Thursday, 24 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Achievements

Sertifikat Klasifikasi Kelas II/ Baik untuk Kebun Untuk Kebun Tamora

Activity

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Polls

Sejauh mana Portal Publik PTPN V dapat membantu anda dalam mencari informasi tentang PT Perkebunan Nusantara V?

View Results

Loading ... Loading ...

Manufacturing Hope 38: Setelah Hidup Diperpanjang Lima Tahun

6 August 2012

Oleh Dahlan Iskan
Menteri Negara BUMN

Hari ini, Senin 6 Agustus 2012, genap lima tahun saya ‘hidup baru’. Allahu Akbar!
Kalau teringat begitu parahnya kondisi badan saya lima tahun yang lalu, rasanya
tidak terbayangkan saya masih bisa hidup hari ini. Allahu Akbar! Apalagi dengan
kualitas hidup yang nyaris sempurna seperti sekarang ini. Allahu Akbar!

Sejak saya muntah darah tujuh tahun lalu, dan kemudian diketahui sepanjang saluran
pencernaan saya sudah penuh dengan gelembung darah yang siap pecah (akan diikuti
dengan muntah darah atau buang air darah), harapan hidup waktu itu hampir hilang.

Harapan hidup itu lebih tipis lagi setelah diketahui bahwa limpa saya sudah
membesar. Sudah tiga kali lipat lebih besar dari limpa normal. Itu berarti limpa
tersebut sudah siap meledak yang menjadi penyebab kematian kapan saja. Apalagi hati
saya yang terkena virus hepatitis B pun, statusnya sudah meningkat menjadi sirosis,
mengeras dan tidak berbentuk hati lagi.

Vonis bahwa umur saya maksimal tinggal enam bulan lagi, harus saya terima setelah
dipastikan bahwa di dalam hati saya sudah penuh dengan kanker. Ukuran kankernya pun
sudah besar-besar. Sudah ada yang 2 cm, 4 cm dan 6 cm. Bibit-bibit kanker lainnya
masih puluhan jumlahnya.

Saya tidak akan lupa ucapan seorang dokter ahli di Singapura, yang sudah begitu
pasrahnya. Terutama ketika saya mengeluh kesakitan setiap kali mengenakan sepatu.
Kaki saya sudah bengkak begitu besarnya. Sepatu saya tidak muat lagi.

“Ya ganti sepatu saja!” Ujar dokter yang pasiennya 80% orang dari Indonesia itu.
Padahal, waktu itu, saya mengharapkan jalan keluar bagaimana agar bengkak kaki saya
itu bisa diatasi. “Tidak ada jalan lain. Ganti sepatu. Kalau bengkaknya sudah lebih
besar lagi, ganti sepatu lagi!”

Saya tidak jengkel dengan ucapannya itu. Bahkan saya tersenyum karena terasa ada
lucunya. Itulah cara dokter untuk memaksa saya melakukan transplantasi. Tidak ada
jalan lain lagi.

Hanya transplant yang bisa menyelamatkan. Itu pun tidak bisa transplant separo hati
(diambilkan dari hati istri atau anak atau pendonor), karena seluruh hati saya sudah
hancur.

Harus hati sepenuh hati yang berarti hanya bisa didapat dari orang yang meninggal.

“Kalau pun itu bisa didapat, dan kalau pun itu nanti sukses,” kata dokter tersebut,
“paling hanya bisa menambah umur lima tahun.” Saya juga tidak akan lupa ucapan
dokter itu berikutnya: “Tapi, tambah umur lima tahun kan lumayan. Waktu itu nanti
umur Anda kan sudah 61 tahun. Sudah lebih pantas meninggal.”

Saya memang akrab dengan dokter itu sehingga sekeras apa pun ucapannya tidak membuat
saya kecewa. Sang dokter juga tahu bahwa saya cukup intelek untuk menerima kata-kata
yang meskipun bernada keras, tapi sangat ilmiah.

Mengapa hasil transplant itu hanya bisa memperpanjang umur lima tahun? Secara ilmiah
bisa diterangkan begini: virus hepatitis B dan sel-sel kanker hati saya itu,
logikanya, sudah ikut beredar di darah. Berarti virus hepatitis B dan sel-sel kanker
hati saya itu sudah berada di mana-mana. Ketika saya mendapatkan hati baru, dan hati
baru tersebut dilewati darah yang sudah membawa virus hepatitis B dan sel-sel
kanker, maka virus dan sel-sel tersebut otomatis hinggap lagi di hati yang baru.

Lalu virus hepatitisnya berkembang lagi, hati menjadi sirosis lagi, muntah darah
lagi, bengkak lagi, dan kanker merajalela lagi.

Teori seperti itulah yang membuat tekad untuk melakukan transplant kadang mengendur.
Untuk apa transplant. Mahal sekali dan belum tentu berhasil. Berhasil pun hanya
untuk lima tahun. Pun, tambahan hidup lima tahun itu belum tentu bisa dinikmati.
Bisa jadi kualitas hidup pasca transplant tersebut adalah kualitas hidup yang sangat
rendah: harus minum banyak obat, sering masuk rumah sakit, menyusahkan keluarga,
dan menghabiskan banyak uang.

Tapi orang hidup itu tidak boleh pesimistis.
Tidak boleh putus asa.
La taiasu!
La tahzan!
Ingat ajaran agama: Berikhtiar itu bukan mubah, bukan sunnah, tapi wajib!

Jadilah saya memutuskan transplantasi hati.

Tapi saya juga tidak terlalu berharap banyak. Takut kecewa. Orang yang tidak
berharap banyak hidupnya bisa lebih bahagia.

Termasuk, saya tidak membayangkan bahwa setelah transplant nanti saya bisa
jalan-jalan jauh. Saya pikir, saya nanti bisa hidup tapi dengan aktivitas yang
terbatas. Kalau sebelumtransplant saya putuskan membeli helikopter, antara lain
untuk persiapan siapa tahu bisa membantu mobilitas saya.

Allahu Akbar!
Transplantasi hati saya berhasil.

Kualitas hidup saya setelah transplant ternyata tidak selemah seperti yang saya
bayangkan. Ternyata saya bisa bekerja, bisa ke mana-mana dan bisa di mana-mana. Saya
bisa berolahraga setiap hari selama 1,5 jam!

Bahkan kalau Monas lagi hujan, saya bisa berolah raga dengan cara menaiki tangga
darurat gedung-gedung pencakar langit milik BUMN di Jakarta: gedung Kementerian BUMN
di dekat Monas, gedung Pertamina di dekat Masjid Istiqlal, gedung BTN di Harmoni,
gedung Bank Mandiri di Jalan Gatot Subroto, gedung Bank Rakyat Indonesia di dekat
Jembatan Semanggi, dan terakhir gedung Bank BNI di dekat patung Jenderal Sudirman.
Tidak ada lagi gedung tinggi milik BUMN yang belum saya naik-turuni.

Rekor amatir saya: 16 menit naik, 12 menit turun!

Ulang tahun kelima Senin hari ini, tidak ada acara khusus karena ada dua kali sidang
kabinet. Tapi, kemarin, sehari penuh, 1.000 penghafal Al Quran (Hufadz) berkumpul di
Jakarta untuk khataman. Nanti sore, istri saya yang pertama, kedua, ketiga, dan
keempat yang, hehe…, semuanya bernama Nafsiah Sabri, mengundang kelompok pengajian
ibu-ibu untuk berbuka bersama.

Selama empat tahun hidup baru, saya selalu berada di lokasi yang berbeda. Ketika
baru setahun “hidup baru”, saya berada di Kashmir yang saat itu lagi amat tegang
oleh perang saudara. Tahun kedua saya sudah diajak Bapak Presiden SBY ke USA,
Meksiko, Peru, dan Brasil.

Saya agak was-was menempuh perjalanan begitu jauh dan berat saat itu. Tapi ternyata
tidak ada masalah yang besar.

Tahun ketiga saya ke Tiongkok untuk check-up total. Dan tahun keempat, tanpa
disangka-sangka, saya menjadi CEO PLN dan mengundang 1.000 Hufadz untuk khataman Al
Quran.

Allahu Akbar!

Hari ini, lima tahun terlewati dengan penuh berkah. Allah memberikan nikmat jauh
melebihi dari yang saya gambarkan. Jauh sekali.

Semula, tidak lama setelah saya siuman dari pengaruh anestesi selama 13 jam, setelah
saya menyadari bahwa operasi saya berhasil (meski masih untuk sementara), setelah
saya mengucapkan rasa syukur, saya pun bertekad untuk tidak lagi mau mengurus
perusahaan.Terutama karena selama dua tahun saya sakit toh perusahaan tetap
berkembang.

Lalu saya hanya ingin mau mengerjakan tiga hal saja: menjadi guru jurnalistik,
menulis buku,dan kembali mengurus pesantren keluarga. Kebetulan keluarga kami
memiliki lebih dari 100 buah madrasah yang tergabung dalam Pesantren Sabilil
Muttaqien, yang didirikan oleh seorang mursyid tarekat Syathariyah. Saya merasa
bersalah karena selama itu saya terlalu sibuk ‘mencari duit’ sehingga kurang ikut
mengurus pesantren ini.

Sama sekali tidak membayangkan kalau suatu saat saya diminta oleh Bapak Presiden SBY
untuk menjadi CEO PLN. Saya sudah merasa sangat bahagia kalau bisa menjadi guru
jurnalistik, menulis buku, dan mengurus pesantren. Tidak ada bayangan sama sekali
menjadi pejabat.

Saya pun sudah mencoba menolak mati-matian jabatan CEO PLN itu, tapi pada akhirnya
ini: dengan memperpanjang umur saya, mungkin Allah punya kehendak lain yang harus
saya kerjakan. Saya pun menerima takdir itu. Pun ketika kemudian harus menjadi
Menteri Negara BUMN.

Toh saya masih tetap bisa mengajar jurnalistik, menulis buku, dan mengurus pesantren
keluarga.

Pekerjaan penting menjelang lima tahun ‘hidup baru’ ini tentu harus saya lakukan:
memeriksa apakah ada sel-sel kanker di badan saya, sisa-sisa kanker yang dulu.

Allahu Akbar!
Tidak ada.