Ekspor CPO Diperkirakan Telah Turun 50 Persen

JAKARTA (RIAUPOS) - Pelemahan ekonomi dunia diperkirakan telah memberi dampak signifikan terhadap nilai ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia. Ekspor CPO Indonesia diperkirakan telah merosot hingga sekitar 50 persen dari nilai ekspor tahun lalu.

Wakil Ketua Komisi VI DPR Nurdin Tampubolon mengatakan, merosotnya permintaan ekspor CPO berakibat anjloknya harga TBS dan CPO di dala negeri.

"Penurunan ekspor hingga lebih dari 50 persen. Ini karena permintaan pasar dunia turun drastis akibat kondisi perlambatan perkonomian dunia. Produk-produk unggulan kita jadi payah," ujar Nurdin  di Jakarta, Kamis (3/9).

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kini bertengger di kisaran Rp 600 per kilogram, padahal pada keadaan noral harganya lumayan yakni dikisaran Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per kg.

Anjloknya harga TBS kelapa sawit ini lantaran harga Crude Palm Oil (CPO) di pasar dunia juga merosot dratis, yakni USD 400 per metric ton (MT). Bandingkan dengan harga rata-rata sepanjang 2014 yang bertengger di angka USD 818,2 per MT.

Data resmi yang dilansir Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), total ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia pada  2014 hanya mencapai 21,76 juta ton atau naik 2,5 persen dibandingkan dengan total ekspor 2013, 21,22 juta ton.

Seadngkan produksi CPO dan turunannya pada 2014 diprediksi mencapai 31,5 juta ton (termasuk biodiesel dan oleochemical). Angka produksi ini naik 5 persen dibandingkan total produksi tahun 2013 yang hanya mencapai 30 juta ton.

Meski GAPKI belum merilis tren angka ekspor semester I 2015 ini. Tapi menurut Nurdin tadi, ekspor turun hingga 50 persen dibanding pada periode yang sama 2014.

Menurut Nurdin, harga TBS Rp 600 per kg saat ini, merupakan harga terendah sepanjang 10 tahun terakhir. "Ini harga terendah dalam 10 tahun terakhir dan kita tidak bisa apa-apa, hanya bisa menunggu perbaikan pasar dunia," ujarnya.(sam).


Kategori Akses Informasi