Sabtu, 19 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Prestasi

Kegiatan

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Jajak

Sejauh mana Portal Publik PTPN V dapat membantu anda dalam mencari informasi tentang PT Perkebunan Nusantara V?

View Results

Loading ... Loading ...

Orang-Orang (Berkarakter) Hebat

8 Maret 2012

Apa saja resep manjur orang-orang hebat? Ternyata tidak ada formula sukses yang benar-benar sama. Orang menyebutnya, mungkin disiplin, konsisten, jujur, integritas, kreatif, inovatif dan sederet daftar klasik lainnya.

Namun, bukan itu saja. Justru resep yang konsisten adalah keberanian untuk coba-coba dan melakukan penyesuaian terus menerus.

Banyak orang menyebutnya trial and adjustment, supaya mudah membedakannya dengan trial and error. Kalau yang terakhir itu sebaiknya dihindari kalau melakukan coba-coba untuk gagal.

Istilah yang lain adalah “eksperimentatif”, atau kerap disebut out of the box. Kalangan entrepreneur sering memadukan dengan cara berfikir lateral.

Namun patut diingat, pendekatan trial and adjustment, strategi out of the box, sikap eksperimentatif, lateral thinking, atau apapun istilah yang dipakai, tetaplah harus tepat.

Jika takarannya tidak pas, kelebihan dosis atau sebaliknya kurang nendang, justru akan berabe. Bisa jadi, jika seperti itu adanya, tujuan Anda tidak tercapai, tetapi malah tutup buku alias gulung tikar.

***

Saya beruntung karena banyak bertemu dengan tipe orang yang, sebut saja, eksperimentatif tersebut. Entah ia marketer, manajer, bankir, pemilik perusahaan, bahkan menteri, yang langkah-langkahnya kerap ‘tidak biasa’ bahkan mengejutkan.

Sebut saja Alpha, seorang perempuan cantik berkebangsaan Filipina, yang bisik-bisik masih punya hubungan darah dengan dinasti Aquino.

Perempuan bernama lengkap Alpha Omega Aquino itu dengan cas-cis-cus menuturkan  bagaimana kiatnya mengelola 900 telemarketer di perusahaan tempatnya bekerja, asuransi Cigna International, saat berkunjung ke kantor saya beberapa hari lalu.

Cigna adalah pelopor pemasaran tanpa menggunakan agen, tidak seperti kebanyakan perusahaan asuransi yang banyak mempekerjakan agen untuk merekrut polis baru.

Dengan sistem komisi, telemarketer yang umumnya lulusan sekolah lanjutan atas (SLA) atau Diploma 1 itu mampu membawa pulang penghasilan rata-rata Rp4-5 juta per bulan. Bahkan, 10% telemarketer terproduktif bisa mengantungi minimal Rp10 juta per bulan, sehingga tak banyak telemarketer yang bersedia dipromosikan menjadi supervisor karena penghasilannya sudah lebih tinggi.

Alpha berhasil mengembangkan model telemarketer dengan mengadopsi negeri asalnya, Filipina, yang memiliki lebih dari 300 perusahaan telemarketer. Dibantu teknologi PDS atau progressive dialing system, dalam sehari satu telemarketer bisa kontak setidaknya 100 prospek atau total prospek yang bisa dikontak seluruh telemarketer Cigna mencapai 500.000 per bulan. Hasilnya, 1-2 polis per telemarketer setiap hari, atau 30.000 nasabah baru berhasil direkrut setiap bulan!

Para telemarketer ini pada bulan pertama dilatih untuk mengenali produk dan layanan Cigna. Mereka dilatih bertemu dengan seluruh unit atau departemen, sehingga paham product knowledge yang sangat dibutuhkan saat berhubungan dengan prospek.

Produk yang diperkenalkan mulai dari yang paling simpel, misalnya mulai dari proteksi kecelakaan. Setelah nasabah terakuisisi, baru diedukasi untuk memasuki produk-produk yang lain hingga menawarkan produk-produk investasi.

Karenanya model telemarketer ini dikatakan sebagai model bisnis yang menggulung. Kalau Cigna tetap menjalankan model agen, di tengah kompetisi dengan pemain besar, mungkin akan sulit sampai pada posisi seperti sekarang ini.

Tak heran jika kini industri asuransi di Indonesia cenderung mengikuti model bisnis baru dengan membangun unit telemarketer, mengurangi model bisnis yang menggunakan agen.

Tak berlebihan kalau ada yang mengatakan Alpha berhasil mentransformasikan model bisnis baru yang tidak ikut-ikutan tren, melainkan justru menciptakan tren.

***

Kalau yang ini adalah seorang pengusaha yang masih relatif muda, namun sudah berkiprah di bisnis selama 30 tahun sejak mulai kuliah dan berbisnis foto kopi di kampusnya.

Ia adalah Chairul Tandjung, pemilik Para Group yang baru saja meresmikan pergantian nama menjadi CT Corpora (CT Corp) dengan tagline baru: “Untuk Indonesia yang lebih baik.”

Lini bisnis CT Corp terbagi dalam tiga subholding, yakni Mega Corp (keuangan)-Trans Corp (lifestyle, media, dan retail), serta CT Global Resources untuk lini bisnis sumberdaya alam.

Mengapa CT saya tulis dalam kelompok orang-orang yang out of the box itu? Coba dehtengok aksinya saat tiba-tiba membeli Carrefour tahun lalu. Transaksi yang ditutup dalam waktu sangat singkat itu, menambah landasan bagi CT Corp untuk take off.

Tahun ini, CT mengakuisisi Detik.com dan kini disebut-sebut akan belanja sejumlah media—termasuk media lokal—yang akan digabungkan dalam lini bisnis medianya di bawah payung Trans Corp.

Dari mana uangnya? Mungkin Anda mengira uang Bank Mega dipakai untuk membiayai strategic expenseskelompok usaha itu.

Jawabnya bukan dari bank itu. Maka, inilah yang disebut berfikir lateral itu: tahun lalu CT membiayai akuisisi Carrefour dengan pinjaman dari empat bank asing senilai US$350 juta. Tak banyak yang tahu bahwa tahun ini pinjaman itu telah dilunasi dengan pinjaman baru dari 9 bank asing, yang memberikan plafon pinjaman lebih tinggi, dan bunga lebih murah.

Mengapa? Ini adalah trust. Ada potensi hasil lebih besar, risiko bisnis relatif lebih rendah, sesederhana itu saja sebenarnya formulanya.

Coba deh bandingkan dengan obligasi pemerintah Indonesia yang diterbitkan senilai US$1 miliar, tingkat bunganya hanya 4,6%, jauh lebih murah dibandingkan dengan obligasi Dubai yang harus membayar bunga sampai 7,6%.

Padahal, Indonesia masih menyandang peringkat non-investment grade, sebaliknya Dubai sudah investment grade.

Mengapa Indonesia bisa memperoleh dana lebih murah? Tentu karena trust dan risiko yang lebih rendah termasuk dari dampak krisis global saat ini. Sesederhana itu saja.

Kata teman ekonom: kita sedang seksi-seksinya saat ini, sehingga punya daya tarik besar untuk dipacarioleh pemilik modal global.

Maka saya tak heran, jika entrepreneur seperti CT kini getol menjual prospek bisnis ke hampir semua CEO bank besar dunia.

Cara berfikirnya begini: Pada 2040 nanti, ekonomi Asia akan mengendalikan lebih dari 50% ekonomi dunia; di mana Asia sendiri akan dikendalikan oleh tiga kekuatan,  Greater China, Greater India, dan Indonesia sebagai mesin ekonomi Asia Tenggara.

Untuk memanfaatkan potensi itu, bagi CT, Indonesia harus menggandeng kekuatan lain yang memiliki dana, inovasi dan brand. Itu untuk memperpendek cerita.

Maka, bagi saya, CT telah menjadi ambassador sekaligus ‘provokator’ bagi Indonesia, seperti tagline baru yang dipakai kelompok usahanya.

***

Satu lagi adalah Dahlan Iskan. Pengusaha penerbitan ini belum genap dua bulan menjabat Menteri BUMN, setelah sebelumnya menahkodai perusahaan listrik pelat merah, PT PLN.

Buat saya, DI—begitu ia biasa disapa oleh koleganya—bukan pengusaha biasa. Ia bukan hanya wartawan, tapi juga orang pabrik.“Ia berfikir lateral dan pas,” kata seorang Dirut BUMN.

“Berfikir lateral dan pas.” Kalimat itu ingin saya ulang-ulang, karena gambaran seperti itulah yang memang cocok untuk mendeskripsikan Dahlan Iskan.

Anda, mungkin, yang tidak pernah bergaul dengan pemilik Grup Jawa Pos ini, tidak akan pernah membayangkan seorang menteri memimpin rapat dengan jajaran direksi BUMN di dalam mobil, sambil menyetir sendiri mobil tersebut.

Itulah yang dilakukan Dahlan, dan terjadilah keputusan yang sangat strategis dalam waktu yang cepat. “Tidak perlu rapat di hotel, direksi tak perlu bolak-balik ke Jakarta,” katanya.

Selain cepat menyimpulkan karena kemampuannya menggali informasi, DI juga sangat detil ketika dihadapkan pada urusan pabrik. Saya menyaksikan seorang Dirut PT Perkebunan seperti menjalani ujian fit and proper saat DI menanyakan banyak hal teknis tentang operasi pabrik.

“Saya ingin mengambil kesimpulan secara benar,” kata Dahlan saat saya bertanya ihwal gayanya ‘menginterogasi’ Dirut PTPN itu.

Maka mengalirlah cerita Dahlan, tatkala pertama kali ditugasi sebagai Dirut sebuah perusahaan daerah di Jawa Timur beberapa tahun yang lalu. Alkisah, di kantor perusahaan daerah tersebut, Dahlan melihat mobil tua yang sudah berkarat dan ditumbuhi rerumputan ‘parkir” mangkrak di tempat strategis di halaman perusahaan itu.

Selidik punya selidik, manajemen tidak berani menjual mobil bekas inventaris tersebut, karena takut dengan prosedur dan birokrasi pengelolaan aset berkaitan dengan dampak hukumnya.

Maka Dahlan pun memberi masukan: “Suruh orang diam-diam nanti malam mencuri mobil itu, lalu lapor kehilangan,” katanya.

Esoknya, urusan mobil mangkrak yang sudah puluhan tahun parkir di halaman perusda itu beres.Bagi Dahlan, semua bisa diselesaikan dengan akal. “Akal keluar kalau ada tanggungjawab dan tanggungjawab keluar kalau ada kejelasan,” katanya.

***

Saya yakin masih banyak profesional lain seperti Alpha, pengusaha sekaliber CT dan pejabat piawai macam Dahlan Iskan di negeri ini. Mengikuti cara berfikir ‘di luar kotak’ mereka, saya kok optimis Indonesia sebenarnya punya peluang dan potensi maju dengan kencang.

Dengan pendapatan per kapita US$3.719 saat ini, akan sangat cepat bagi Indonesia melompat lagi menuju US$10.000 perkapita tak sampai satu dekade lagi.

Apalagi jika secara spesifik bicara pendapatan per kapita Jakarta saja, yang melampaui US$10.000 per kapita saat ini, sesungguhnya kita jauh lebih kaya daripada Malaysia yang hanya sekitar US$6.000 per kapita sekarang ini.

Maka inilah kesempatan emas itu, yang diakui atau tidak, berada di depan mata dan dalam jangkauan tangan kita.

Andai saja para petinggi negara, termasuk yang menghuni Istana, juga mampu bergerak cepat dan berani ambil risiko, alangkah dahsyatnya.

Namun, soal itu kolega saya buru-buru menukas: “Yang bekerja tak perlu Presidennya, tetapi menterinya saja.” Nah, Lho…setujukah Anda? (arief.budisusilo@bisnis.co.id)

http://www.bisnis.com/articles/orang-orang-berkarakter-hebat

Oleh Arief Budisusiloda? (arief.budisusilo@bisnis.co.id)