Thursday, 17 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Achievements

Sertifikat Klasifikasi Kelas II/ Baik untuk Kebun Untuk Kebun Tamora

Activity

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Polls

Sejauh mana Portal Publik PTPN V dapat membantu anda dalam mencari informasi tentang PT Perkebunan Nusantara V?

View Results

Loading ... Loading ...

Komunikasi Yang Sehat Antara Pemimpin Dan Karyawan

10 June 2012

Bicara tentang komunikasi berarti berbicara tentang sesuatu yang dapat dipahami oleh pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi itu sendiri. Tidak ada gunanya berkata bahwa kita sudah mengomunikasikan sesuatu, jika apa yang kita ingin sampaikan tersebut tidak bisa dipahami oleh orang yang kita ajak berkomunikasi.

Itu sebabnya, dalam berkomunikasi yang sehat kita perlu menggunakan bahasa/istilah yang bisa dipahami pihak-pihak yang bersangkutan. Sebagai contoh: jika saya seorang pengusaha dan saya berusaha untuk berkomunikasi dengan seorang dokter –saya ingin menyampaikan sudut pandang saya sebagai pengusaha– mau tidak mau saya harus mencoba membahasakannya dengan istilah-istilah yang umum dan dipahami para dokter, sehingga hal tersebut dapat dipahami dengan mudah oleh lawan bicara saya.

Aspek lain yang juga penting dalam komunikasi yang sehat adalah: komunikasi harus bersifat konstruktif. Maksudnya, komunikasi tersebut lebih menonjolkan sisi positif dari apa yang kita ingin sampaikan. Dalam komunikasi yang konstruktif terdapat arahan atau petunjuk; kalaupun ada teguran, hal tersebut disampaikan tidak secara destruktif. Kesalahan yang ada tetap dikoreksi, tetapi tidak dengan menyerang atau mengintimidasi orang yang bersangkutan, melainkan memberitahukan cara untuk bekerja secara lebih efektif dan efisien.

Intimidasi di tempat kerja
Apabila kita merasa diperlakukan secara intimidatif, ada baiknya kita mengevaluasi diri tentang mengapa hal itu bisa terjadi. Sepanjang yang saya ketahui, jika komunikasi antara pemimpin dan karyawan terjadi dengan baik, tidak ada pemimpin yang ingin terus mengintimidasi karyawannya. Kalaupun Anda bekerja di perusahaan yang pemimpinnya lebih suka mengintimidasi daripada memberikan kata-kata dorongan, mungkin Anda bisa mempertimbangkan untuk meneruskan karir di sana lebih lanjut, karena kondisi kerja seperti itu tidak sehat. Tekanan atau intimidasi yang terus-menerus tidak akan berdampak baik bagi orang yang bersangkutan, apalagi jika ia sudah berusaha melakukan yang terbaik dan berusaha untuk membangun komunikasi, namun kondisi yang ada tetap tidak mengalami perubahan. Jangan terburu-buru mengambil keputusan, lakukanlah evaluasi terlebih dahulu karena keputusan yang diambil secara emosional hanya akan membuat kita menyesal di kemudian hari.

Komunikasi yang konstruktif
Hal ini sangat erat kaitannya dengan evaluasi yang kita lakukan sehubungan dengan kualitas dan kinerja karyawan. Jika hasilnya buruk, kita perlu mulai memberikan arahan lebih lanjut tentang apa yang harus dilakukan. Sebaliknya, ketika pekerjaan dari karyawan yang bersangkutan mulai membaik, kita harus bisa berkata: pekerjaanmu mulai membaik. Kalau ternyata hasilnya sangat baik, kita pun perlu memuji: pekerjaanmu sangat bagus, terus pertahankan; dengan demikian, karyawan akan memiliki sense of achievement.

Di sisi lain, jika ternyata pemimpin masih mencela atau memberi teguran, sebagai karyawan kita tidak boleh berputus asa apalagi sampai memiliki ganjalan di hati, karena itu akan merugikan diri kita sendiri. Setiap kali kita menyimpan konflik, otomatis pekerjaan kita tidak akan bisa maksimal.

Komunikasi dua arah
Sebuah perusahaan seharusnya mengikuti standar prosedur yang selayaknya, termasuk memiliki staf HRD (Human Resources Development). Namun, seringkali perusahaan yang jumlah karyawannya tidak terlalu banyak merasa belum membutuhkan staf HRD.

Apa tujuan dari keberadaan seorang staf HRD? Untuk mengomunikasikan apa yang pemimpin inginkan kepada para karyawan, dan sebaliknya. Jika komunikasi 2 arah ini bisa terus berlangsung, saya yakin semuanya akan menjadi jauh lebih baik, karena bagaimanapun juga dalam sebuah perusahaan kita bekerja sebagai satu tim, baik antara karyawan yang satu dengan karyawan lain, maupun antara karyawan dengan pemimpin. Di sinilah komunikasi yang sehat sangat dibutuhkan.

Membangun komunikasi antara pemimpin dan karyawan
Selama pemimpin terus memberikan apa yang menjadi hak karyawan dan karyawan selalu mengerjakan apa yang menjadi tugas dan kewajibannya, maka segala sesuatu akan berlangsung dengan baik dan komunikasi menjadi sehat. Alasan mengapa terjadi demonstrasi dalam sebuah perusahaan adalah karena seringkali karyawan merasa haknya tidak diberikan oleh pemimpin, sementara sang pemimpin terus menuntut karyawan untuk melakukan kewajibannya. Selama pemimpin bisa menyampaikan apa yang ia harapkan dan dipahami oleh karyawannya (dan di sisi lain pemimpin memberikan apa yang menjadi hak karyawan, dan karyawan melakukan kewajibannya), segala sesuatu pasti akan berjalan sebagaimana mestinya.

Menanggulangi communication gap
Yang paling dibutuhkan untuk mengatasi jurang komunikasi adalah niat baik untuk terjadinya pemulihan. Kita bisa saja memiliki seorang staf HRD, namun jika niat baik itu tidak ada, maka yang akan dipusingkan justru staf HRD yang bersangkutan. Jika kita dapat menempatkan diri dengan tepat dan menghargai orang lain sesuai posisi mereka masing-masing, komunikasi akan menjadi jauh lebih mudah. Apabila inisiatif untuk membangun komunikasi datang dari seorang pemimpin, tindakan yang penuh kerendahhatian tersebut akan membuat karyawan menjadi lebih terbuka, dan demikian pula sebaliknya.

Kemampuan berkomunikasi yang kita miliki besar pengaruhnya terhadap kinerja. Itu sebabnya, penting bagi kita (sebagai pemimpin maupun karyawan) untuk terus mengasah kemampuan dalam berkomunikasi. Ketika kita gagal untuk mengomunikasikan apa yang ada dalam pikiran kita –tujuan maupun harapan kita- akan selalu terjadi miskomunikasi, bahkan kesalahpahaman.

Hal-hal yang berpotensi merusak komunikasi
Yang pertama dan yang paling berbahaya adalah asumsi negatif, karena sekali kita memiliki asumsi negatif tentang lawan bicara kita, secara otomatis komunikasi yang akan terbangun tidak akan bersifat konstruktif, melainkan mulai menyerang dan menjatuhkan. Jadi, jangan biarkan ada asumsi negatif dalam diri kita tentang orang yang sedang kita ajak berkomunikasi, tetapi milikilah sudut pandang yang selalu positif.

Selain asumsi negatif, hal kedua yang dapat merusak komunikasi adalah cara berkomunikasi yang keliru; intonasi yang keliru dapat menciptakan pemahaman yang keliru.

Yang ketiga, pemilihan kata. Dalam berkomunikasi, jangan menggunakan kata-kata yang kasar atau bersifat merendahkan, melainkan kata-kata yang lebih sopan dan etis. Kadangkala, dalam kondisi yang emosional (terlebih jika kita merasa memiliki posisi tertentu dan ada pada pihak yang tidak bersalah), intonasi dan pemilihan kata yang kita gunakan menjadi salah. Meskipun kita sedang tersinggung, kita harus tetap menyadari siapa diri kita sesungguhnya. Dengan begitu, akan jauh lebih mudah bagi kita untuk menguasai diri, betapapun marahnya kita.

Salah satu faktor perusak komunikasi adalah asumsi negatif yang disebabkan oleh penerimaan informasi yang negatif tentang seseorang, maupun oleh perlakuan buruk yang kita terima dari seseorang. Jika kita mendapati bahwa asumsi negatif itu ternyata benar, kita harus mencoba untuk tetap memiliki pengharapan yang positif bahwa orang yang kita ajak berkomunikasi ini sekali waktu akan mengalami perubahan. Di sisi lain, kita juga harus memiliki gambaran yang realistis bahwa bagaimanapun juga, kita semua saling membutuhkan, walaupun ada dugaan-dugaan negatif tentang orang yang kita ajak berkomunikasi. Selama dugaan negatif tersebut masih dalam batas-batas toleransi, sebetulnya kita bisa mengacuhkan atau menyingkirkan asumsi negatif yang ada, kecuali jika asumsi tersebut mulai menjurus ke hal-hal yang ‘membahayakan’.

Orang yang bawel atau cerewet tidak bisa 100% disamakan dengan orang yang komunikatif. Ada orang-orang tertentu yang kebawelannya justru membuat orang-orang di sekitarnya menjadi bingung, tapi setidaknya ia memiliki modal yang dapat diasah dan diperlengkapi dengan kata-kata yang tepat dan pengetahuan yang luas, sehingga apa yang diucapkannya menjadi lebih ‘berbobot’. Ketika orang tersebut mulai memunculkan ‘kecerewetannya’, ia bisa mengucapkan kata-kata penuh pengetahuan dan makna yang dapat menginspirasi, memotivasi dan memberikan dorongan kepada orang lain.

Mengasah kemampuan komunikasi
Cara untuk mengasah kemampuan berkomunikasi yang pertama adalah, kita harus memiliki kata-kata yang cukup, karena komunikasi sangat erat kaitannya dengan kata-kata. Untuk bisa memiliki kosakata yang cukup, pastikan kita banyak membaca. Semakin banyak kita membaca, semakin kita akan memiliki kosakata yang memadai.

Yang kedua, tidak ada salahnya kita mencoba untuk mengonsep apa yang ingin kita bicarakan.

Yang ketiga, banyak-banyaklah berlatih berkomunikasi; ceritakan apa yang ada dalam benak kita kepada teman dekat kita, sehingga mereka akan bisa mengoreksi jika cara berbicara kita masih keliru.

Komunikasi akan membuat kita memiliki lebih banyak relasi. Jika kita mampu berkomunikasi dengan baik, musuh sekalipun akan bisa menjadi teman dan sahabat yang mendorong kita untuk menggapai kesuksesan.

www.kesuksesan-sejati.blogspot.com ~
Penulis : Steven Agustinus

http://www.andriewongso.com/awartikel-1469-Artikel_Tetap-Komunikasi_Yang_Sehat_Antara_Pemimpin_Dan_Karyawan