Profil Perusahaan

Profil Perusahaan

A. DASAR PENDIRIAN

Aktivitas kedirgantaraan di Indonesia dimulai tahun 1946 dengan dibentuknya Biro Rencana dan Konstruksi Pesawat di lingkungan Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara di Madiun, yang kemudian dipusatkan di Andir, Bandung. Tahun 1953, kegiatan tersebut mendapat wadah baru dengan nama Seksi Percobaan yang pada tahun 1957 berubah menjadi Sub Depot Penyelidikan, Percobaan dan Pembuatan Pesawat Terbang. Tahun 1960, Sub Depot ini ditingkatkan menjadi Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP) yang kemudian berubah menjadi Komando Pelaksanaan Industri Pesawat Terbang (KOPELAPIP) yang pada tahun 1966 digabung dengan PN Industri Pesawat Terbang Berdikari menjadi Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR).

Pada tahun 1975, PT Pertamina membentuk Divisi Advanced Technology dan Teknologi Penerbangan (ATTP) yang bertujuan menyiapkan infrastruktur bagi industri kedirgantaraan di Indonesia. Berdasarkan Akta Notaris No. 15, tanggal 24 April 1976, didirikan PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio, dipimpin oleh Prof. Dr. Ing. B.J.Habibie. Perusahaan ini merupakan penggabungan antara LIPNUR dan ATTP. Kemudian pada bulan April 1986, melalui Keputusan Presiden (KEPRES) N0. 15/1986 dan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan, nama perusahaan diganti menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dan tanggal 24 Agustus 2000, nama perusahaan secara resmi diubah oleh Presiden Republik Indonesia saat itu menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Pada tahun 1998, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1998 tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia Untuk Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) Di Bidang Industri, saham negara pada PT IPTN (Persero) dialihkan menjadi penyertaan pada PT Bahana Pakarya Industri Strategis (Persero) (PT BPIS), dengan demikian status PT IPTN berubah menjadi anak perusahaan PT BPIS.

Kemudian pada tahun 2002, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2002 tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia Ke Dalam Modal Saham PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, PT Pindad, PT Dahana, PT Krakatau Steel, PT Barata Indonesia, PT Boma Bisma Indra, PT In dustri Kereta Api, PT Industri Telekomunikasi Indonesia Dan PT LEN Industri Dan Pembubaran Perusahaan Perseroan (Persero) PT Bahana Pakarya Industri Strategis, PT DI berubah menjadi badan hukum persero.

B. VISI, MISI, DAN TUJUAN

Visi PT DI adalah menjadi perusahaan kelas dunia dalam industri berbasis pada penguasaan teknologi tinggi dan mampu bersaing dalam pasar global dengan mengandalkan keunggulan biaya.

Misi PT DI adalah sebagai pusat keunggulan di bidang industri dirgantara terutama dalam rekayasa, rancang bangun, manufaktur, produksi dan pemeliharaan untuk kepentingan komersial dan militer dan juga aplikasi di luar industri dirgantara. Menjalankan usaha dengan selalu berorientasi pada aspek bisnis dan komersial dan dapat menghasilkan produk jasa yang memiliki keunggulan biaya.

PT DI didirikan dengan tujuan untuk melakukan usaha di bidang perhubungan, komunikasi, pertahanan dan keamanan dalam bentuk industri dan perdagangan produk dan jasa serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya Perseroan untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat untuk mendapatkan/mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai Perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.

Kegiatan usaha utama adalah memproduksi, memasarkan, menjual dan mendistribusikan hasil produksi industri kedirgantaraan dan pertahanan & keamanan berupa pesawat terbang dan helikopter, komponen pesawat terbang, pemeliharaan dan modifikasi pesawat terbang, sistem persenjataan dan jasa teknologi.

D. STRUKTUR USAHA

Usaha Induk

Kegiatan usaha perusahaan (Induk) untuk menunjang visi, misi, dan tujuan perusahaan tergambar dalam Portofolio Bisnis/Produk saat ini sebagai berikut:

  1. Aircraft Integration, yaitu unit yang memproduksi pesawat terbang dan helikopter:

• Pesawat Terbang NC 212-200 dan C 212-400

• Helikopter NBELL-412  

• Helikopter NAS-332  

• Pesawat terbang CN235 dan CN295

2. Aerostructure, yaitu unit yang memproduksi tooling and airframe component pesawat terbang untuk pabrik pesawat:

• Airbus A320/321/330/340/350/380

• Boeing : komponen B747-8/777/787

• Eurocopter : komponen MK2, EC725

• EADS: komponen CN235, C295, C212-400

3. Aircraft Services, yaitu unit yang melakukan MORA (Maintenance, Overhaul, Repair, Alteration) bagi pesawat terbang:

• Produksi PTDI: CN235, NBELL412, NBO-105, NC-212-100/200, NAS332

• Non produksi PTDI seperti B737-200/300/400/500, A320, F100, F27

• Distributor suku cadang pesawat terbang (customer logistic support)

4. Technology & Development, yaitu melakukan Engineering Design, IT System, and Weapon System untuk:

• Pesawat terbang produk PT DI

• Desain untuk Alteration Aircraft Service

• Desain Customization untuk Aircraft Integration

• Torpedo SUT dan Roket 2,75” FFAR            

Bisnis utama PT DI adalah memproduksi pesawat terbang dan helikopter yang dihasilkan oleh Direktorat Aircraft Integration (AI) yang didukung oleh tiga direktorat usaha lainnya. Direktorat Teknologi dan Pengembangan (DT) bertanggungjawab dalam mengembangkan produk perusahaan, Direktorat Aerostructure (AE) membuat komponen produk PT DI maupun komponen pesanan dan Direktorat Aircraft Services (AS) melakukan perawatan purna jual terhadap pesawat produksi PT DI maupun pesawat lainnya.

Anak Perusahaan

PTDI memiliki beberapa anak perusahaan dan perusahaan patungan yang berada di Indonesia dan di luar negeri:

1. Anak Perusahaan:

  1. PT Nusantara Turbin dan Propulsi (PT NTP) di Bandung, 99,99% sahamnya dimiliki oleh PT DI. Bidang usaha bergerak di bidang maintenance & overhaul serta pembuatan part & Aeroengine component maupun non-aeroengine termasuk berbagai jenis turbine.
  2. IPTN North America, Inc (INA) di Seattle – Amerika Serikat, 100% saham dimiliki oleh PT DI. Bidang usaha mendukung kegiatan industri dan perdagangan di Indonesia dengan memberikan jasa pemasaran dan memasok berbagai produk & jasa engineering yang dibutuhkan bagi customer Indonesia dan Amerika.

2. Perusahaan Patungan:

  1. PT GE Technology Indonesia (PT GETI) di Bandung, 10% sahamnya dimiliki PT DI, 10% dimiliki PT PAL Indonesia (Persero), dan 80% dimiliki GE Pacific. Bidang usaha bergerak di bidang industri alat-alat kedokteran dan jasa konsultasi manajemen di bidang peralatan kedokteran, engineering, industri, dan permesinan.
  2. PT GE Nusantara Turbin Services (PT GENTS) di Bandung, 41,40% sahamnya dimiliki PT DI, 40,20% dimiliki PT GETI, dan 18,40% dimiliki GE Pacific. Bidang usaha bergerak di bidang service & repair GE dan non-GE combustion turbine, component dan spare parts.  

KONDISI DAN KINERJA PERUSAHAAN TAHUN 2006 - 2010

  1. INDUSTRI SECARA UMUM

Tercatat 102 pesawat C212-200 dibangun dan diserahkan oleh PT DI kepada berbagai pengguna, dimana 79 pesawat diantaranya masih terbang. PT DI masih memiliki 6 ariframe C212-200. Saat ini, pemasaran C212-200 oleh PT DI lebih difokuskan pada pasar domestik yakni pada 3 angkatan dan Polri serta terbatas pada upaya untuk menghabiskan stok yang tersisa. Sejak tahun 2006, PT DI menjadi single sources untuk komponen NC212-400. 2 set komponen telah dikirimkan ke fasilitas perakitan di Seville-Spanyol pada tahun 2010 dan 3 set dikirimkan pada tahun 2011. PT DI bertanggungjawab untuk menjual dan mengirimkan C212-400 di wilayah ASEAN.

Sebanyak 256 pesawat CN-235 telah diserahkan sejak diluncurkan tahun 1983, 59diantaranya dibuat dan diserahkan oleh PT DI. CN-235 merupakan co-design dan co-product dengan porsi 50-50 bersama Airbus Military (dahulu CASA). Saat ini, CN235 sebagian besar dipergunakan untuk military transport dengan pangsa pasar sekitar 50%. Adapun disegmen lainnya CN235 bersaing ketat dengan Bombardier (DHC8), Saab (Saab340) dan Embraer (Emb120). Menurut estimasi Bombardier, dalam 20 tahun ke depan jumlah permintaan pesawat untuk kelas 20-59 diperkirakan hanya 200 unit, dimana 100 diantaranya untuk pesawat bermesin jet dan 100 sisanya untuk pesawat turboprop.

PT DI memiliki potensi untuk penguatan kerjasama industri (industrial cooperation) dengan Eurocopter dan Bell Helicopter Textron untuk meningkatkan produski dan penjualan helikopter kelas light dan/atau intermediate. Selama periode 1976-2005, PT DI telah berhasil menjual BO105 sebanyak 122 unit. Saat ini, permintaan pasar untuk BO105 cenderung menurun, karena banyaknya produk baru yang lebih canggih dan efisien. Termasuk permintaan helikopter jenis Bell412 dan AS332 yang relatif kecil. Namun demikian menurut proyeksi dari Roll Royce, produk helikopter kelas light twin (sekelas BO105) dan intermediate (sekelas Bell412 dan AS332) masih cukup menjanjikan dengan perkiraan permintaan (light twin) dalam 10 tahun ke depan mencapai 4.400 unit. Untuk kebutuhan domestik, PT DI memperkirakan ada potensi permintaan dari TNI/Polri sekitar 8 unit per tahun untuk light twin, 5 untuk kelas medium, dan 2 untuk heavy transport.

PT DI merupakan pabrik pesawat terbang yang fokus pada fasilitas perakitan (final assembly) dan filosofi disain, menjadikan peluang PT DI dalam mengembangkan bisnis pesawat terbang. Portofolio bisnis Aerostructure terdiri dari Airframecomponent dan tooling untuk berbagai jenis pesawat.

Dalam industri aerostructure, bisnis aerostructure harus bersaing dengan 3.109 leading supplier di seluruh dunia. Bisnis aerostructure sangat bergantung pada jumlah permintaan pesawat terbang yang oleh Alenia Aeronautica diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan rata-rata 2% per tahun. Saat ini, PT DI telah menjadi supplier untuk tier 4 sampai tier 2.

Jasa perawatan pesawat terbang terus tumbuh seiring bertumbuhnya jumlah pesawat terbang yang beroperasi. Namun hal tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas dan kemampuan jasa perawatan pesawat terbang domestik khususnya PT DI, sehingga 70% pangsa pasar diserap oleh perusahaan MRO di luar negeri. Rendahnya penyerapan tersebut juga terkait dengan adanya persyaratan sertifikasi EASA dan/atau FAA bagi MRO provider.

 

  1. KONDISI PERUSAHAAN TAHUN 2006 -2010

Secara umum kinerja perusahaan tahun 2006-2011 berfluktuasi. Kinerja binis berfluktuasi dengan pencapaian perolehan kontrak baru rata-rata Rp1,10 triliun dan penjualan rata-rata Rp760 miliar. Kinerja keuangan belum menunjukkan perbaikan, realisasi laba/bersih induk tahun 2006-2011 secara akumulasi masih rugi. Likuiditas perusahaan/saldo kas akhir sangat kritis. Total aset perusahaan tahun 2006-2010 terus mengalami penurunan dan ekuitas negatif. Hal ini disebabkan oleh kondisi bisnis yang belum membaik, akumulasi kerugian perusahaan yang besar. Dengan kinerja bisnis dan keuangan tersebut, tingkat kesehatan perusahaan tahun 2006-2011 masih berkisar antara tidak sehat dan kurang sehat (CCC-BBB). Jumlah SDM (Karyawan tetap dan kontrak), mengalami sedikit peningkatan dari 3.869 orang pada tahun 2006 menjadi 4.174 pada tahun 2011.

Permasalahan utama yang dihadapi perusahaan adalah belum mampu memenuhi komitmen on time delivery pesawat terbang dan ketidakseimbangan utilisasi fasilitas produksi (manufacturing dan assembly). Selain itu, penjualan pesawat terbang dibawah kapasitas terpasang (6 unit/tahun) dan demografi SDM yang tidak proporsional.

Terhadap permasalahan yang ada, strategis perusahaan di tahun 2012 – 2016 adalah melakukan revitalisasi fasilitas produksi dan optimalisasi serta utilisasi kapasitas sehingga terdapat peningkatan produktifitas dan produk yang kompetitif. Strategi perusahaan meliputi upgrading dan penggantian permesinan di Aerostucture, peningkatan dan perbaikan proses produksi pesawat terbang, peniangkatan kemampuan dan kapasitas Aicraft Services, update software dan fasilitas laboratorium, productimprovement dari CN-235 dan kerjasama pengembangan produk baru (pesawat baru) dengan lembaga Pemerintah, serta penyempurnaan sistem informasi perusahaan terintegrasi.

Pada pertengahan tahun 2012, perusahaan mendapatkan PMN sebesar Rp1,00 triliun (Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2012). PMN tersebut akan dialokasikan untuk modal kerja dan penguatan Regenerasi & Dekomposisi SDM sebesar Rp293 miliar (modal kerja/pembelian material dan komponen pesawat terbang serta komponen untuk follow on support yang long lead time untuk memenuhi delivery tepat waktu dan/atau komponen pesawat terbang dan helikopter sebesar Rp206 miliar dan untuk penguatan regenarasi & dekomposisi SDM sebesar Rp87 miliar).

Selain itu, dana PMN juga dialokasikan untuk investasi fasilitas produksi berupa pengembangan fasilitas produksi, peniangkatan kemampuan dan kapasitas, update software, product improvement dan penyempurnaan sistem informasi perusahaan sebesar Rp707 miliar.

KINERJA PERUSAHAAN

1. ASPEK OPERASIONAL

Dalam 5 (lima) tahun terakhir perusahaan tidak mampu menyelesaikan program terkontrak sesuai dengan jadwal, hal ini disebabkan karena:

  1. Tidak tersedianya modal kerja yang cukup dan tepat waktu
  2. Permesinan dan fasilitas produksi yang sudah tua
  3. Sistem informasi yang belum terintegrasi
  4. Demographi SDM yang tidak proporsional serta tidak tersedianya SDM yang cukup untuk menyelesaikan program yang ada.

Portofolio produk PT DI terbatas pada 2 platform pesawat (angkut ringan dan menengah) serta 2 model helikopter menengah dan juga belum ada pengembangan produk baru maupun peningkatan produk sejak tahun 1999.

Tidak memiliki Green Flyable Aircraft sehingga akan sulit memenuhi permintaan pasar untuk penyerahan pesawat dalam waktu singkat. Dalam proses pembuatan pesawat, selalu ada proses re-design atas permintaan customer sehingga durasi penyelesaian pesawat menjadi lama (24-30 bulan).

Kapasitas fasilitas produksi yang terbatas bahkan berkurang 60% akibat rusaknya hangar pasca kecelakaan pesawat, membatasi ACS untuk meningkatkan penjualan. Dengan terbatasnya sertifikasi (non produk PT DI) yang terbatas dan kesulitan pendanaan untuk investasi, customer based ACS menjadi sedikit.

Kelompok Mesin

Jumlah

Kapasitas

(Jam)

  1. Machining

137

296.498

  1. Metal Forming

30

167.851

  1. Sub Assy & Welding

13

27.975

  1. Bonding Composite

19

49.368

  1. Surface Treatment

28

59.242

  1. Pre Cutting

12

19.747

TOTAL

239

620.682

Mayoritas fasilitas produksi PT DI, terutama permesinan, rata-rata telah berumur > 20 tahun sehingga produktifitasnya lebih rendah dibandingkan dengan teknologi terkini. Efisiensi permesinan tercatat di kisaran 50%-80%. Fasilitas mesin yang sudah tua menyebabkan produktivitas lebih rendah karena terdapat kapasitas produksi yang hilang akibat unplanned downtime.

Utilisasi mesin untuk mengerjakan kontrak yang ada saat ini (backlog contract), termasuk eksternal dan internal, sudah mencapai lebih dari 100% dengan menggunakan sistem kerja 2 shift. Kapasitas fasilitas produksi terbatas, terutama AE dan AS, dimana hampir seluruhnya telah dialokasikan untuk mengerjakan backlog kontrak. Pemanfaatan sumberdaya yang belum optimal, terutama AI dan DT, dimana terdapat kelebihan kapasitas yang belum dimanfaatkan secara optimal.

 

 2. ASPEK PEMASARAN

Pada akhir tahun 2008 Persero berhasil mendapat kontrak 4 (empat) unit CN235 dengan KCG – Korea Selatan senilai USD93,92 Juta dan akhir tahun 2009 mendapatkan kontrak 3 (tiga) unit CN235 dengan TNI-AL senilai USD80,00 Juta. Kontrak ini tidak dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal karena Persero kesulitan mendapatkan pinjaman modal kerja tunai untuk kegiatan operasional dan pembelian material dan hanya berhasil mendapatkan non cash loan. Hal ini berdampak pada tertundanya proses produksi dan delivery.

Delivery dalam 5 tahun terakhir

Jenis Pesawat

Total

Delivery

 

Customer Eksternal

Produk

T07

T08

T09

T10

T11

  1. CN 235

59

-

1

-

-

3

SPIRIT

A-380

IOFLE

  1. NC 212

102

-

-

1

-

-

 

A-320

A-321

Pylon, D-Nose, Leading edge skin

  1. NBO 105

121

1

-

1

-

-

  1. NBELL412

32

1

-

-

-

1

 

A-350

Fixed Leading edge

  1. NAS 332

33

-

1

-

1

-

CASA

CN-235

Component

TOTAL

 

2

2

2

1

4

 

C-212-4

Component

 

CTRM

A-380

FLELP

SMEA

B-777

Stiffener & Others

 

A-320

Beam & Nut Strip

 

A-330

Component

BOMBARDIER

GX

Slat skin

KOREA

B-777

WBX-Chord

EUROCOPTER

EC MK-II

Tail Boom, Long Fuselage

Selain dari perolehan kontrak penjualan pesawat tersebut di atas diperoleh juga kontrak penjualan berupa modifikasi pesawat CN235 (AD Trade) senilai USD13,22 juta, perawatan pesawat, penjualan roket dan jasa engeenering. Pada akhir tahun 2010 Persero mendapatkan kontrak penjualan 1 (satu) unit Helikopter Super Puma NAS 332 dari TNI AU senilai Rp179,33 Miliar, 1 (satu) unit Helikopter Bell 412 dari PUSPENERBAD senilai Rp99,87 miliar dan kontrak penjualan lainnya. Penurunan perolehan kontrak dimaksud dikarenakan posisi ekuitas dan likuiditas perusahaan sangat rendah sehingga perusahaan hanya fokus terhadap penyelesaian program yang sudah terkontrak.

Pada tahun 2011, Persero mendapatkan kontrak penjualan senilai Rp1,44 triliun yang terdiri 2 (dua) unit Super Puma NAS 332, 7 (tujuh) unit Bell 412, 1 (satu) unit C-212-400 dan kontrak perawatan serta komponen pesawat terbang. Untuk dapat menyelesaikan kontrak-kontrak yang telah diperoleh, Persero masih memerlukan modal kerja dari perbankan nasional.

 

 3. ASPEK SUMBER DAYA MANUSIA

Komposisi Pegawai

 

18-25

26-30

31-35

36-40

41-45

46-49

>50

AE

523

157

40

41

140

335

493

AI

85

29

7

27

105

197

381

AS

17

19

9

14

79

89

152

KA

19

12

16

15

46

94

172

DTP

23

16

14

73

276

250

238

DU

7

5

3

3

14

27

73

Total

674

238

89

173

660

992

1509

Jumlah SDM cukup besar dengan komposisi yang tidak berimbang dimana 35% dengan usia > 50 tahun. Dalam 5 tahun mendatang karyawan dengan golongan usia > 50 tahun (1509 orang) akan pensiun yang sebagian besar merupakan key personel yang memiliki pengalaman pengembangan dan pembuatan pesawat secara utuh. Untuk Divisi Teknologi dan Pengembangan, 27% karyawan tetap akan memasuki masa pensiun, dimana 2/3 adalah dengan kompetensi engineering. Juga tidak adanya program pengembangan produk baru sejak 1999 mengakibatkan utilisasi SDM rendah.

Generation gap karena proses regenerasi yang belum optimal. Usaha-usaha rekruitmen untuk menjaring tenaga-tenaga muda yang potensial sudah dicoba dilakukan, tetapi para karyawan tersebut umumnya tidak bertahan lama.

 

D.     RENCANA BISNIS

Dalam menghadapi permasalahan tersebut di atas perusahaan telah mengajukan program Restrukturisasi dan Revitalisasi (“RR”) kepada Menteri BUMN selaku kuasa Pemegang Saham Persero. Menteri BUMN melalui surat nomor: S-642/MBU/2010 tanggal 21 Oktober 2010 telah menugaskan PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) (PT PPA) untuk membantu PT DI dalam mendanai proyek-proyek terkontrak dan melakukan kajian dan penyusunan Business Plan RR PT DI secara menyeluruh.

Persero bersama dengan PT PPA telah menyusun Strategi Program RR melalui tiga tahap penyelesaian yakni tahap pertama Emergency Plan tahun 2011, tahap kedua Restrukturisasi dan Stabilisasi tahun 2012 – 2014 dan tahap ketiga Pengembangan tahun 2015 ke atas.PT DI atas persetujuan dari Menteri BUMN melakukan RR dengan bantuan dan dukungan dari PT PPA.

 

Strategi PT DI 2011 s.d. 2015

2011

Emergency Plan

 

2012-2014

Restrukturisasi & Stabilisasi

 

2015-dst

Pengembangan

KEY STRATEGY

 

KEY STRATEGY

 

KEY STRATEGY

  • Restrukturisasi Keuangan

 

  • Melanjutkan restrukturisasi keuangan

 

  • Mendukung pemenuhan kebutuhan alutsista nasional
  • Improve quick cash business
 

 

  • Mendukung pemenuhan kebutuhan alutsista nasional

 

  • Memasarkan dan memproduksi produk baru pesawat terbang
  • Penyelesaian kontrak pesawat
 

 

  • Mengembangkan produk & pemasaran CN235/produk lainnya melalui aliansi strategis dengan AM

 

  • Memiliki partner strategis industri pesawat terbang terkemuka yang tetap
  • Program efisiensi biaya operasi
 

 

  • Melaksanakan kerjasama industri dengan Perusahaan Pesawat Terbang Terkemuka

 

  • Memiliki MRO dengan standar internasional
  • Penjualan aset non produktif
 

 

  • Meningkatkan daya saing produk (delivery tepat waktu dan biaya)

 

 

  • Penyelesaian permasalahan hukum

 

  • Peningkatan kehandalan sistem informasi (ERP)

 

 

 

 

  • Restrukturisasi usaha & regenrasi SDM

 

 

 

 

  • Kerjasama pengembangan produk baru program pesawat terbang yang dibiayai lembaga/institusi Pemerintah

 

 

Pada tahap emergency plan di tahun 2011, PT DI telah mendapatkan pinjaman dari dana Restrukturisasi dan Revitalisasi PT PPA sebesar Rp675 miliar untuk menutupi proyeksi defisit cash flow(modal kerja)di akhir tahun 2011. Selain itu pula dalam hal restrukturisasi keuangan, PT DI telah mendapatkan PMN non cash sebesar Rp1.188 miliar dan penetapan PMS sebesar Rp1.769 miliar. Pemberian PMN non cash tersebut telah dapat meningkatkan kinerja PT DI dan dapat memberikan leverage pada PT DI dihadapan lembaga keuangan/perbankan dalam mendapatkan pinjaman modal kerja.