Menilik Tantangan Dibalik Tingginya Ekspor Minyak Sawit Indonesia

JAKARTA - Tahukah anda apa itu Elaeis guineensis? ternyata itu adalah nama latin yang cantik dari komoditas yang akrab disebut Kelapa Sawit. Kini komoditas tersebut telah menjadi salah satu primadona perkebunan di Indonesia sejak kolonialisasi pemerintah hindia belanda.

Pengembangan komoditas ini secara masif dilakukan pada dekade 1960-an, atau disaat masa orde Baru Presiden Soeharto dengan program Repelita-nya. Seiring dengan berkembangnya waktu, PT. Perkebunan Nusantara yang dimiliki negara mengalami pertumbuhan pada tahun 1970-an dilanjut perkebunan petani kecil pun mengalami perkembangan setelah 1979.

Dalam catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Industri kelapa sawit mamapu menghasilkan kinerja yang cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari data yang diproduksi oleh GAPKI, produksi CPO (Crude Palm Oil) atau minyak sawit mentah tahun 2017 mencapai 38,17 juta ton dan PKO (Palm Kernel Oil) atau minyak inti buah kelapa sawit mencapai 3,05 juta ton sehingga total keseluruhan produksi minyak sawit Indonesia adalah 41,98 juta ton.

Angka tersebut menunjukkan peningkatan produksi 18% jika dibandingkan dengan produksi tahun 2016 yang hanya mencapai 35,57 juta ton, yang mana terdiri dari CPO sebanyak 32,52 juta ton dan PKO 3,05 juta ton. Sementara lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia diperkirakan mencapai 14,03 juta.

Pada tahun 2017 lalu ekspor minyak sawit Indonesia berupa CPO dan produk turunan (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebesar 23% atau dari 25,11 juta ton pada tahun 2016 meningkat menjadi 31,05 juta ton. Alhasil, kelapa sawit termasuk kedalam ranking 10 besar penyumbang devisa Indonesia.

Di tahun 2017, nilai ekspor minyak sawit mampu menembus US$ 2,97 milyar atau meningkat sekitar 26% dbandingkan tahun 2016 yang hanya mencapai US$ 18,22 milyar. Dengan demikian, nilai ekspor minyak kelapa sawit tahun 2017 merupakan nilai tertinggi sepanjang sejarah yang pernah dicapai oleh perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Sayangnya perdangan minyak sawit di dunia tidak mulus, misalnya saja ada tantangan perdagangan dari India yang menerapkan bea masuk tinggi. Namuhn demikian ekspor ke Negara Uni Eropa mengalami peningkatan yang mencapai 5,03 juta ton, atau lebih tinggi dibanding capaian tahun 2016 yang hanya sebesar 4,37 juta ton.

Kendati demikian, black campaign negatif yang diciptakan oleh negara Uni Eropa masih terus muncul, sehingga menciptakan Resolusi Parlemen Eropa yang isinya mengenai pelarangan biodiesel berbasis sawit.  Menurut negara negara Uni Eropa, sawit telah menciptakan banyak masalah seperti deforestasi, korupsi, pekerja anak, sampai pelanggaran HAM. Kasus ini langsung di respon pemerintah Indonesia yang akan melawan serangan kampanye hitam masyarakat Eropa dengan cara pro aktif mensosialisasikan mekanisme produksi sawit indonesia kepada masyarakat Eropa. Langkah tersebut diyakini dapat mempertahankan eksistensi perkebunan kelapa sawit negara Indonesia.

Bukan hanya berasal dari negara negara Uni Eropa saja, black campaign pun datang dari negara Adikuasa, Amerika Serikat yang memberlakukan kampanye antidumping untuk biodiesel Indonesia. Meskipun demikian, Indonesia tetap kukuh mempertahankan kualitas dan eksistensi sawit. Terbukti dengan tetap tumbuhnya permintaan minyak sawit dari negara Amerika Serikat. Tahun 2017, tercatat sebanyak 1,18 juta ton ekspor minyak sawit ke negara AS, nilai tersebut meningkat sebesar 9% dibandingkan dengan permintaan tahun 2016 sebesar 1,08 juta ton.

Sumber : https://www.infosawit.com/news/8973/menilik-tantangan-dibalik-tingginya-ekspor-minyak-sawit-indonesia

 


Kategori Artikel