Kamis, 24 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Prestasi

Kegiatan

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Jajak

Sejauh mana Portal Publik PTPN V dapat membantu anda dalam mencari informasi tentang PT Perkebunan Nusantara V?

View Results

Loading ... Loading ...

Minyak Sawit Sebagai Bahan Baku Pelumas Sintetis

29 Maret 2012


Pada umumnya produk-produk yang disebut “synthetic” mempunyai persepsi yang negatif dengan persepsi murahan, imitasi, atau buatan yang tidak sama dengan barang yang sesungguhnya. Tetapi, penggunaan kata “synthetic lubricant” mempunyai makna superior dibandingkan dengan petroleum lubricant, yang merupakan hasil fraksinasi dari minyak bumi.  Bahkan di pasaran synthetic lubricant mempunyai makna premium. Salah satu dari bahan utama  pelumas sintetis adalah ester. Senyawa ester secara sederhana dapat didefinisikan sebagai hasil reaksi antara asam dan alcohol. Minyak nabati adalah salah satu bentuk ester yang diperoleh di alam. Senyawa ini sudah digunakan sebagai pelumas sejak ribuan tahun yang lalu. Penggunaan minyak nabati secara langsung sebagai pelumas tidak memuaskan karena berbagai factor, misalnya ketidakstabilan terhadap suhu dan oksidasi. Oleh karena itu untuk mendapatkan base stock biolubricant  diperlukan modifikasi pada senyawa ester ini.

Modifikasi senyawa minyak nabati ini dilakukan dengan mereaksikan ikatan rangkap yang terdapat pada senyawa tersebut untuk mendapatkan sifat-sifat pelumas yang diinginkan. Karena berbahan baku bahan tumbuh-tumbuhan, pelumas sintetis jenis ini biasa disebut dengan biolubricant. Pembuatan base stock dari biolubricant dari minyak nabati dapat dilakukan melalui epoksidasi minyak nabati, yaitu pembuatan gugus epoksi yang mudah bereaksi dengan senyawa asam lemak pada reaksi transesterifikasi sehingga membentuk molekul baru yang lebih besar dan bercabang. Dengan proses ini biolubricant base stock yang dihasilkan dapat didesain untuk mendapatkan sifat fisik dan sifat kegunaan minyak pelumas (misalnya: flash point, pour point, viskositas, indek viskositas) yang diinginkan. Keunggulan dari minyak pelumas berbahan baku minyak nabati ini, tidak seperti pelumas yang dibuat dari petroleum base oil, pelumas dari minyak nabati ini mempunyai sifat ramah lingkungan, yaitu  biodegradable dan tidak beracun. Dengan sifat tersebut  pelumas ini merupakan pelumas yang sangat sempurna untuk aplikasi habis pakai terbuang ke lingkungan, seperti pemakaian pada chain saw dan milling.

Sehubungan dengan semakin meningkatnya kesadaran dan keprihatinan masyarakat international terhadap polusi lingkungan yang disebabkan oleh pemakaian pelumas dari minyak bumi, permintaan dunia terhadap pelumas yang ramah lingkungan akan terus menuju kepada kecenderungan yang semakin meningkat. Pelumas dari minyak bumi menggunakan 1,1% dari total produksi minyak bumi dunia yang setara dengan 40 juta ton/tahun. Penggunaan pelumas tersebut meliputi kebutuhan untuk pelumsan  mesin 48%, proses oil 15,3%, hydrolic oil 10,2% penggunaan lainya 26,5%. Kebutuhan akan pelumas yang besar ini memberikan peluang bagi biolubricant sebagai alternatif substitusinya.

Di negara-negara yang tinggi kesadarannya terhadap pentingnya kelestarian lingkungan, penggunaan biolubricant ini didorong dengan kebijakan-kebijakan pemerintah. Di Jerman, Austria dan Swis penggunaan pelumas minyak bumi dilarang di kawasan jalur air tanah, dan di dalam hutan. Di Gothenburg, Swedia telah ditetapkan suatu program pembimbingan dan teknologi untuk produk-produk pelumas yang mendorong industry manufaktur beralih kepada biolubricant, dengan proyek Clean Lubricant yang merupakan kerjasama antara pemerintah kota  dan industry-industri. Tidak ketinggalan di Italia, Belgia, Portugal serta Belanda menerapakan aturan-aturan yang mendorong penggunana pelumas yang dibuat dari minyak nabati. Sementara di Amerika Serikat departemen pertaniannya mengusulkan penetapan petunjuk  penandaan untuk produk-produk  yang mengandung bio-based produk termasuk biolubricant dan mendapat  federal procurement preference.

Minyak nabati yang sesuai untuk digunakan sebagai bahan baku biolubricant adalah minyak nabati yang  tinggi kandunagan asam lemak dengan ikatan rangkap. Minyak sawit menjadi salah satu sumber bahan baku biolubricant yang sesuai karena kandungan oleinnya yang tinggi. Indonesia merupakan Negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia dengan luas areal 7,9 juta hektar dan produksi mencapai 21 juta ton per tahun. Pada tahun 2008/09 Indonesia menguasai 46% global produksi dan 47% ekspor dunia. Dengan posisi produksi dan penjualan minyak sawit seperti ini, Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dalam mengembangkan produk-produk hilir dari minyak sawit. Dibandingkan dengan penjualan bahan mentah sawit mentah ( crude palm oil – CPO) ke luar negeri, pengembangan produksi dan penjualan  produk hilir sawit dapat lebih meningkatkan nilai tambah atau menurut istilah Bapak Habibie meningkatkan “neraca jam kerja” atau dengan kata lain merupakan “penjualan jam kerja”, sehingga penjualan produk hilir memberikan kontribusi yang lebih baik bagi perekonomian nasional. Biolubricant menjadi salah satu pilihan yang perlu dikembangkan.

Menyikapi prospek pelumas berbahan baku minyak nabati dan potensi Indonesia dalam produski minyak mentah sawit (CPO), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) secara intensif melakukan pengkajian dan pengembangan proses pembuatan biolubricant yang sesuai dengan bahan baku minyak sawit yang melimpah di Indonesia.
Last Updated on Monday, 26 March 2012 09:41
Written by Dr. Wahyu B. Setianto
Monday, 26 March 2012 03:33
http://www.infosawit.com/index.php?option=com_content&view=article&id=123:minyak-sawit-sebagai-bahan-baku-pelumas-sintetis&catid=48:klik-teknologi



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

: *


*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>