Manfaat Sisi Ekologis Kelapa Sawit, Selain Sisi Ekonominya

JAKARTA - Banyak dari masyarakat memandang perkebunan kelapa sawit hanya dari sisi ekonominya saja, padahal dibalik itu terdapat berjuta manfaat yang diberikan untuk keberlangsungan hidup Bumi. Salah satunya seperti dari sisi ekologis maupun ekosistem.

Sejatinya, Indonesia merupakan negara utama produsen kelapa sawit dunia, lantaran memiliki luas lahan kelapa sawit yang sangat besar. Merujuk data dari Kementerian Pertanian tahun 2018 lahan kelapa sawit di Indonesia tercatat seluas 14,31 juta ha (perkebunan rakyat seluas 5,81 juta ha, perkebunan negara seluas 713.000 ha, dan milik swasta adalah 7,79 juta ha). Areal tersebut lebih luas bila dibandingkan negara produsen minyak sawit lainnya seperti Malaysia, Nigeria, Thailand dan Columbia.

Perkebunan kelapa sawit di Indonesia dengan luas yang begitu besar selain menjadi komoditas utama penyumbang devisa negara dari ekspor kelapa sawit mentah (CPO) namun juga memberikan kontribusi sebagai “paru-paru” Dunia. Seperti halnya pada manusia, paru-paru berfungsi membersihkan dan membuang karbondioksida dari dalam tubuh dan memasukan oksigen kedalam tubuh manusia.

Kebun kelapa sawit mampu membersihkan udara kotor dengan cara menyerap karbondioksida dari atmosfer bumi dan menghasilkan oksigen untuk kehidupan di Bumi (Henson, 1999). Hanya tanaman termasuk kelapa sawit yang diberikan fungsi khusus untuk keberlangsungan dan keseimbangan ekosistem planet bumi ini maka perlu diperhatikan terutama dalam proses pemeliharaannya.

Selain itu, perkebunan kelapa sawit merupakan bagian mata rantai penting dalam menghubungkan sumber energi (matahari) dengan kebutuhan energi bagi kehidupan manusia di Planet Bumi. Melalui kebun sawit (proses fotosistesis) energi dari matahari ditangkap dan disimpan dalam bentuk energi kimia yaitu minyak sawit maupun biomas sawit lainnya (Fairhurdt, et, al, 2004). Dari minyak sawit dan biomas lainnya dengan teknologi pengolahan dapat dihasilkan berbagai produk dan kegunaan bagi masyarakat termasuk energi (biodesel, bioetanol, biogas, biovatur dan biolistrik). Minyak fosil yang dikenal dan banyak digunakan saat ini berasal dari fosilisasi jutaan tahun biomas.

Manfaat perkebunan kelapa sawit lainnya yaitu sebagai bagian dari mata rantai fungsi hidrologis ekosistem sebagaimana tanaman lainnya, fungsi evapotranspirasi yang melekat pada fisiologis tanaman kelapa sawit menjadi bagian penting dari pemeliharaan kelembapan udara mikro maupun penguapan air.

Penyimpanan air tanah melalui biopori perakaran, penyimpanan air metabolit yang terikat dalam biomas sawit merupakan bagian dari mata rantai daur hidrologis ekosistem. Berbagai macam manfaat diatas diberikan oleh perkebunan sawit tanpa henti selama 25 tahun, dari semua manfaat tersebut hanya satu fungsi yaitu fungsi ekonomi yang dibayar masyarakat sedangkan manfaat lainnya diberikan perkebunan kelapa sawit secara gratis pada masyarakat dan dunia.

Saat ini diakui, masih ada beberapa permasalahan mengenai perkebunan kelapa sawit yang dianggap memberikan dampak terhadap lingkungan dan mengganggu keseimbangan alam. Misalnya ada tudingan bahwa kebakaran lahan terjadi akibat pembukaan perkebunan kelapa sawit, hanya saja tudingan itu dibutuhkan kajian lebih dalam dan membutuhkan bukti fakta di lapangan, lantaran informasinya masih simpang siur.

Bagi pelaku usaha atau petani yang memiliki perkebunan kelapa sawit, dengan melakukan pembakaran lahan adalah tindakan sembrono, lantaran tindakan tersebut sama saja bunuh diri, alias mematikan mata pencaharian. Apalagi sudah semenjak beberapa tahun silam, pelaku sawit dan petani sepakat untuk melakukan pembukaan lahan kelapa sawit tanpa bakar (Zerro burning). Kendati demikian terdapat perilaku oknum yang sengaja membakar lahan untuk kepentingan pribadi. Disini perlu dilakukan tindak tegas dan hukuman yang berat. olehkarenanya dibutuhkan kerjasama semua pihak untuk melakukan pencegahan, salah satunya dengan membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA), yang sudah dilakukan perusahaan perkebunan beserta masyarakat desa sekitar kebun.

Sebab itu sudahs sewajarnya, Pemerintah, perusahaan swasta maupun masyarakat terutama yang erat kaitannya dengan perkebunan kelapa sawit perlu waspada terutama pada musim kemarau (maret-september) dan angin kencang yang biasanya kebakaran berpotensi terjadi di lahan kering dan bergambut. Dengan mengantisipasi segala kemungkinan besar yang akan terjadi -terkait potensi kebakaran lahan- akan mempermudah semua pihak dalam menjaga keberlangsungan ekosistem Bumi (sumber:infosawit.com)

 

 


Kategori Artikel
Sub Kategori Berita