Akses Informasi


KENAPA HARGA TBS TURUN?

Tumbuhnya industri biodiesel di Indonesia sejak tahun 2009 silam, digadang-gadang akan menjadi bahan bakar alternatif di masa depan. Namun, berbagai masalah kerap terjadi, utamanya nilai keekonomian yang tak kunjung tercapai.

Bertumbuhnya industri biodiesel, pada mulanya mendapat rangsangan insentif pajak dari negara-negara maju. Namun, berbagai penolakan yang terjadi kian menjadi soal, maka subsidi pajak negara maju dicabut, sehingga harga jual biodiesel, tidak layak secara nilai keekonomian.

Sejak biodiesel dihasilkan, tujuan utama produk bahan bakar terbarukan ini untuk memenuhi permintaan pasar ekspor. Kendati pemerintah juga menyatakan mandatori penggunaan biodiesel, namun secara nyata tidak pernah terealisasi dengan baik. Posisi ekspor biodiesel pernah mencapai lebih dari 3 juta ton/tahun, dengan tujuan utama pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Keberadaan biodiesel berbahan baku minyak sawit, pernah menjadi primadona di pasar internasional. Kala itu, sebagai bahan baku alternatif bahan bakar, biodiesel berhasil menyandingkan harga CPO mengikuti tren kenaikan minyak bumi mentah (crude oil). Akibatnya, harga CPO melonjak naik lebih dari 100%, sehingga keuntungan usaha minyak sawit kian kinclong.

Menghidupkan Pabrik Biodiesel

Upaya masa lalu itu, kini kembali dihembuskan, tetapi kondisi ekonomi global dewasa ini sangatlah berbeda. Pasalnya, secara global, hampir semua perekonomian di setiap negara mengalami penurunan. Alhasil, daya beli masyarakat global sangat rendah, terlebih situasi politik di wilayah timur tengah yang mencekam, membuat harga minyak bumi semakin terpuruk.

Beberapa analis minyak bumi, memperkirakan harga crude oil akan mencapai US$ 30/barrel pada akhir tahun 2015. Harga crude oil yang meroket turun hingga 50% tersebut, menjadi pemicu utama bergejolaknya suplai dan permintaan barang, termasuk CPO.

Harga terendah crude oil sebesar US$ 30/barrel, diprediksi ekuivalen dengan harga CPO sebesar US$ 300-350/Ton. Jika melihat harga CPO yang masih bertahan diatas US$ 400/Ton, maka biodiesel tidak akan pernah mencapai nilai keekonomiannya. Karena tidak ekonomis, maka industri biodiesel yang sudah terlanjur banyak dibangun di Asia termasuk Indonesia terancam tidak akan pernah bisa hidup.

Pelaku bisnis biodiesel yang sebagian besar berasal dari pedagang, melihat asumsi ini sebagai dasar utama untuk menghidupkan industri biodiesel yang sudah terlanjur dibangun. Jika, pabrik yang sudah dibangun mangkrak, bisa jadi kerajaan bisnis yang sudah dibangun puluhan tahun akan segera runtuh.

Sebagai bahan baku utama biodiesel, harga CPO memegang pengaruh lebih dari 70% dari harga jual biodiesel. Sebab itu, upaya melemahkan harga CPO merupakan syarat utama demi menghidupkan kembali pabrik biodiesel. Namun, melemahnya harga CPO secara nyata akan melumpuhkan semua lini usaha minyak sawit dari hulu hingga hilir.

Pasalnya, bila harga CPO terlalu rendah, sedangkan biaya produksi sudah terlanjur meningkat, maka daya saing industri perkebunan hingga pabrik CPO akan kian melemah. Bila industri hulu melemah, maka industri hilir juga tidak akan menguat. Sebagai contoh, bila kualitas CPO kian menurun, maka kualitas produk hasil industri hilir, juga tidak akan mampu bersaing dengan industri serupa yang menggunakan bahan baku berbeda.

Legitnya CSF, Buat Industri Besar

Bagi petani dan perusahaan perkebunan kelapa sawit, keberadaan pungutan CSF bak petir di siang bolong, namun bagi pedagang dan industri biodiesel, keberadaan pungutan CSF bak hujan uang di negeri sendiri. Artinya, keuntungan besar akan didapat pedagang dan industri biodiesel.

Apakah dampak menguntungkan bagi pedagang dan industri biodiesel?

Sumber InfoSAWIT terpercaya yang berasal dari petinggi salah satu perusahaan dagang ternama di Indonesia, menyebutkan secara terbuka berbagai keuntungan yang akan didapat pedagang dan industri biodiesel bila CSF berhasil diterapkan.


Kategori Akses Informasi