Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian XLIII)

Lagi-lagi saya lontarkan perlunya memandang persoalan secara seimbang. Saya memahami kekhawatiran beberapa pihak yang menganggap pembukaan lahan perkebunan sawit menjadi penyebab rusaknya lingkungan. Namun pada kenyataannya tidak seburuk itu. Kami dari pihak pengembang perkebunan kelapa sawit pun sudah memikirkan bagaimana caranya sawit bisa terus dibudidayakan dengan mengindahkan aspek-aspek keberlanjutan lingkungan. Oleh karena itu, usahawan perkebunan, organisasi perkebunan kelapa sawit, aktivis lingkungan, sampai dengan perusahaan retailer duduk dalam satu meja untuk membentuk RSPO ( Roundtable on Sustainable Plam Oil). Organisasi tersebut didirikan dengan tujuan agar perkebunan kelapa sawit bisa terus melanjutkan aktivitasnya tanpa menggangu lingkungan, yaitu dengan cara yang berkelanjutan.

 

Forum RSPO juga menyusun 139 indikator kebun sawit yang ramah lingkungan. Setiap kebun yang memenuhi indikator tersebut akan mendapatkan sertifikat yang sekaligus menunjukan itikad baik pengelola kebun untuk menjaga lingkungan. Dari sini sebetulnya bisa dinilai kemauan para pengusaha sawit untuk mengubah diri dan mencurahkan perhatian pada lingkungan. Namun selalu saja ada anggapan negatif bahwa pengusaha perkebunan sawitlah satu-satunya perusak lingkungan yang paling berbahaya didunia ini sehingga perkataanya tak perlu lagi dipercaya. Inilah cara pandang ekstem yang sebetulnya kurang mengena juga. Melalui RSPO kami inggin mengentaskan persoalan ini harus terlibat dalam perseteruan panjang yang justru kontraproduktif.

Sumber : https://sawitindonesia.com/rubrikasi-majalah/berita-terbaru/memoar-duta-besar-sawit-indonesia-bagian-xliii/

 


Kategori Artikel