Sabtu, 19 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Prestasi

Kegiatan

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Jajak

Sejauh mana Portal Publik PTPN V dapat membantu anda dalam mencari informasi tentang PT Perkebunan Nusantara V?

View Results

Loading ... Loading ...

PERKEMBANGAN PASAR DAN PROSPEK AGRIBISNIS KARET DI INDONESIA

8 November 2011



Chairil Anwar (Pusat Penelitian Karet)
* Direktur Pusat Penelitian Karet, Medan. 
Ringkasan
Perkembangan pasar karet alam dalam kurun waktu tiga tahun terakhir relatif kondusif bagi produsen, yang ditunjukan oleh tingkat harga yang relatif  tinggi. Hal tersebut dikarenakan permintaan yang terus meningkat, terutama dari China, India, Brazil dan negara-negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia-Pasifik. Menurut IRSG, dalam studi Rubber Eco-Project (2005), diperkirakan akan terjadi kekurangan pasokan karet alam dalam dua dekade ke depan. Karena itu pada kurun waktu 2006-2025, diperkirakan harga karet alam akan stabil sekitar US $ 2.00/kg.
Dalam jangka pendek, pertumbuhan ekonomi global tahun 2006 dan 2007 diperkirakan masih cukup baik, hal tersebut dapat terjadi jika kenaikan harga minyak bumi, inflasi dan kenaikan suku bunga tidak meperlambat pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang masih tetap merupakan lokomotif ekonomi dunia. Perkembangan ekonomi global tentunya akan mempengaruhi permintaan karet alam dan selanjutnya akan mempengaruhi harga. Konsumsi karet alam pada tahun 2005 sebesar 8.74 juta ton (pertumbuhan 5.1%), sementara itu produksi hanya sebesar 8.68 juta ton (pertumbuhan 0.4%). Harga karet alam masih tetap mempunyai tendensi menaik pada periode semester ke dua tahun 2006, hal tersebut dikarenakan permintaan masih lebih besar dari penawaran dan pertumbuhan ekonomi global, terutama China, Amerika Serikat dan Jepang masih ”firm and modest”.  Jika ”investment fund” dan spekulator melakukan aksi ”profit taking” pada pasar berjangka karet alam (TOCOM), maka akan terjadi lonjakan naik-turun harga karet alam yang relatif cukup besar.
Harga karet alam yang relatif tinggi saat ini harus dijadikan momentum bagi Indonesia, untuk mendorong percepatan peremajaan karet yang kurang produktif dengan menggunakan klon-klon unggul dan perbaikan teknologi budidaya lainnya. Pengambangan agribisnis karet di Indonesia perlu dilakukan dengan cermat dengan melalui perencanaan dan persiapan yang matang, antara lain dengan penyedian kredit peremajaan yang layak untuk karet rakyat, penyedian bahan tanam karet klon unggul dengan persiapan 1-1,5 tahun sebelumnya, pola kemitraan peremajaan, aspek produksi, pengolahan dan pemasaran dengan perkebunan besar negara/swasta.  Pada tingkat kebijakan nasional perlu adanya lembaga (dewan komoditas/karet) yang membantu pengembangan industri karet di Indonesia dalam semua aspek, mulai dari produksi, pengolahan bahan baku, industri produk karet, serta pemasaran karet dan produk karet.  Pada tingkat implementasi perlu organisasi pelaksana yang kompeten dan aturan main yang jelas, dalam hal ini tentunya juga terkait dengan adanya otonomi daerah dan perlunya partsipasi/komitmen yang kuat dari petani/pekebun karet.
1 Disampaikan pada Lokakarya Budidaya Tanaman Karet, pada tanggal 4-6 September 2006 di   Medan, diselenggarakan oleh Balai Penelitian Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet.
PENDAHULUAN
Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia.  Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 2.0 juta ton pada tahun 2005. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada semester pertama tahun 2006 mencapai US$ 2.0 milyar, dan diperkirakan nilai ekspor karet pada tahun 2006 akan mencapai US $ 4,2 milyar (Kompas, 2006).
Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Luas area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.  Diantaranya 85% merupakan perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar milik swasta.  Produksi karet secara nasional pada tahun 2005 mencapai 2.2 juta ton. Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan melakukan peremajaan dan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani serta lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet.
Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatakan pendapatan petani melalui perluasan tanaman karet dan peremajaaan kebun bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan.  Guna mendukung hal ini, perlu diadakan bantuan yang bisa memberikan modal bagi petani atau pekebun swasta untuk membiayai pembangunan kebun karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif.
Pada makalah ini disajikan, (i) perkembangan pasar komoditi karet alam dilihat dari permintaan dan penawaran karet alam sampai dengan tahun 2035, dan (ii) prospek agribisnis karet dilihat dari klon-klon karet rekomendasi dengan potensi produksinya, kebutuhan investasi dan kelayakan finansial pengusahaan
kebun karet, serta hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam rangka pengembangan agribisnis karet di Indonesia.
PERKEMBANGAN PASAR KARET ALAM
Karet merupakan kebutuhan yang vital bagi kehidupan manusia sehari­hari, hal ini terkait dengan mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban kendaraan, conveyor belt, sabuk transmisi, dock fender, sepatu dan sandal karet. Kebutuhan karet alam maupun karet sintetik terus meningkat sejalan dengan meningkatnya standar hidup manusia. Kebutuhan karet sintetik relatif lebih mudah dipenuhi karena sumber bahan baku relatif tersedia walaupun harganya mahal, akan tetapi karet alam dikonsumsi sebagai bahan baku industri tetapi diproduksi sebagai komoditi perkebunan.
Secara fundamental harga karet alam dipengaruhi oleh permintaan (konsumsi) dan penawaran (produksi) serta stock/cadangan, dan masing­masing faktor tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti yang terlihat pada Gambar 1.
a. Pertumbuhan Konsumsi Karet Alam
Konsumsi karet alam dunia dalam dua dekade terakhir meningkat secara drastis, walaupun terjadi resesi ekonomi dunia pada awal tahun 1980-an dan krisis ekonomi Asia pada tahun 1997/1998.  Selama tahun 1980-2005 konsumsi karet alam mengalami pertumbuhan yang menurun dan stagnan di Eropa, dan di Jepang pada periode 1990 juga stagnan, akan tetapi terjadi pertumbuhan yang tinggi seperti China dan negara berkembang lainnya (IRSG, 2004a). Gambaran keseluruhan mengenai perkembangan konsumsi karet alam untuk tahun 1980­2005 dapat dilihat pada Tabel 1.
Sumber: Anwar (2005). Gambar 1. Faktor-faktor Fundamental yang Mempengaruhi Harga Karet Alam
Pertumbuhan ekonomi dunia yang pesat pada sepuluh tahun terakhir, terutama China dan beberapa negara kawasan Asia-Pasifik dan Amerika Latin seperti India, Korea Selatan dan Brazil, memberi dampak pertumbuhan permintaan karet alam yang cukup tinggi, walaupun pertumbuhan permintaan karet di negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang relatif stagnan.
Menurut International Rubber Study Group (IRSG), diperkirakan akan terjadi kekurangan pasokan karet alam pada periode dua dekade ke depan. Hal ini menjadi kekuatiran pihak konsumen, terutama pabrik-pabrik ban seperti Bridgestone, Goodyear dan Michelin.  Sehingga pada tahun 2004, IRSG membentuk Task Force Rubber Eco Project (REP) untuk melakukan studi tentang permintaan dan penawaran karet sampai dengan tahun 2035.  Hasil studi REP meyatakan bahwa permintaan karet alam dan sintetik dunia pada tahun 2035 adalah sebesar 31.3 juta ton untuk industri ban dan non ban, dan 15 juta ton diantaranya adalah karet alam.  Produksi karet alam pada tahun 2005 diperkirakan 8.5 juta ton. Dari studi ini diproyeksikan pertumbuhan produksi Indonesia akan mencapai 3% per tahun, sedangkan Thailand hanya 1% dan
Malaysia -2%.  Pertumbuhan produksi Indonesia ini dapat dicapai melalui peremajaan atau penaman baru karet yang cukup luas, dengan perkiraan produksi pada tahun 2020 sebesar 3.5 juta ton dan tahun 2035 sebesar 5.1 juta ton.
Tabel 1.           Perkembangan Permintaan Karet Alam berdasarkan Negara/Regional Konsumen, Tahun 1980-2005

Text Box: Negara /Regional Konsumen 	Konsumsi (1000 ton), tahun 	Pertumbuhan/tahun (%)  	1980 	1990 	2000 	2005 	1980-1990 	1990-2000 	2000-2005  Amerika Serikat Eropa China  Jepang Lainnya 	585 1356 340 427 1062 	808 1256 600 677 1839 	1191 1483 1080 752 2834 	1330 1558 2085 796 2976 	3.81 -0.74 7.65 5.85 7.32 	4.74 1.81 8.00 1.11 5.41 	2.33 1.01 18.61 1.17 1.00  Total 	3770 	5180 	7340 	8745 	3.74 	4.17 	3.83

Sumber data: International Rubber Study Group (IRSG).
b. Pertumbuhan Produksi Karet Alam
Penawaran karet alam dunia meningkat lebih dari tiga persen per tahun dalam dua dekade terakhir, dimana mencapai 8.81 juta ton pada tahun 2005 (Tabel 2). Pertumbuhan tersebut berasal dari negara produsen Thailand, Indonesia, Malaysia, India, China dan lainnya.  Produksi karet Thailand menjadi dua kali lipat selama periode 1980-1990 dan 1990-2000. Juga India dan China pada periode yang sama akan tetapi negara tersebut masih sebagai net importir untuk karet alam. Malaysia sejak tahun 1991 tidak lagi menjadi produsen utama karet alam dunia tetapi digeser oleh Thailand, sementara itu Indonesia tetap sebagai negara produsen kedua.  Thailand memproduksi lebih dari 33% karet alam dunia pada tahun 2005, sementara Indonesia dengan pangsa produksi 26% dan Malaysia tinggal 13%.
Tabel 2. Perkembangan Produksi  Karet Alam berdasarkan Produsen Utama Dunia, Tahun 1980-2005

Text Box: Negara Produsen 	Produksi ('000 ton), tahun 	Pertumbuhan/tahun (%)  	1980 	1990 	2000 	2005 	1980-1990 	1990-2000 	2000-2005  Thailand Indonesia  Malaysia India China  Lainnya 	501 1020 1530 155 113 526 	1271 1262 1291 324 264 798 	2346 1556 615 629 445 1219 	2900 2270 1132 772 575 1164 	17.08 2.64 -1.74 12.11 14.85 5.75 	9.4 2.59 -5.82 10.46 7.62 5.86 	4.72 9.18 16.81 4.55 5.84 -0.90  Total 	3845 	5210 	6810 	8813 	3.94 	3.41 	5.88

Sumber data: International Rubber Study Group (IRSG).
c. Keseimbangan Penawaran dan Permintaan Karet Alam Dunia
Bedasarkan data IRSG (2004a), ketakseimbangan (imbalance) penawaran dan permintaan karet alam mulai terlihat sejak tahun 1900-an (surplus/defisit dari penawaran karet alam), dan berpengaruh terhadap cadangan (stock) karet alam dunia. Secara teoritis, harga diharapkan akan bereaksi dengan ketakseimbangan penawaran dan permintaan.  Dimana kenaikan harga terjadi karena defisit penawaran dan turunnya harga karena surplus penawaran, akan tetapi hipotesis tersebut tidak didukung kenyataan di lapangan seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 2.  Hal tersebut tentunya akan menyulitkan bagi pelaku pasar dalam mengambil keputusan.
Menurut Ng (1986), tidak berpengaruhnya surplus/defisit pasokan dan cadangan terhadap harga karet dunia, disebabkan oleh adanya imperfect knowledge terhadap penawaran dan permintaan global karet alam  pada waktu tertentu (adanya senjang waktu karena masalah akses informasi) serta adanya kegiatan spekulasi dan hedging pada kegiatan pemasaran karet alam dunia seperti forward purchase, future contract, longterm arrangement, dan sebagainya.
Balancedan Stock (000Ton)
3000
2000
1000
0
-1000
500
400 300 200 100 0
Harga SMR 20(M cent/Kg)
76788082 848688 90929496 980002 04
Tahun
Sumber data: International Rubber Study Group (IRSG), 1975-2004.
Gambar 2 .      Keseimbangan Penawaran dan Permintaan (Balance), Cadangan (Stock), dan Harga Karet Alam, Tahun 1975 – 2004
d. Perkembangan Harga Karet Alam
Karet sintetik sebagai produk hasil industri harganya relatif lebih stabil dibandingkan dengan karet alam. Selain itu, karet sintetik yang umumnya diproduksi dan dikonsumsi negara industri, harganya cenderung naik sejalan dengan harga bahan baku, kenaikan biaya produksi dan tingkat inflasi dari negara produsen. Hal ini sangat berbeda dengan harga karet alam yang berfluktuasi yang dipengaruhi oleh kondisi alam (cuaca/iklim),  nilai tukar dan perkembangan ekonomi negara konsumen.
Untuk menghindari kerugian karena gejolak harga karet alam, pasar berjangka (future trading) karet menyediakan sarana dan mekanisme lindung nilai (hedging). Pasar berjangka karet alam yang saat ini menjadi panutan/pedoman dunia adalah Singapura (SICOM) dan Jepang (TOCOM), serta yang relatif baru di Thailand (AFET) dan China (SHFE). Sedangkan pasar fisik (physical/spot) karet alam, selain di Singapura dan Jepang juga terdapat di negara produsen seperti Malaysia dan Thailand serta di negara-negara konsumen seperti di Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. Dari 35 mutu karet
alam yang diperdagangkan dunia secara fisik, hanya tiga mutu (RSS 1, RSS 3, TSR 20) yang dijadikan mata dagangan di pasar berjangka karet. Pasar atau bursa berjangka disebut juga pasar yang terorganisasi dan harga penyerahan hingga 12 bulan ke depan yang terbentuk disebarluaskan. Pada pasar fisik umumnya hanya harga hingga penyerahan tiga bulan kedepan yang terbentuk (BPEN, 2003).
Pada pasar karet global, Singapura dan Kuala Lumpur dikenal sebagai pasar dari kawasan produsen. Sementara itu London, New York dan Tokyo sebagai pasar dari kawasan konsumen.  Karena perbedaan waktu antara Tokyo (Jepang) dengan negara-negara produsen utama karet hanya sekitar 1- 2 jam, sehingga pasar dari dua kawasan tersebut memperlihatkan pergerakan yang sama. Jepang (Tokyo dan Osaka) sebagai salah satu negara konsumen utama karet alam, kadang-kadang menstimulasi pasar di negara konsumen (Yoko, 2004). Beberapa faktor yang mempengaruhi tren harga karet alam adalah: pasar luar negeri, permintaan dan penawaran (ekspor dan cadangan), situasi politik dan ekonomi internasional, tren nilai tukar, harga karet sintetik (harga SBR dan harga minyak bumi), pertumbuhan ekonomi global (konsumen utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang dan China) dan industri otomotif.
Walaupun relatif kecil, harga karet sintetik juga cenderung fluktuatif seperti karet alam (Gambar 3). Sebelum tahun 1990 fluktuasi harga karet sintetik disebabkan oleh kenaikan biaya produksi dan inflasi, setelah tahun 1990 fluktuasi harga karet sintetik lebih banyak dipengaruhi oleh  perubahan harga minyak mentah. Isu utama yang berhubungan dengan industri karet sintetik adalah harga minyak mentah, dan dampaknya terhadap harga dan permintaan karet sintetik. Menurut IRSG (2004b), apabila terjadi kenaikan atau penurunan harga minyak mentah maka dampaknya terhadap industri hilir pada pasar petrokimia, dalam hal ini adalah pasar butadiene dan stryrene, dan dampak tersebut baru terlihat 2-3 bulan kemudian.
HargaKaret Alam dan Sintek(US$/Ton)
1800 1600 1400 1200 1000 800 600
35 30 25 20 15 10 5
Harga Minyak Bumi(US$/Barrel)
1975 1980 1985 1990 1995 2000
Sumber data: IRSG, 2004b dan US-DOE, 2004.
Gambar 3.       Hubungan Antara Harga Karet Alam dan Sintetik dengan Harga Minyak Mentah, Tahun 1975-2003
Pada Gambar 3 terlihat bahwa pada tahun 1979-1980 dan 1984-1986, harga karet alam lebih tinggi 10-20% daripada harga karet sintetik SBR (Styrene Butadiene Rubber). Akan tetapi pada tahun-tahun lainnya harga karet alam didiskon lebih rendah daripada harga SBR sebagai refleksi tekanan yang dialami oleh kondisi pasar karet alam.  Perbedaan harga antara karet alam dengan karet sintetik menjadi faktor kunci yang mempengaruhi substitusi antara keduanya, disamping besarnya tingkat cadangan yang tersedia.  Menurut Honggokusumo, cadangan yang dipunyai pabrik ban (afloat stock) dan kualitas ban akan mempunyai peran yang besar pada keputusan perusahaan apakah memakai lebih besar karet alam atau karet sintetik (IRSG, 2004b).
Menurut Budiman (2004), permintaan karet sintetik akan terus tumbuh didorong oleh perkembangan industri automotif dan ban di China. Karet sintetik yang dominan digunakan oleh industri ban adalah SBR dan BR.  Seperti halnya karet alam, secara ekonomi karet sintetik adalah derived demand dari permintaan ban, dimana dari sisi pasokan diturunkan dari monomernya atau cadangan dari styrene dan butadiene.  Lebih lanjut dikatakan, secara ekonomi permintaan karet alam dan sintetik ditentukan oleh kondisi sekarang dan
perkembangan ke depan dari  industri otomotif.  Dengan perkembangan ekonomi yang pesat dan peningkatan standar kehidupan dari negara-negara yang padat penduduknya, maka permintaan semua jenis ban akan meningkat di masa yang akan datang.
Sejak pertengahan tahun 2002 harga karet mencapai harga US$ 1.00/kg, dan sampai sekarang ini telah mencapai US$ 2.20/kg untuk harga SIR 20 di SICOM Singapura. Diperkirakan harga akan stabil sekitar US$ 2.00 pada tahun 2007 dan pada jangka panjang sampai 2020, dikarenakan permintaan yang terus meningkat terutama dari China, India, Brazil, Rusia dan negara-negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia-Pasifik.
e. Prospek Ekonomi Global Tahun 2006
Dengan harga minyak bumi dan tingkat suku bunga jangka pendek, inflasi yang tinggi serta adanya bencana alam, pertumbuhan ekonomi global tetap kontinu sesuai dengan harapan (Tabel 3).  Hal tersebut ditunjang oleh kondisi pasar uang dan kebijakan ekonomi makro yang akomodatif.  Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat masih tetap menjadi lokomotif pertumbuhan global, dengan pertumbuhan ekonomi Jepang mulai menggeliat, dan pemulihan ekonomi di daratan Eropa mulai menunjukan tanda-tanda berkelanjutan, walaupun pertumbuhan permintaan domestiknya belum pulih.  Pertumbuhan ekonomi yang menonjol untuk negara berkembang adalah China, India dan Rusia.
Eropa akan sangat terpukul apabila pertumbuhan ekonomi global takseimbang, terutama karena turunnya nilai US Dollar akan menghambat pemulihan ekonomi negara-negara Eropa.  Walaupun demikian pertumbuhan GDP diproyeksikan sebesar 2.0% dibandingkan sebesar 1.3% pada tahun 2005, terutama untuk pertumbuhan ekonomi Jerman.
Amerika Serikat diharapkan dengan pertumbuhan GDP sebesar 3.4%, turun dari 3.5% tahun 2005, tetapi dengan kenaikan pendapatan, tabungan yang tinggi dan tingkat pembelanjaan kapital yang meningkat pada kuartal pertama
tahun 2006. Depresiasi dollar akan menjadikan keseimbangan melalui naiknya ekspor, dimana barang ekspor menjadi lebih kompetitif pada pasar dunia.
Tabel 3. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Tahun 2006 dan 2007

Text Box: Dunia/Negara 	Populasi 	GDP 	Pertumbuhan GDP Riil  	(Juta) 	(US $ Milyar) 	2004 	2005 	2006 	2007  Output Dunia Eropa Amerika Serikat Jepang China India Asean-4  Impor Negara MajuNegara Berkembang 	6487 729 288 127 1310 1088 --¬¬	40894 12865 11734 4671 1653 665 ---¬	5.3 2.1 4.2 2.3 10.1 8.1 5.8 10.4 8.9 15.8 	4.8 1.3 3.5 2.7 9.9 8.3 5.2 7.3 5.8 12.4 	4.9 2.0 3.4 2.8 9.5 7.3 5.1 8.0 6.2 12.0 	4.7 1.9 3.3 2.1 9.0 7.0 5.7 7.5 5.6 11.9

Sumber: IMF, April 2006. Keterangan: Populasi dan GDP data 2005, Asean-4 adalah Indonesia, Malaysia,Philipina dan Thailand,
Import termasuk barang dan jasa.
Jepang dengan pertumbuhan GDP diperkirakan sebesar 2.8%, semetara pada tahun 2005 sebesar 2.7%, hal tersebut dikarenakan investasi, pembelanjaan kapital dan domestik serta ekspor yang meningkat.  Produksi outomobil pada tahun 2006 diharapkan meningkat sebesar1.7% (10.99 juta unit), dan produksi ban meningkat 1.5% (179 juta unit).  Konsumsi karet diharapkan meningkat sebesar 1.5% (2.04 juta ton), yaitu untuk karet alam sebesar 0.87 juta ton dan karet sintetik sebesar1.17 juta ton.
Pertumbuhan GDP China pada tahun 2006 akan melambat menjadi 9.5% dari 9.9% pada tahun 2005, tetapi masih bersumber dari ekspor dan investasi tetap serta daya beli masyarakat yang tinggi. Diperkirakan pasar mobil China akan tetap tumbuh sebesar 10%/tahun untuk 20 tahun kedepan, dimana pada saat ini terdapat 1000 perusahaan joint venture pada industri mobil di China. Produksi mobil China pada tahun 2005 (jan-nop) sebesar 5,14 juta unit, meningkat 12.07% dari tahun 2004.  Pembuat mobil di China melakukan investasi sebesar US $ 15 milyar, untuk menjadikan produksi tahunan menjadi tiga kali lipat, yaitu sebesar 7 juta unit pada tahun 2008. Impor karet alam
diharapkan sebesar 1.407 juta ton (naik 9.5%), dan karet sintetik sebesar 1.090 juta ton (turun 0.4%), serta produksi karet alam domestik sebesar 0.5 juta ton. Konsumsi karet pada tahun 2006 diharapkan meningkat 10% per tahun sampai dengan tahun 2010, dan konsumsi karet alam diperkirakan akan mencapai 2.3 juta ton.
Pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2006 diperkirakan mild but still strong. Kenaikan harga minyak bumi, inflasi dan suku bunga akan memperlambat pertumbuhan ekonomi global, apalagi jika FED tidak dapat mengelola ekonomi Amerika Serikat sebagai lokomotif dunia.  Jika ekonomi Amerika Serikat melambat, maka tentunya akan mempengaruhi harga karet alam.
f. Perkembangan Pasar Karet Alam
Konsumsi karet alam pada tahun 2005 sebesar 8,74 juta ton (meningkat 0.4%) dan karet sintetik sebesar 11.97 juta ton (menurun 0.5%), sehingga pangsa karet sintetik menurun sebesar 1% menjadi 57.7% dibandingkan karet alam. Konsumsi karet dunia diperkirakan akan tumbuh sebesar 3.2% mencapai
21.33 juta ton pada tahun 2006, dan pada tahun 2007 tumbuh 6.3% mencapai
22.64 juta ton. Tingginya harga karet alam relatif terhadap harga karet sintetik mungkin akan menyebabkan substitusi dalam jumlah tertentu dan perumbuhan pasar karet sintetik yang lebih cepat.
Produksi karet alam diperkirakan akan tumbuh sebesar 4.4% pada tahun 2006 dan 6.2% pada tahun 2007, sementara karet sintetik akan tumbuh sebesar 4.7% dan 4.6% pada tahun yang sama.  Pada semester ke dua tahun 2006, harga karet alam diperkirakan akan bertahan sekitar US $ 2.00/kg, jika berdasarkan faktor-faktor fundamental (permintaan dan penawaran) yang mendorong pasar. Sementara itu jika investment fund dan spekulator masuk ke pasar berjangka (TOCOM) untuk profit taking maka akan terjadi lonjakan harga, seperti yang terjadi pada periode 18 Februari 2006 dimana harga RSS3 adalah sebesar Ұ 263.1/kg (US $ 2.15/kg) dan pada tanggal 13 Juni 2006 harga
melonjak menjadi Ұ 323.9/kg (US $ 2.80/kg). Hal tersebut disebabkan terjadi peningkatanopent interest pada future trading di TOCOM menjadi sebesar 101128 lots (pada tanggal 18/Feb, biasanya dibawah 50000 lots), dan pada tanggal 13 juni 2006 opent interest kembali menurun menjadi 57298 lots  . Hal ini menunjukan adanya profit taking, yang selanjutnya akan menyebabkan harga kembali turun menuju tingkat dimana investment fund mulai masuk (neutral condition) (Moenardji Soedargo, 2006)
PROSPEK AGRIBISNIS KARET DI INDONESIA
Harga karet alam yang membaik saat ini harus dijadikan momentum yang mampu mendorong percepatan pembenahan dan peremajaan karet yang kurang produktif dengan menggunakan klon-klon unggul dan perbaikan teknologi budidaya lainnya. Pemerintah telah menetapkan sasaran pengembangan produksi karet alam Indonesia sebesar 3 – 4 juta ton/tahun pada tahun 2025. Sasaran produksi tersebut hanya dapat dicapai apabila areal kebun karet (rakyat) yang saat ini kurang produktif berhasil diremajakan dengan menggunakan klon karet unggul secara berkesinambungan.
a. Klon-klon Karet Rekomendasi
Kegiatan pemuliaan karet di Indonesia telah banyak menghasilkan klon­klon karet unggul sebagai penghasil lateks dan penghasil kayu.  Pada Lokakarya Nasional Pemuliaan Tanaman Karet 2005,  telah direkomendasikan klon-klon unggul baru generasi-4 untuk periode tahun 2006 – 2010, yaitu klon: IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 104, IRR 112, dan IRR 118. Klon IRR 42 dan IRR 112 akan diajukan pelepasannya sedangkan klon IRR lainnya sudah dilepas secara resmi. Klon-klon tersebut menunjukkan produktivitas dan kinerja yang baik pada berbagai lokasi, tetapi memiliki variasi karakter agronomi dan sifat-sifat sekunder lainnya.  Oleh karena itu pengguna harus memilih dengan cermat klon-klon yang sesuai agroekologi wilayah pengembangan dan jenis-jenis produk karet yang akan dihasilkan.
Klon-klon lama yang sudah dilepas yaitu GT 1, AVROS 2037, PR 255, PR 261, PR 300, PR 303, RRIM 600, RRIM 712, BPM 1, BPM 24, BPM 107, BPM 109, PB 260, RRIC 100 masih memungkinkan untuk dikembangkan, tetapi harus dilakukan secara hati-hati baik dalam penempatan lokasi maupun sistem pengelolaannya. Klon GT 1 dan RRIM 600 di berbagai lokasi dilaporkan mengalami gangguan penyakit daun Colletotrichum danCorynespora. Sedangkan klon BPM 1, PR 255, PR 261 memiliki masalah dengan mutu lateks sehingga pemanfaatan lateksnya terbatas hanya cocok untuk jenis produk karet tertentu. Klon PB 260 sangat peka terhadap kekeringan alur sadap dan gangguan angin dan kemarau panjang, karena itu pengelolaanya harus dilakukan secara tepat.
Potensi produksi lateks beberapa klon anjuran yang sudah dilepas disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4.       Produksi Lateks Beberapa Klon Anjuran (***, ** dan * adalah rata-rata produksi 15, 10, dan 5 tahun sadap)
b. Investasi dan Anilisis Finansial Usaha Perkebunan Karet
Tanaman karet memerlukan waktu 5-6 tahun untuk dapat disadap, oleh karena itu pembangunan perkebunan karet memerlukan investasi jangka
panjang dengan masa tenggang 5-6 tahun.  Biaya investasi dan pemeliharaan TBM dan TM dapat dilihat pada Tabel 4 berikut:
Tabel 4. Biaya Investasi Karet dan Pemeliharaan TBM dan TM (1 ha)

Text Box: URAIAN 	BIAYA (Rp/ha)   1.   Biaya sertifikasi lahan  	400.000  2.   Pembukaan lahan dan penanaman 	7.449.888  3.   Pemeliharaan TBM (th 1-5) 	12.664.125  TOTAL BIAYA INVESTASI (TBM) 	20.514.013  4.  Biaya Pemeliharaan TM: per tahun Umur 6 - 15 tahun     Umur 16 - 25 tahun     Umur 26 - 28 tahun     Umur 29 - 30 tahun 	4.347.500 3.774.500 3.349.000 2.305.750

Dengan asumsi tingkat produksi rata-rata 1.576 kg karet kering/ha/tahun, harga FOB SIR 20 : US $ 1,70/kg dan kurs: Rp 9.000/US $ (awal tahun 2006) dan harga di tingkat petani 80% FOB, dilakukan perhitungan kelayakan finansial usaha perkebunan karet diukur dengan tingkat Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV) dan B/C ratio.  Bila IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang diberlakukan  yaitu 18%, maka usaha perkebunan karet layak secara finansial. Bila NPV lebih besar dari nol (positif) maka usaha adalah layak, padadiscount rate yang ditentukan yaitu sebesar 18%.  Perhitungan nilai IRR dan NPV berdasarkan pada arus kas selama 30 tahun dengan asumsi biaya tetap, namun harga jual menggunakan 3 skenario yaitu: harga naik 20%, harga saat ini dan harga turun 10%, adalah seperti yang tertera di Tabel 5.  Tabel 5 menunjukkan bahwa proyek pada tingkat bunga 18% usaha perkebunan karet masih layak, demikian juga pada saat harga karet turun 20%, nilai NPV masih positif dan IRR lebih dari 18%.  Apabila ada skim kredit yang tingkat bunganya lebih rendah (14%), maka tingkat kelayakan usaha akan semakin tinggi.
Tabel 5. Hasil Analisa Finansial Pembangunan Kebun Karet (1 ha).

Text Box: Skenario (bunga= 18%) 	NPV (juta Rp) 	IRR (%) 	B/C rasio  Harga jual karet naik 20% 	26.6 	34.5 	1.30  Harga jual saat ini (awal tahun 2006) 	19.2 	31.5 	1.17  Harga jual karet turun 10%  	11.7 	27.4 	1.05  Skenario ( bunga = 14%) 	NPV (juta Rp) 	IRR (%) 	B/C rasio  Harga jual karet naik 20% 	47.6 	34.5 	1.33  Harga jual saat ini (awal tahun 2006) 	35.8 	31.5 	1.20  Harga jual karet turun 10%  	24.0 	27.4 	1.07

c. Pengembangan Agribisnis Karet di Indonesia
Dengan kondisi harga karet sekarang ini yang cukup tinggi, maka momen tersebut perlu dimanfaatkan dengan melakukan percepatan peremajaan karet rakyat dengan menggunakan klon-klon unggul, mengembangkan industri hilir untuk meningkatkan nilai tambah, dan meningkatkan pendapatan petani.
Strategi di tingkat on-farm yang diperlukan adalah : (a) penggunaan klon unggul dengan produktivitas tinggi (2-3 ton/ha/th); (b) percepatan peremajaan karet tua seluas 400 ribu ha sampai dengan tahun 2009 dan 1,2 juta ha sampai dengan 2025; (c) diversifikasi usahatani karet dengan tanaman pangan sebagai tanaman sela dan ternak; dan (d) peningkatan efisiensi usahatani.  Sedangkan di tingkat off-farm adalah : (a) peningkatan kualitas bokar berdasarkan SNI; (b) peningkatan efisiensi pemasaran untuk meningkatkan marjin harga petani; (c) penyediaan kredit untuk peremajaan, pengolahan dan pemasaran bersama; (d) pengembangan infrastruktur; (e) peningkatan nilai tambah melalui pengembangan industri hilir; dan (f) peningkatan pendapatan petani melalui perbaikan sistem pemasaran.
PENUTUP
Beberapa hal perlu dicermati sehubungan dengan prospek dan perkembangan pasar komoditi karet alam, adalah sebagai berikut:
Spekulator dan invesment fund dapat masuk dan keluar di pasar berjangka setiap saat, sehingga pasar karet alam utamanya ditentukan oleh faktor-faktor fundamental (supply and demand), dan permintaan karet alam ke depan akan tetap tumbuh sesuai dengan pertumbuhan ekonomi global.

Negara-negara produsen karet alam selayaknya menangkap momentum ini, dengan menyeimbangkan business chain antara pasokan bahan baku dengan kapasitas pengolahan untuk menghasilkan kesinambungan total ekonomi perkaretan diantara negara-negara produsen.

Negara-negara konsumen harus menyadari bahwa industrialisasi tidak hanya eksklusif pada negara-negara maju (G7), tetapi juga terjadi pada negara­negara berkembang, khususnya China, India, Brazil dan Rusia (G4).

Pasar berjangka yang aktif dan likuid untuk TSR adalah diperlukan untuk tujuan pengelolaan resiko (harga dan nilai tukar) bagi produsen.  Spekulator dan invesment fund yang dinamis/aktif adalah prasyarat utama untuk suksesnya pasar berjangka.

Karet merupakan komoditas unggulan yang memiliki pasar cukup cerah di pasar internasional sampai dengan tahun 2035. Produksi karet Indonesia banyak didukung  oleh perkebunan rakyat, sehingga karet memiliki arti yang penting sebagai sumber devisa, penyerap tenaga kerja, dan sebagai sumber pendapatan petani. Pengembangan agribisnis karet di Indonesia, perlu memperhatikan hal-hal berikut:
a. Peremajaan dan penanaman karet pada lahan yang memiliki kesesuaian agroklimat, menggunakan klon-klon sesuai dengan rekomendasi yang mempunyai potensi produksi yang tinggi, dan adanya persiapan sebelumnya (1­
1.5 tahun) untuk pembuatan bibit/bahan tanam yang akan digunakan.
b. Usaha perkebunan karet yang dilaksanakan dengan menggunakan Pola Kemitraan akan memiliki tingkat keberhasilan yang lebih baik,  asalkan dalam pelaksanaannya mencakup adanya pola pembiayaan/pendanaan, bantuan pembinaan pada aspek produksi, pemasaran, dan pengelolaan usaha oleh pihak mitra Perusahaan Perkebunan Karet Besar Negara/Swasta.
c. Analisis finansial pengusahaan kebun karet menunjukkan bahwa pada tingkat bunga 14-18% masih layak dilakukan, mengingat usaha perkebunan karet memiliki keragaan analisis finansial sebagai berikut :

•       Pada tingkat bunga 18%, nilai IRR = 31.5% selama masa pertumbuhan karet (30 tahun), NPV sebesar Rp.19.2 juta dan B/C rasio sebesar 1.17.

•       Pada tingkat bunga 14%, nilai IRR = 31.5% selama masa pertumbuhan karet (30 tahun), NPV sebesar Rp.35.8 juta dan B/C rasio sebesar 1.20.

•       Untuk klon Lateks-Kayu pada saat diremajakan pada tahun ke-25 akan menghasilhan 300 m2/ha kayu karet.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, C. 2005. Prospek Karet Alam Indonesia di Pasar Internasional: Suatu Analisis Integrasi Pasar dan Keragaan Ekspor.  Disertasi Doktor. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor,  Bogor.
Balai Penelitian Sembawa, 1996. Sapta Bina Usahatani Karet Rakyat (edisi ke-2). Pusat Penelitian Karet, Balai Penelitian Sembawa, Palembang.
Balai Penelitian Sembawa, 2005.  Pengelolaan Bahan Tanam Karet.  Pusat Penelitian Karet, Balai Penelitian Sembawa, Palembang.
Bank Indonesia. 2002. Sistem Informasi Pola Pembiayaan/Lending Model Usaha Kecil (http://www. bi.go.id/sipuk/lm/ind/karet).
BPEN. 2003. Karet Alam ‘Berperang’ di Dua Pasar. Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN). Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Jakarta.
Budiman, A.F.S. 2004. The Global NR Industry: Current Development and Future Prospects. Keynote Speech at The International Rubber Conference and Products Exhibition, 13-15 December 2004, Jakarta.
Ditjen. BP Perkebunan. 2004.  Statistik Perkebunan Indonesia 2002-2003: Karet. Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Jakarta.
International Rubber Study Group (IRSG). 2004a. Rubber Statistical Bulletin, 58
(12) dan 59 (1) September/October 2004. International Rubber Study Group, Wembley, London.
________. 2004b. Rubber Industry Report, 11 (3) 11 May 2004.  International Rubber Study Group, Wembley, London.
Kompas. 2006. Kinerja Ekspor Capai Rekor.  Kompas, Rabu, 02 Agustus 2006
Ng, C. S. 1986. Marketing of Malaysian Rubber: Trends and Strategies. Malaysian Rubber Research and Develovment Boards (MRRDB), Monograph No. 12.
Peng, J. 2004. Shanghai Future Exchange and Its Role in NR Marketing. International Rubber Conference, Chiangmai, Thailand,  8 – 9 April 2004.
Sato, Y. 2004. The Japanese Rubber Industry and NR Demand in The Coming Decade. International Rubber Conference, Chiangmai, Thailand, 8 – 9 April 2004.
SICOM. 2004. Singapore Commodity Exchange: History. http: //www. sicom.com.sq (27 Des. 2004).
Soedargo, M. 2006. Extraordinary NR and Latex Prices: Why and What to do?. Rubber International Workshop on Rubber Processing Technology and Marketing, Palembang, 1-2 August 2006.
Suhendry, I. dan A. Daslin. 2002. Kajian Finansial Penggunaan Klon  Karet Unggul Generasi IV. Warta Pusat Penelitian Karet, Vol. 21, No. 1-  3, p. 18-29.
TOCOM. 2004. Tokyo Commodity Exchange. http://www.tocom.co.jp (27 Des. 2004).
Vejanurug, P. 2004. Agriculture Future Exchange: Thailand’s First Future Exchange.  International Rubber Conference, Chiangmai, Thailand, 8 – 9 April 2004.


Chairil Anwar (Pusat Penelitian Karet)
* Direktur Pusat Penelitian Karet, Medan. 
Ringkasan
Perkembangan pasar karet alam dalam kurun waktu tiga tahun terakhir relatif kondusif bagi produsen, yang ditunjukan oleh tingkat harga yang relatif  tinggi. Hal tersebut dikarenakan permintaan yang terus meningkat, terutama dari China, India, Brazil dan negara-negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia-Pasifik. Menurut IRSG, dalam studi Rubber Eco-Project (2005), diperkirakan akan terjadi kekurangan pasokan karet alam dalam dua dekade ke depan. Karena itu pada kurun waktu 2006-2025, diperkirakan harga karet alam akan stabil sekitar US $ 2.00/kg.
Dalam jangka pendek, pertumbuhan ekonomi global tahun 2006 dan 2007 diperkirakan masih cukup baik, hal tersebut dapat terjadi jika kenaikan harga minyak bumi, inflasi dan kenaikan suku bunga tidak meperlambat pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang masih tetap merupakan lokomotif ekonomi dunia. Perkembangan ekonomi global tentunya akan mempengaruhi permintaan karet alam dan selanjutnya akan mempengaruhi harga. Konsumsi karet alam pada tahun 2005 sebesar 8.74 juta ton (pertumbuhan 5.1%), sementara itu produksi hanya sebesar 8.68 juta ton (pertumbuhan 0.4%). Harga karet alam masih tetap mempunyai tendensi menaik pada periode semester ke dua tahun 2006, hal tersebut dikarenakan permintaan masih lebih besar dari penawaran dan pertumbuhan ekonomi global, terutama China, Amerika Serikat dan Jepang masih ”firm and modest”.  Jika ”investment fund” dan spekulator melakukan aksi ”profit taking” pada pasar berjangka karet alam (TOCOM), maka akan terjadi lonjakan naik-turun harga karet alam yang relatif cukup besar.
Harga karet alam yang relatif tinggi saat ini harus dijadikan momentum bagi Indonesia, untuk mendorong percepatan peremajaan karet yang kurang produktif dengan menggunakan klon-klon unggul dan perbaikan teknologi budidaya lainnya. Pengambangan agribisnis karet di Indonesia perlu dilakukan dengan cermat dengan melalui perencanaan dan persiapan yang matang, antara lain dengan penyedian kredit peremajaan yang layak untuk karet rakyat, penyedian bahan tanam karet klon unggul dengan persiapan 1-1,5 tahun sebelumnya, pola kemitraan peremajaan, aspek produksi, pengolahan dan pemasaran dengan perkebunan besar negara/swasta.  Pada tingkat kebijakan nasional perlu adanya lembaga (dewan komoditas/karet) yang membantu pengembangan industri karet di Indonesia dalam semua aspek, mulai dari produksi, pengolahan bahan baku, industri produk karet, serta pemasaran karet dan produk karet.  Pada tingkat implementasi perlu organisasi pelaksana yang kompeten dan aturan main yang jelas, dalam hal ini tentunya juga terkait dengan adanya otonomi daerah dan perlunya partsipasi/komitmen yang kuat dari petani/pekebun karet.
1 Disampaikan pada Lokakarya Budidaya Tanaman Karet, pada tanggal 4-6 September 2006 di   Medan, diselenggarakan oleh Balai Penelitian Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet.
PENDAHULUAN
Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia.  Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 2.0 juta ton pada tahun 2005. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada semester pertama tahun 2006 mencapai US$ 2.0 milyar, dan diperkirakan nilai ekspor karet pada tahun 2006 akan mencapai US $ 4,2 milyar (Kompas, 2006).
Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Luas area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.  Diantaranya 85% merupakan perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar milik swasta.  Produksi karet secara nasional pada tahun 2005 mencapai 2.2 juta ton. Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan melakukan peremajaan dan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani serta lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet.
Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatakan pendapatan petani melalui perluasan tanaman karet dan peremajaaan kebun bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan.  Guna mendukung hal ini, perlu diadakan bantuan yang bisa memberikan modal bagi petani atau pekebun swasta untuk membiayai pembangunan kebun karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif.
Pada makalah ini disajikan, (i) perkembangan pasar komoditi karet alam dilihat dari permintaan dan penawaran karet alam sampai dengan tahun 2035, dan (ii) prospek agribisnis karet dilihat dari klon-klon karet rekomendasi dengan potensi produksinya, kebutuhan investasi dan kelayakan finansial pengusahaan
kebun karet, serta hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam rangka pengembangan agribisnis karet di Indonesia.
PERKEMBANGAN PASAR KARET ALAM
Karet merupakan kebutuhan yang vital bagi kehidupan manusia sehari­hari, hal ini terkait dengan mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban kendaraan, conveyor belt, sabuk transmisi, dock fender, sepatu dan sandal karet. Kebutuhan karet alam maupun karet sintetik terus meningkat sejalan dengan meningkatnya standar hidup manusia. Kebutuhan karet sintetik relatif lebih mudah dipenuhi karena sumber bahan baku relatif tersedia walaupun harganya mahal, akan tetapi karet alam dikonsumsi sebagai bahan baku industri tetapi diproduksi sebagai komoditi perkebunan.
Secara fundamental harga karet alam dipengaruhi oleh permintaan (konsumsi) dan penawaran (produksi) serta stock/cadangan, dan masing­masing faktor tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti yang terlihat pada Gambar 1.
a. Pertumbuhan Konsumsi Karet Alam
Konsumsi karet alam dunia dalam dua dekade terakhir meningkat secara drastis, walaupun terjadi resesi ekonomi dunia pada awal tahun 1980-an dan krisis ekonomi Asia pada tahun 1997/1998.  Selama tahun 1980-2005 konsumsi karet alam mengalami pertumbuhan yang menurun dan stagnan di Eropa, dan di Jepang pada periode 1990 juga stagnan, akan tetapi terjadi pertumbuhan yang tinggi seperti China dan negara berkembang lainnya (IRSG, 2004a). Gambaran keseluruhan mengenai perkembangan konsumsi karet alam untuk tahun 1980­2005 dapat dilihat pada Tabel 1.
Sumber: Anwar (2005). Gambar 1. Faktor-faktor Fundamental yang Mempengaruhi Harga Karet Alam
Pertumbuhan ekonomi dunia yang pesat pada sepuluh tahun terakhir, terutama China dan beberapa negara kawasan Asia-Pasifik dan Amerika Latin seperti India, Korea Selatan dan Brazil, memberi dampak pertumbuhan permintaan karet alam yang cukup tinggi, walaupun pertumbuhan permintaan karet di negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang relatif stagnan.
Menurut International Rubber Study Group (IRSG), diperkirakan akan terjadi kekurangan pasokan karet alam pada periode dua dekade ke depan. Hal ini menjadi kekuatiran pihak konsumen, terutama pabrik-pabrik ban seperti Bridgestone, Goodyear dan Michelin.  Sehingga pada tahun 2004, IRSG membentuk Task Force Rubber Eco Project (REP) untuk melakukan studi tentang permintaan dan penawaran karet sampai dengan tahun 2035.  Hasil studi REP meyatakan bahwa permintaan karet alam dan sintetik dunia pada tahun 2035 adalah sebesar 31.3 juta ton untuk industri ban dan non ban, dan 15 juta ton diantaranya adalah karet alam.  Produksi karet alam pada tahun 2005 diperkirakan 8.5 juta ton. Dari studi ini diproyeksikan pertumbuhan produksi Indonesia akan mencapai 3% per tahun, sedangkan Thailand hanya 1% dan
Malaysia -2%.  Pertumbuhan produksi Indonesia ini dapat dicapai melalui peremajaan atau penaman baru karet yang cukup luas, dengan perkiraan produksi pada tahun 2020 sebesar 3.5 juta ton dan tahun 2035 sebesar 5.1 juta ton.
Tabel 1.           Perkembangan Permintaan Karet Alam berdasarkan Negara/Regional Konsumen, Tahun 1980-2005

Text Box: Negara /Regional Konsumen 	Konsumsi (1000 ton), tahun 	Pertumbuhan/tahun (%)  	1980 	1990 	2000 	2005 	1980-1990 	1990-2000 	2000-2005  Amerika Serikat Eropa China  Jepang Lainnya 	585 1356 340 427 1062 	808 1256 600 677 1839 	1191 1483 1080 752 2834 	1330 1558 2085 796 2976 	3.81 -0.74 7.65 5.85 7.32 	4.74 1.81 8.00 1.11 5.41 	2.33 1.01 18.61 1.17 1.00  Total 	3770 	5180 	7340 	8745 	3.74 	4.17 	3.83

Sumber data: International Rubber Study Group (IRSG).
b. Pertumbuhan Produksi Karet Alam
Penawaran karet alam dunia meningkat lebih dari tiga persen per tahun dalam dua dekade terakhir, dimana mencapai 8.81 juta ton pada tahun 2005 (Tabel 2). Pertumbuhan tersebut berasal dari negara produsen Thailand, Indonesia, Malaysia, India, China dan lainnya.  Produksi karet Thailand menjadi dua kali lipat selama periode 1980-1990 dan 1990-2000. Juga India dan China pada periode yang sama akan tetapi negara tersebut masih sebagai net importir untuk karet alam. Malaysia sejak tahun 1991 tidak lagi menjadi produsen utama karet alam dunia tetapi digeser oleh Thailand, sementara itu Indonesia tetap sebagai negara produsen kedua.  Thailand memproduksi lebih dari 33% karet alam dunia pada tahun 2005, sementara Indonesia dengan pangsa produksi 26% dan Malaysia tinggal 13%.
Tabel 2. Perkembangan Produksi  Karet Alam berdasarkan Produsen Utama Dunia, Tahun 1980-2005

Text Box: Negara Produsen 	Produksi ('000 ton), tahun 	Pertumbuhan/tahun (%)  	1980 	1990 	2000 	2005 	1980-1990 	1990-2000 	2000-2005  Thailand Indonesia  Malaysia India China  Lainnya 	501 1020 1530 155 113 526 	1271 1262 1291 324 264 798 	2346 1556 615 629 445 1219 	2900 2270 1132 772 575 1164 	17.08 2.64 -1.74 12.11 14.85 5.75 	9.4 2.59 -5.82 10.46 7.62 5.86 	4.72 9.18 16.81 4.55 5.84 -0.90  Total 	3845 	5210 	6810 	8813 	3.94 	3.41 	5.88

Sumber data: International Rubber Study Group (IRSG).
c. Keseimbangan Penawaran dan Permintaan Karet Alam Dunia
Bedasarkan data IRSG (2004a), ketakseimbangan (imbalance) penawaran dan permintaan karet alam mulai terlihat sejak tahun 1900-an (surplus/defisit dari penawaran karet alam), dan berpengaruh terhadap cadangan (stock) karet alam dunia. Secara teoritis, harga diharapkan akan bereaksi dengan ketakseimbangan penawaran dan permintaan.  Dimana kenaikan harga terjadi karena defisit penawaran dan turunnya harga karena surplus penawaran, akan tetapi hipotesis tersebut tidak didukung kenyataan di lapangan seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 2.  Hal tersebut tentunya akan menyulitkan bagi pelaku pasar dalam mengambil keputusan.
Menurut Ng (1986), tidak berpengaruhnya surplus/defisit pasokan dan cadangan terhadap harga karet dunia, disebabkan oleh adanya imperfect knowledge terhadap penawaran dan permintaan global karet alam  pada waktu tertentu (adanya senjang waktu karena masalah akses informasi) serta adanya kegiatan spekulasi dan hedging pada kegiatan pemasaran karet alam dunia seperti forward purchase, future contract, longterm arrangement, dan sebagainya.
Balancedan Stock (000Ton)
3000
2000
1000
0
-1000
500
400 300 200 100 0
Harga SMR 20(M cent/Kg)
76788082 848688 90929496 980002 04
Tahun
Sumber data: International Rubber Study Group (IRSG), 1975-2004.
Gambar 2 .      Keseimbangan Penawaran dan Permintaan (Balance), Cadangan (Stock), dan Harga Karet Alam, Tahun 1975 – 2004
d. Perkembangan Harga Karet Alam
Karet sintetik sebagai produk hasil industri harganya relatif lebih stabil dibandingkan dengan karet alam. Selain itu, karet sintetik yang umumnya diproduksi dan dikonsumsi negara industri, harganya cenderung naik sejalan dengan harga bahan baku, kenaikan biaya produksi dan tingkat inflasi dari negara produsen. Hal ini sangat berbeda dengan harga karet alam yang berfluktuasi yang dipengaruhi oleh kondisi alam (cuaca/iklim),  nilai tukar dan perkembangan ekonomi negara konsumen.
Untuk menghindari kerugian karena gejolak harga karet alam, pasar berjangka (future trading) karet menyediakan sarana dan mekanisme lindung nilai (hedging). Pasar berjangka karet alam yang saat ini menjadi panutan/pedoman dunia adalah Singapura (SICOM) dan Jepang (TOCOM), serta yang relatif baru di Thailand (AFET) dan China (SHFE). Sedangkan pasar fisik (physical/spot) karet alam, selain di Singapura dan Jepang juga terdapat di negara produsen seperti Malaysia dan Thailand serta di negara-negara konsumen seperti di Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. Dari 35 mutu karet
alam yang diperdagangkan dunia secara fisik, hanya tiga mutu (RSS 1, RSS 3, TSR 20) yang dijadikan mata dagangan di pasar berjangka karet. Pasar atau bursa berjangka disebut juga pasar yang terorganisasi dan harga penyerahan hingga 12 bulan ke depan yang terbentuk disebarluaskan. Pada pasar fisik umumnya hanya harga hingga penyerahan tiga bulan kedepan yang terbentuk (BPEN, 2003).
Pada pasar karet global, Singapura dan Kuala Lumpur dikenal sebagai pasar dari kawasan produsen. Sementara itu London, New York dan Tokyo sebagai pasar dari kawasan konsumen.  Karena perbedaan waktu antara Tokyo (Jepang) dengan negara-negara produsen utama karet hanya sekitar 1- 2 jam, sehingga pasar dari dua kawasan tersebut memperlihatkan pergerakan yang sama. Jepang (Tokyo dan Osaka) sebagai salah satu negara konsumen utama karet alam, kadang-kadang menstimulasi pasar di negara konsumen (Yoko, 2004). Beberapa faktor yang mempengaruhi tren harga karet alam adalah: pasar luar negeri, permintaan dan penawaran (ekspor dan cadangan), situasi politik dan ekonomi internasional, tren nilai tukar, harga karet sintetik (harga SBR dan harga minyak bumi), pertumbuhan ekonomi global (konsumen utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang dan China) dan industri otomotif.
Walaupun relatif kecil, harga karet sintetik juga cenderung fluktuatif seperti karet alam (Gambar 3). Sebelum tahun 1990 fluktuasi harga karet sintetik disebabkan oleh kenaikan biaya produksi dan inflasi, setelah tahun 1990 fluktuasi harga karet sintetik lebih banyak dipengaruhi oleh  perubahan harga minyak mentah. Isu utama yang berhubungan dengan industri karet sintetik adalah harga minyak mentah, dan dampaknya terhadap harga dan permintaan karet sintetik. Menurut IRSG (2004b), apabila terjadi kenaikan atau penurunan harga minyak mentah maka dampaknya terhadap industri hilir pada pasar petrokimia, dalam hal ini adalah pasar butadiene dan stryrene, dan dampak tersebut baru terlihat 2-3 bulan kemudian.
HargaKaret Alam dan Sintek(US$/Ton)
1800 1600 1400 1200 1000 800 600
35 30 25 20 15 10 5
Harga Minyak Bumi(US$/Barrel)
1975 1980 1985 1990 1995 2000
Sumber data: IRSG, 2004b dan US-DOE, 2004.
Gambar 3.       Hubungan Antara Harga Karet Alam dan Sintetik dengan Harga Minyak Mentah, Tahun 1975-2003
Pada Gambar 3 terlihat bahwa pada tahun 1979-1980 dan 1984-1986, harga karet alam lebih tinggi 10-20% daripada harga karet sintetik SBR (Styrene Butadiene Rubber). Akan tetapi pada tahun-tahun lainnya harga karet alam didiskon lebih rendah daripada harga SBR sebagai refleksi tekanan yang dialami oleh kondisi pasar karet alam.  Perbedaan harga antara karet alam dengan karet sintetik menjadi faktor kunci yang mempengaruhi substitusi antara keduanya, disamping besarnya tingkat cadangan yang tersedia.  Menurut Honggokusumo, cadangan yang dipunyai pabrik ban (afloat stock) dan kualitas ban akan mempunyai peran yang besar pada keputusan perusahaan apakah memakai lebih besar karet alam atau karet sintetik (IRSG, 2004b).
Menurut Budiman (2004), permintaan karet sintetik akan terus tumbuh didorong oleh perkembangan industri automotif dan ban di China. Karet sintetik yang dominan digunakan oleh industri ban adalah SBR dan BR.  Seperti halnya karet alam, secara ekonomi karet sintetik adalah derived demand dari permintaan ban, dimana dari sisi pasokan diturunkan dari monomernya atau cadangan dari styrene dan butadiene.  Lebih lanjut dikatakan, secara ekonomi permintaan karet alam dan sintetik ditentukan oleh kondisi sekarang dan
perkembangan ke depan dari  industri otomotif.  Dengan perkembangan ekonomi yang pesat dan peningkatan standar kehidupan dari negara-negara yang padat penduduknya, maka permintaan semua jenis ban akan meningkat di masa yang akan datang.
Sejak pertengahan tahun 2002 harga karet mencapai harga US$ 1.00/kg, dan sampai sekarang ini telah mencapai US$ 2.20/kg untuk harga SIR 20 di SICOM Singapura. Diperkirakan harga akan stabil sekitar US$ 2.00 pada tahun 2007 dan pada jangka panjang sampai 2020, dikarenakan permintaan yang terus meningkat terutama dari China, India, Brazil, Rusia dan negara-negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia-Pasifik.
e. Prospek Ekonomi Global Tahun 2006
Dengan harga minyak bumi dan tingkat suku bunga jangka pendek, inflasi yang tinggi serta adanya bencana alam, pertumbuhan ekonomi global tetap kontinu sesuai dengan harapan (Tabel 3).  Hal tersebut ditunjang oleh kondisi pasar uang dan kebijakan ekonomi makro yang akomodatif.  Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat masih tetap menjadi lokomotif pertumbuhan global, dengan pertumbuhan ekonomi Jepang mulai menggeliat, dan pemulihan ekonomi di daratan Eropa mulai menunjukan tanda-tanda berkelanjutan, walaupun pertumbuhan permintaan domestiknya belum pulih.  Pertumbuhan ekonomi yang menonjol untuk negara berkembang adalah China, India dan Rusia.
Eropa akan sangat terpukul apabila pertumbuhan ekonomi global takseimbang, terutama karena turunnya nilai US Dollar akan menghambat pemulihan ekonomi negara-negara Eropa.  Walaupun demikian pertumbuhan GDP diproyeksikan sebesar 2.0% dibandingkan sebesar 1.3% pada tahun 2005, terutama untuk pertumbuhan ekonomi Jerman.
Amerika Serikat diharapkan dengan pertumbuhan GDP sebesar 3.4%, turun dari 3.5% tahun 2005, tetapi dengan kenaikan pendapatan, tabungan yang tinggi dan tingkat pembelanjaan kapital yang meningkat pada kuartal pertama
tahun 2006. Depresiasi dollar akan menjadikan keseimbangan melalui naiknya ekspor, dimana barang ekspor menjadi lebih kompetitif pada pasar dunia.
Tabel 3. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Tahun 2006 dan 2007

Text Box: Dunia/Negara 	Populasi 	GDP 	Pertumbuhan GDP Riil  	(Juta) 	(US $ Milyar) 	2004 	2005 	2006 	2007  Output Dunia Eropa Amerika Serikat Jepang China India Asean-4  Impor Negara MajuNegara Berkembang 	6487 729 288 127 1310 1088 --¬¬	40894 12865 11734 4671 1653 665 ---¬	5.3 2.1 4.2 2.3 10.1 8.1 5.8 10.4 8.9 15.8 	4.8 1.3 3.5 2.7 9.9 8.3 5.2 7.3 5.8 12.4 	4.9 2.0 3.4 2.8 9.5 7.3 5.1 8.0 6.2 12.0 	4.7 1.9 3.3 2.1 9.0 7.0 5.7 7.5 5.6 11.9

Sumber: IMF, April 2006. Keterangan: Populasi dan GDP data 2005, Asean-4 adalah Indonesia, Malaysia,Philipina dan Thailand,
Import termasuk barang dan jasa.
Jepang dengan pertumbuhan GDP diperkirakan sebesar 2.8%, semetara pada tahun 2005 sebesar 2.7%, hal tersebut dikarenakan investasi, pembelanjaan kapital dan domestik serta ekspor yang meningkat.  Produksi outomobil pada tahun 2006 diharapkan meningkat sebesar1.7% (10.99 juta unit), dan produksi ban meningkat 1.5% (179 juta unit).  Konsumsi karet diharapkan meningkat sebesar 1.5% (2.04 juta ton), yaitu untuk karet alam sebesar 0.87 juta ton dan karet sintetik sebesar1.17 juta ton.
Pertumbuhan GDP China pada tahun 2006 akan melambat menjadi 9.5% dari 9.9% pada tahun 2005, tetapi masih bersumber dari ekspor dan investasi tetap serta daya beli masyarakat yang tinggi. Diperkirakan pasar mobil China akan tetap tumbuh sebesar 10%/tahun untuk 20 tahun kedepan, dimana pada saat ini terdapat 1000 perusahaan joint venture pada industri mobil di China. Produksi mobil China pada tahun 2005 (jan-nop) sebesar 5,14 juta unit, meningkat 12.07% dari tahun 2004.  Pembuat mobil di China melakukan investasi sebesar US $ 15 milyar, untuk menjadikan produksi tahunan menjadi tiga kali lipat, yaitu sebesar 7 juta unit pada tahun 2008. Impor karet alam
diharapkan sebesar 1.407 juta ton (naik 9.5%), dan karet sintetik sebesar 1.090 juta ton (turun 0.4%), serta produksi karet alam domestik sebesar 0.5 juta ton. Konsumsi karet pada tahun 2006 diharapkan meningkat 10% per tahun sampai dengan tahun 2010, dan konsumsi karet alam diperkirakan akan mencapai 2.3 juta ton.
Pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2006 diperkirakan mild but still strong. Kenaikan harga minyak bumi, inflasi dan suku bunga akan memperlambat pertumbuhan ekonomi global, apalagi jika FED tidak dapat mengelola ekonomi Amerika Serikat sebagai lokomotif dunia.  Jika ekonomi Amerika Serikat melambat, maka tentunya akan mempengaruhi harga karet alam.
f. Perkembangan Pasar Karet Alam
Konsumsi karet alam pada tahun 2005 sebesar 8,74 juta ton (meningkat 0.4%) dan karet sintetik sebesar 11.97 juta ton (menurun 0.5%), sehingga pangsa karet sintetik menurun sebesar 1% menjadi 57.7% dibandingkan karet alam. Konsumsi karet dunia diperkirakan akan tumbuh sebesar 3.2% mencapai
21.33 juta ton pada tahun 2006, dan pada tahun 2007 tumbuh 6.3% mencapai
22.64 juta ton. Tingginya harga karet alam relatif terhadap harga karet sintetik mungkin akan menyebabkan substitusi dalam jumlah tertentu dan perumbuhan pasar karet sintetik yang lebih cepat.
Produksi karet alam diperkirakan akan tumbuh sebesar 4.4% pada tahun 2006 dan 6.2% pada tahun 2007, sementara karet sintetik akan tumbuh sebesar 4.7% dan 4.6% pada tahun yang sama.  Pada semester ke dua tahun 2006, harga karet alam diperkirakan akan bertahan sekitar US $ 2.00/kg, jika berdasarkan faktor-faktor fundamental (permintaan dan penawaran) yang mendorong pasar. Sementara itu jika investment fund dan spekulator masuk ke pasar berjangka (TOCOM) untuk profit taking maka akan terjadi lonjakan harga, seperti yang terjadi pada periode 18 Februari 2006 dimana harga RSS3 adalah sebesar Ұ 263.1/kg (US $ 2.15/kg) dan pada tanggal 13 Juni 2006 harga
melonjak menjadi Ұ 323.9/kg (US $ 2.80/kg). Hal tersebut disebabkan terjadi peningkatanopent interest pada future trading di TOCOM menjadi sebesar 101128 lots (pada tanggal 18/Feb, biasanya dibawah 50000 lots), dan pada tanggal 13 juni 2006 opent interest kembali menurun menjadi 57298 lots  . Hal ini menunjukan adanya profit taking, yang selanjutnya akan menyebabkan harga kembali turun menuju tingkat dimana investment fund mulai masuk (neutral condition) (Moenardji Soedargo, 2006)
PROSPEK AGRIBISNIS KARET DI INDONESIA
Harga karet alam yang membaik saat ini harus dijadikan momentum yang mampu mendorong percepatan pembenahan dan peremajaan karet yang kurang produktif dengan menggunakan klon-klon unggul dan perbaikan teknologi budidaya lainnya. Pemerintah telah menetapkan sasaran pengembangan produksi karet alam Indonesia sebesar 3 – 4 juta ton/tahun pada tahun 2025. Sasaran produksi tersebut hanya dapat dicapai apabila areal kebun karet (rakyat) yang saat ini kurang produktif berhasil diremajakan dengan menggunakan klon karet unggul secara berkesinambungan.
a. Klon-klon Karet Rekomendasi
Kegiatan pemuliaan karet di Indonesia telah banyak menghasilkan klon­klon karet unggul sebagai penghasil lateks dan penghasil kayu.  Pada Lokakarya Nasional Pemuliaan Tanaman Karet 2005,  telah direkomendasikan klon-klon unggul baru generasi-4 untuk periode tahun 2006 – 2010, yaitu klon: IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 104, IRR 112, dan IRR 118. Klon IRR 42 dan IRR 112 akan diajukan pelepasannya sedangkan klon IRR lainnya sudah dilepas secara resmi. Klon-klon tersebut menunjukkan produktivitas dan kinerja yang baik pada berbagai lokasi, tetapi memiliki variasi karakter agronomi dan sifat-sifat sekunder lainnya.  Oleh karena itu pengguna harus memilih dengan cermat klon-klon yang sesuai agroekologi wilayah pengembangan dan jenis-jenis produk karet yang akan dihasilkan.
Klon-klon lama yang sudah dilepas yaitu GT 1, AVROS 2037, PR 255, PR 261, PR 300, PR 303, RRIM 600, RRIM 712, BPM 1, BPM 24, BPM 107, BPM 109, PB 260, RRIC 100 masih memungkinkan untuk dikembangkan, tetapi harus dilakukan secara hati-hati baik dalam penempatan lokasi maupun sistem pengelolaannya. Klon GT 1 dan RRIM 600 di berbagai lokasi dilaporkan mengalami gangguan penyakit daun Colletotrichum danCorynespora. Sedangkan klon BPM 1, PR 255, PR 261 memiliki masalah dengan mutu lateks sehingga pemanfaatan lateksnya terbatas hanya cocok untuk jenis produk karet tertentu. Klon PB 260 sangat peka terhadap kekeringan alur sadap dan gangguan angin dan kemarau panjang, karena itu pengelolaanya harus dilakukan secara tepat.
Potensi produksi lateks beberapa klon anjuran yang sudah dilepas disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4.       Produksi Lateks Beberapa Klon Anjuran (***, ** dan * adalah rata-rata produksi 15, 10, dan 5 tahun sadap)
b. Investasi dan Anilisis Finansial Usaha Perkebunan Karet
Tanaman karet memerlukan waktu 5-6 tahun untuk dapat disadap, oleh karena itu pembangunan perkebunan karet memerlukan investasi jangka
panjang dengan masa tenggang 5-6 tahun.  Biaya investasi dan pemeliharaan TBM dan TM dapat dilihat pada Tabel 4 berikut:
Tabel 4. Biaya Investasi Karet dan Pemeliharaan TBM dan TM (1 ha)

Text Box: URAIAN 	BIAYA (Rp/ha)   1.   Biaya sertifikasi lahan  	400.000  2.   Pembukaan lahan dan penanaman 	7.449.888  3.   Pemeliharaan TBM (th 1-5) 	12.664.125  TOTAL BIAYA INVESTASI (TBM) 	20.514.013  4.  Biaya Pemeliharaan TM: per tahun Umur 6 - 15 tahun     Umur 16 - 25 tahun     Umur 26 - 28 tahun     Umur 29 - 30 tahun 	4.347.500 3.774.500 3.349.000 2.305.750

Dengan asumsi tingkat produksi rata-rata 1.576 kg karet kering/ha/tahun, harga FOB SIR 20 : US $ 1,70/kg dan kurs: Rp 9.000/US $ (awal tahun 2006) dan harga di tingkat petani 80% FOB, dilakukan perhitungan kelayakan finansial usaha perkebunan karet diukur dengan tingkat Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV) dan B/C ratio.  Bila IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang diberlakukan  yaitu 18%, maka usaha perkebunan karet layak secara finansial. Bila NPV lebih besar dari nol (positif) maka usaha adalah layak, padadiscount rate yang ditentukan yaitu sebesar 18%.  Perhitungan nilai IRR dan NPV berdasarkan pada arus kas selama 30 tahun dengan asumsi biaya tetap, namun harga jual menggunakan 3 skenario yaitu: harga naik 20%, harga saat ini dan harga turun 10%, adalah seperti yang tertera di Tabel 5.  Tabel 5 menunjukkan bahwa proyek pada tingkat bunga 18% usaha perkebunan karet masih layak, demikian juga pada saat harga karet turun 20%, nilai NPV masih positif dan IRR lebih dari 18%.  Apabila ada skim kredit yang tingkat bunganya lebih rendah (14%), maka tingkat kelayakan usaha akan semakin tinggi.
Tabel 5. Hasil Analisa Finansial Pembangunan Kebun Karet (1 ha).

Text Box: Skenario (bunga= 18%) 	NPV (juta Rp) 	IRR (%) 	B/C rasio  Harga jual karet naik 20% 	26.6 	34.5 	1.30  Harga jual saat ini (awal tahun 2006) 	19.2 	31.5 	1.17  Harga jual karet turun 10%  	11.7 	27.4 	1.05  Skenario ( bunga = 14%) 	NPV (juta Rp) 	IRR (%) 	B/C rasio  Harga jual karet naik 20% 	47.6 	34.5 	1.33  Harga jual saat ini (awal tahun 2006) 	35.8 	31.5 	1.20  Harga jual karet turun 10%  	24.0 	27.4 	1.07

c. Pengembangan Agribisnis Karet di Indonesia
Dengan kondisi harga karet sekarang ini yang cukup tinggi, maka momen tersebut perlu dimanfaatkan dengan melakukan percepatan peremajaan karet rakyat dengan menggunakan klon-klon unggul, mengembangkan industri hilir untuk meningkatkan nilai tambah, dan meningkatkan pendapatan petani.
Strategi di tingkat on-farm yang diperlukan adalah : (a) penggunaan klon unggul dengan produktivitas tinggi (2-3 ton/ha/th); (b) percepatan peremajaan karet tua seluas 400 ribu ha sampai dengan tahun 2009 dan 1,2 juta ha sampai dengan 2025; (c) diversifikasi usahatani karet dengan tanaman pangan sebagai tanaman sela dan ternak; dan (d) peningkatan efisiensi usahatani.  Sedangkan di tingkat off-farm adalah : (a) peningkatan kualitas bokar berdasarkan SNI; (b) peningkatan efisiensi pemasaran untuk meningkatkan marjin harga petani; (c) penyediaan kredit untuk peremajaan, pengolahan dan pemasaran bersama; (d) pengembangan infrastruktur; (e) peningkatan nilai tambah melalui pengembangan industri hilir; dan (f) peningkatan pendapatan petani melalui perbaikan sistem pemasaran.
PENUTUP
Beberapa hal perlu dicermati sehubungan dengan prospek dan perkembangan pasar komoditi karet alam, adalah sebagai berikut:
Spekulator dan invesment fund dapat masuk dan keluar di pasar berjangka setiap saat, sehingga pasar karet alam utamanya ditentukan oleh faktor-faktor fundamental (supply and demand), dan permintaan karet alam ke depan akan tetap tumbuh sesuai dengan pertumbuhan ekonomi global.

Negara-negara produsen karet alam selayaknya menangkap momentum ini, dengan menyeimbangkan business chain antara pasokan bahan baku dengan kapasitas pengolahan untuk menghasilkan kesinambungan total ekonomi perkaretan diantara negara-negara produsen.

Negara-negara konsumen harus menyadari bahwa industrialisasi tidak hanya eksklusif pada negara-negara maju (G7), tetapi juga terjadi pada negara­negara berkembang, khususnya China, India, Brazil dan Rusia (G4).

Pasar berjangka yang aktif dan likuid untuk TSR adalah diperlukan untuk tujuan pengelolaan resiko (harga dan nilai tukar) bagi produsen.  Spekulator dan invesment fund yang dinamis/aktif adalah prasyarat utama untuk suksesnya pasar berjangka.

Karet merupakan komoditas unggulan yang memiliki pasar cukup cerah di pasar internasional sampai dengan tahun 2035. Produksi karet Indonesia banyak didukung  oleh perkebunan rakyat, sehingga karet memiliki arti yang penting sebagai sumber devisa, penyerap tenaga kerja, dan sebagai sumber pendapatan petani. Pengembangan agribisnis karet di Indonesia, perlu memperhatikan hal-hal berikut:
a. Peremajaan dan penanaman karet pada lahan yang memiliki kesesuaian agroklimat, menggunakan klon-klon sesuai dengan rekomendasi yang mempunyai potensi produksi yang tinggi, dan adanya persiapan sebelumnya (1­
1.5 tahun) untuk pembuatan bibit/bahan tanam yang akan digunakan.
b. Usaha perkebunan karet yang dilaksanakan dengan menggunakan Pola Kemitraan akan memiliki tingkat keberhasilan yang lebih baik,  asalkan dalam pelaksanaannya mencakup adanya pola pembiayaan/pendanaan, bantuan pembinaan pada aspek produksi, pemasaran, dan pengelolaan usaha oleh pihak mitra Perusahaan Perkebunan Karet Besar Negara/Swasta.
c. Analisis finansial pengusahaan kebun karet menunjukkan bahwa pada tingkat bunga 14-18% masih layak dilakukan, mengingat usaha perkebunan karet memiliki keragaan analisis finansial sebagai berikut :

•       Pada tingkat bunga 18%, nilai IRR = 31.5% selama masa pertumbuhan karet (30 tahun), NPV sebesar Rp.19.2 juta dan B/C rasio sebesar 1.17.

•       Pada tingkat bunga 14%, nilai IRR = 31.5% selama masa pertumbuhan karet (30 tahun), NPV sebesar Rp.35.8 juta dan B/C rasio sebesar 1.20.

•       Untuk klon Lateks-Kayu pada saat diremajakan pada tahun ke-25 akan menghasilhan 300 m2/ha kayu karet.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, C. 2005. Prospek Karet Alam Indonesia di Pasar Internasional: Suatu Analisis Integrasi Pasar dan Keragaan Ekspor.  Disertasi Doktor. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor,  Bogor.
Balai Penelitian Sembawa, 1996. Sapta Bina Usahatani Karet Rakyat (edisi ke-2). Pusat Penelitian Karet, Balai Penelitian Sembawa, Palembang.
Balai Penelitian Sembawa, 2005.  Pengelolaan Bahan Tanam Karet.  Pusat Penelitian Karet, Balai Penelitian Sembawa, Palembang.
Bank Indonesia. 2002. Sistem Informasi Pola Pembiayaan/Lending Model Usaha Kecil (http://www. bi.go.id/sipuk/lm/ind/karet).
BPEN. 2003. Karet Alam ‘Berperang’ di Dua Pasar. Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN). Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Jakarta.
Budiman, A.F.S. 2004. The Global NR Industry: Current Development and Future Prospects. Keynote Speech at The International Rubber Conference and Products Exhibition, 13-15 December 2004, Jakarta.
Ditjen. BP Perkebunan. 2004.  Statistik Perkebunan Indonesia 2002-2003: Karet. Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Jakarta.
International Rubber Study Group (IRSG). 2004a. Rubber Statistical Bulletin, 58
(12) dan 59 (1) September/October 2004. International Rubber Study Group, Wembley, London.
________. 2004b. Rubber Industry Report, 11 (3) 11 May 2004.  International Rubber Study Group, Wembley, London.
Kompas. 2006. Kinerja Ekspor Capai Rekor.  Kompas, Rabu, 02 Agustus 2006
Ng, C. S. 1986. Marketing of Malaysian Rubber: Trends and Strategies. Malaysian Rubber Research and Develovment Boards (MRRDB), Monograph No. 12.
Peng, J. 2004. Shanghai Future Exchange and Its Role in NR Marketing. International Rubber Conference, Chiangmai, Thailand,  8 – 9 April 2004.
Sato, Y. 2004. The Japanese Rubber Industry and NR Demand in The Coming Decade. International Rubber Conference, Chiangmai, Thailand, 8 – 9 April 2004.
SICOM. 2004. Singapore Commodity Exchange: History. http: //www. sicom.com.sq (27 Des. 2004).
Soedargo, M. 2006. Extraordinary NR and Latex Prices: Why and What to do?. Rubber International Workshop on Rubber Processing Technology and Marketing, Palembang, 1-2 August 2006.
Suhendry, I. dan A. Daslin. 2002. Kajian Finansial Penggunaan Klon  Karet Unggul Generasi IV. Warta Pusat Penelitian Karet, Vol. 21, No. 1-  3, p. 18-29.
TOCOM. 2004. Tokyo Commodity Exchange. http://www.tocom.co.jp (27 Des. 2004).
Vejanurug, P. 2004. Agriculture Future Exchange: Thailand’s First Future Exchange.  International Rubber Conference, Chiangmai, Thailand, 8 – 9 April 2004.