PSR Membutuhkan Kepastian Benih

Benih merupakan salah satu item terpenting dalam suatu budidaya,terlebih pada budidaya perkebunan kelapa sawit yang usianya bisa mencapai 25 tahun. Artinya begitu pekebun salah dalam memilih benih maka 25 tahun kedepan pekebum akan mengalami kerugian yang luar biasa.

Benar,meskipun Indonesia sebagai penghasil CPO terbesar di dunia,tapi jika melihat dialapangan produktivitas tanaman kelapa sawit yang menggunakan benih asalan atau tidak bersertifikat cukup besar,yaitu pada tanaman kelapa sawit milik petani mandiri atau swadaya.

Padahal menurut catatan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian lahan kelapa sawit di Indonesia tercatat hinhha bulan februari tahun 2018 seluas 14,03 juta hektar. Angka itu didapat setelah Kementan melakukan perbaikan data. Dari luas lahan tersebut sekitar 5 juta ha merupakan perkebunan sawit milik rakyat dan tidak sedikit petani yang menggunakan benih asalan,

Padahal,dalam perkebunan kelapa sawit produksinya 50% didasari oleh keunggulan benih dan 50% adalah faktor Good Agricultural Practice. “ Karena itu,kira mendukung kegiatan Peremajaan Sawit Rakyat pada perkebunan kelapa sawit milik rakyat,” kata Hasril Hasan Siregar,Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit kepada Media Perkebunan.

Menurut Hasril, PSR sangatlah penting karena produktivitas TBS dari benih asalan atau tidak bersertifikat hanya sekitar 12-15 ton per hektar per tahun. Angkat tersebut jauh lebih rendah dengan menggunakan benih bersertifikat yang bisa mencapai antar 25-30 ton TBS per hektar per tahun.

Meski begitu, tidak sedikit petani yang salah dalam memilih benih kelapa sawit tersebut,khususnya petani swadaya atau mandiri. Akibatnya, dengan rendahnya produktivitas petani mandiri maka memukul produktivitas nasional.

“Sehingga dalam PSR ini PPKS ikut berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan benih rakyat,seperti di Provinsi Sumatera Selatan,Sumatra Utara dan Riau,”tutur Hasril.

Bahkan,Hasril mengakui,khusus peremajaan yang di Provinsi Sumatra Selatan benih yang disalurkan penuh berasal dari PPKS. Tapi untuk yang di Sumatra Utara dan Riau,PPKS berbagi dengan produsen benih lainnya yang juga memang sudah disertifikasi Ditjen Perkebunan,Kementan.

“Jadi ada sekitar 4 ribu benih yang disalurkan untuk Sumatra Selatan,”terang Hasril.

Artinya,menurut Edy Surprianto,GM Satuan Usaha Strategis Bahan Tanaman Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melihat pentingnya benih dalam program PSR ini sehingga sangatlah wajar jika ada sedikit perhatian untuk industri pembibitan dalam mendukung PSR. Ini karena dana yang dibutuhkan untuk satu buah bibit siap tanam tidak kecil.

“Sebab dana untuk bibitnya saja sekitar Rp 1 triliun dengan asumsi jika tahun 2018 ini ada seluas 185 ribu hektar lahan perkebunan kelapa sawit yang akan diremajakan. Sehingga perhitungannya jika satu hektar membutuhkan bibit siap tanam sekitar 150 bibit maka kebutuhan bibit siap tanam sekitar 27 juta dengan asumsi biaya untuk satu buah bibit tanam dengan harga Rp 38.000 per bibit,”urai Hasril.

Melihat perhitungan tersebut,menurut Edy,tidaklah heran jika pelaku pembibitan harus kembali menghitung ulang kemampuan biaya yang dikeluarkan untuk program PSR karena tingginya anggaran untuk memenuhi kebutuhan. Kecuali jika dana PSR yang dikeluarkan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit alokasi pertamanya untuk pembibitan ke pembibitan siap tanam.

Ini karena dari mulai kecambah hhingga bibit siap tanam memerlukan pengeluaran yang tidak sedikit. Diantaranya mulai dari menyiapkan bahan tanam seperti pupuk dan polybag. Kemudian penyiraman hingga pegawai untuk melakukan perawatan hingga akhirnya jadi bibit siap tanam berkualitas yang menghasilkan tanaman berproduktivitas tinggi.

“Semua itu memerlukan biaya yang tidaklah sedikit,”tegas Edy.

Meski begitu, Edy mengaku PPKS berencana tidak menaikkan harga jual benih sawit. Harga jual benih sawit tetap dipatok seharga Rp 7500/butir. Khusus untuk petani,harga benih tetap diberikan potongan sebesar 10%.

Akan tetapi, pihaknya berharap penjualan benihnya tahun 2018ini bisa lebih baik dibandingkan dengan tahun yang lalu,walaupun tidak ada peningkatan harga kecambah. Diantaranya dari penjualan benih varietas PPKS DxP 540 NG yang dirilis pada April 2017.

“Untuk sementara kapasitas produksi masih terbatas, karena jumlah pohon induk yang terbatas. Namun,kami berupaya untuk menambah jumlah pohon induk secara berkelanjutan di semester dua ini dan waktu mendatang,”kata Edy.

Kendati demikian,Edy akan tetap optimis bisa memenuhi kebutuhan benih untuk program PSR. Ini karena memang berkomitmen dari PPKS untuk memudahkan masyarakat dalam memperoleh benih bersertifikat. Bahkan dari kapasitas produksi kecambah PPKS sekitar 55% nya adalah petani.

Adapun utnuk program PSR itu sendiri,PPKS telah menyiapkan 4,8 juta bibit kelapa sawit. Pembibitan ini dilakukan tidak hanya oleh PPKS namun juga pewaralaba yang bekerjasama dengan pihaknya.

“Jadi PPKS melakukan pembibitan sebanyak 2,2 juta,sementara pewaralaba membibitkan sekitar 2,6 juta. Bibit iini akan dihadirkan dalam 15 provinsi,”terang Edy.

Artinya,Edy berharap “dalam program PSR ini kedepan tidak ada lagi kebun yang menggunakan benih asalan ataupun tidak bersertifikat. Kemudian juga ada jaminan untuk produsen benih agar benih yang diproduksi ini terserap. Jangan sampai kami sudah produksi tetapi tidak terserap,”YIN

 Sumber :Majalah Media Perkebunan Edisi 176,Juli 2018 Hal.16-17


Kategori Artikel