko Yance soal kemungkinan dana corporate social responsibility (CRS) BUMN digabungkan untuk selanjutnya penggunaannya difokuskan untuk satu lokasi atau tempat, menurut Dahlan, persoalan itu sulit dilakukan. Pasalnya, penggunaan dana CSR sudah jelas peruntukkannya, bagi masyarakat terkena langsung aktivitas perusahaan tersebut.
”Kalau dikumpulkan selanjutnya dilakukan di daerah lain, tentu masyarakat sekitar pabrik akan keberatan juga. Selain itu, BUMN terkena sanksi juga nantinya, karena peruntukkan tak tepat. Begitu juga kalau melibatkan PWI, bisa kurang baik juga dampaknya nanti,” jelas Dahlan.
Pers Bebas Intervensi
Dalam pertemuan belangsung santai mulai pukul 09.45 tersebut, seperti biasanya Dahlan bersepatu ket. Ketika Basril Basyar mempersilakan Dahlan untuk memberikan pengarahan, Dahlan malah berbicara singkat. Tak lebih lima menit. ”Saya tidak ingin memberikan pengarahan. Jadi, saya tidak perlu bicara apa-apa,” katanya singkat.
Tak ayal peserta dialog pun dibuat terpana. ”Wartawan itu tidak bisa diatur, tidak bisa diarahkan, bahkan digiring. Mereka mempunyai arahan sendiri,” ungkap Dahlan lagi.
Begitu pula terhadap seniman. Mereka sama seperti wartawan tidak bisa diarahkan. Dahlan mengaku sama sekali tidak berhak mencampuri. Termasuk kepada pengarang atau penulis yang membuat novel karena terinspirasi dari kisah dirinya. Kisah ”Sepatu Dahlan” yang memakai karakter ketokohannya, dibiarkan Dahlan mengalir dan berjalan seperti apa adanya mau pengarang.
”Saya tidak bisa intervensi, saya tidak mencampuri. Kalau ada pengarang yang ingin menulis novel terinspirasi dari saya, bagaimana pun saya tidak bisa melarang, juga tidak mengarahkan. Semuanya sesuai dengan keinginan penulisnya,” jelas Dahlan. (*)

Kirim Komentar
Baca Komentar ( 0 )