Kamis, 24 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

PT Perkebunan Nusantara IV (Persero)

Visi Kementerian BUMN : "Meningkatkan peran BUMN sebagai instrumen negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme"

Prestasi

Kegiatan

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Jajak

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

CPO tembus level harga US$1.000/ton

15 Januari 2008

JAKARTA: Harga kontrak minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO)
di Malaysia, yang menjadi patokan harga komoditas dunia, menembus level
psikologis US$1.000 per ton atau rekor tertinggi baru.Peningkatan harga itu terjadi seiring dengan berkurangnya pasokan
komoditas itu untuk periode Desember sebesar 7%, sementara permintaan
terus melonjak.Berdasarkan data Malaysian Palm Oil Board, penurunan pasokan ini dipicu
anjloknya produksi 15%, atau penurunan terburuk sepanjang 2007.
Pada perdagangan kemarin, harga CPO untuk kontrak pengiriman Februari
di Malaysia naik hampir 2% menjadi 3.410 ringgit (US$1.048) per ton.
Sepanjang 2007 harga kontrak teraktif CPO rata-rata mencapai level
2.463 ringgit.”Harga CPO berpotensi melanjutkan peningkatannya dipicu
ketidakseimbangan pasokan dan permintaan minyak nabati,” kata Ben
Santoso, analis perkebunan DBS Vickers Securities, seperti dikutip
Bloomberg. Dia menaikkan proyeksi harga rata-rata CPO untuk 2008 menjadi 3.100 ringgit per ton dari level sebelumnya 2.650 ringgit.
Ivy Ng, analis CIMB Securities di Kuala Lumpur, juga menaikkan prediksi
harga rata-rata CPO pada 2008 menjadi 2.900 ringgit per ton, dipicu
meningkatnya risiko kekurangan pasokan minyak nabati termasuk minyak
kedelai.
Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Derom
Bangun menilai kenaikan harga CPO hingga di atas US$1.000 per ton
dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya lonjakan harga minyak mentah
dunia. Meski dalam beberapa hari terakhir harga minyak mentah mulai turun dari
level tertingginya US$100 per barel pada 3 Januari 2008, pelaku pasar
CPO belum merespons dengan menurunkan harga minyak sawit itu.
Selain itu, menurut Derom, periode Desember-Januari ini produksi CPO
turun 5%-10% menjadi 1,55 juta-1,6 juta ton dari periode
September-November mencapai 1,9 juta ton. ‘Produksi CPO setiap bulan dalam satu tahun memang berbeda-beda.
Puncak produksi pada 2007 terjadi pada September-November yang mencapai
11,5% dari produksi rata-rata per tahun. Rata-rata produksi setiap
bulannya dalam setahun sebesar 8,33%. Pada awal tahun ini produksi
hanya 6%.”

Transaksi olein

Sementara itu, di tengah lonjakan harga CPO ini, aktivitas perdagangan
kontrak berjangka olein (turunan dari CPO) di Bursa Berjangka Jakarta
(BBJ) mulai menghilang.Pada perdagangan akhir tahun lalu, volume transaksi kontrak berjangka
olein di BBJ, bahkan benar-benar kosong. Pada periode November volume
perdagangan komoditas itu sempat tercatat mendapat lima lot transaksi. “Olein sudah wafat, sudah tidak ada lagi yang bertransaksi minyak
goreng ini di BBJ,” kata Dirut BBJ Hasan Zein Mahmud.
Kendati demikian,
pihaknya menargetkan pada tahun ini kontrak berjangka CPO dapat
ditransaksikan lagi di BBJ. Ketua Asosiasi Pialang Berjangka Indonesia Suparman mengatakan perlu
ada kebijakan khusus agar pialang mau bertransaksi komoditas itu.”Mungkin perlu ada reward and punishment bagi pialang agar mau
bertransaksi komoditas. Misalnya memberi batasan transaksi SPA [Sistem
Perdagangan Alternatif] kalau target transaksi komoditasnya tidak
tercapai.”

Source :Bisnis Indonesia



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

: *


*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>