KAMI BUTUH KOMITMEN JANGKA PANJANG
25 October 2011Republika, 17 Oktober 2011.
Terbelit beragam persoalan, PT Dirgantara Indonesia ibarat menara mercusuar yang tak lagi memendarkan sinar pemandu. Tapi , harapan belum padam. Bagaimana langkah strukturisasi, asa, potensi, sekaligus tantangan kendala PTDI, berikut petikan wawancara wartawan Republika Palupi Annisa Aulani dengan Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Dita Ardonni Jafri, pecan lalu.
Suntikan dana pemerintah bakal memadai untuk penyelesaian restrukturisasi PTDI ?
Tahun ini, 2011, kami dapat Rp.675 miliar. Lalu 2012, kami harapkan (dapat) Rp.2 triliun. Tapi, saya dengar dapat Rp.1 triliun pada 2012 dan Rp.1 triliun pada 2013. Cukup atau tidak kan tergantung, uang ini mau dipakai untuk usaha atau gaji ? Kalau untuk gaji sih habis lagi nanti.
Utang ke Perusahaan Pengelola Aset (PPA), sekarang masih berapa ?
Rp.675 miliar. Mudah-mudahan utang selesai tahun ini. Menurut saya, setelah uang, kami butuh pekerjaan.
Kondisi terakhir PTDI seperti apa ? Juga kondisi SDM ?
Terakhir kami tinggal punya 4.000 orang (pegawai, dengan hanya) 800 engineer. Sebelumnya kami punya 2.000 engineer.
Apa saja produk yang masih diproduksi atau punya potensi digarap ?
N250 sudah terhenti. Untuk menghidupkan lagi, biayanya gede. Kebanyakan komponen harus ganti vendor baru, kelamaan. Untuk helicopter, semua lisensinya sudah habis. Kami (tinggal) punya CN235 dan CASA 212-400. Plus nanti N219, kalau (modal) Rp.300 miliar dapat dan ada yang beli.
Untuk mendapatkan pekerjaan kami juga coba kerjasama dengan perusahaan yang ditunjuk PPA, Airbus Military, salah satu cucu perusahaan EADS. Kami sedang coba kerja sama di pesawat CASA 295 (C-295). Kami mengarah ke final assembly di Indonesia. Tapi, harus ada pembelian dalam negeri dulu. Ini yang lagi kejar-kejaran.
C-295 ini pesawat angkut kapasitas kurang dari 70 orang. CN235 yang dipanjangin. Jadi, basic-nya adalah CN235, (tapi) ganti engine, badan dipanjangin, wing tetap. Bisa bawa lebih banyak penumpang.
Kami juga ingin bangun lagi beberapa helicopter. Penawaran sudah banyak. Bell dan Eurocopter, misalnya. Korea juga menawarkan dan lebih menarik. (Korea) menawarkan final assembly, sedikit pengembangan di sini dan beberapa pasar di Afrika dan Timur Tengah dikasih ke kami. Eurocopter mungkin mau (juga) beri final assembly, tapi pasar terbatas di Indonesia.
Kalau pesawat tempur KF-X / IF-X yang kerja sama dengan Korea ?
Indonesia menyebutnya IF-X. Kami hanya mengirim 23 engineer, sekarang sudah di Korea. Ini program Kementerian Pertahanan, kami hanya support, tidak kami hitung sebagai bisnis.
KF-X / IF-X proyek menantang F-16 dan Sukhoi ?
Pada 2025 (saat produksi), F-16 dan Sukhoi kan sudah produk zaman ba-heula.
Dengan produk yang ada dan rencana kerja ini, PT DI bisa bangkit lagi ?
Hitung-hitungan saya, karena saya kenal CN235, kalau bisa jual minimum enam CN235 dalam setahun, (kami) survive. Asumsinya, nilai tambah kami kira-kira 38-40 persen, dari local content yang bisa kami lakukan. Enam CN235 bisa menutup 60 persen (biaya) overhead kami, sisanya (ditutup) dari industri komponen.
Ekuivalennya dengan C-295, belum tahu. (Tapi) kalau C-295 final assembly bisa dilakukan di sini dan kira-kira local content juga sama, mungkin dengan menjual lima C-295 sudah ekuivalen enam CN235 tadi.
Kalau N219 (kebutuhan) pasar dalam negeri 97 an (unit). 9Jumlah itu) bisa kami penuhi dalam lima tahun. Penerbangan perintis butuh 30 unit di tahap pertama.
Kalau CN235, C295 atau N219 bisa jalan dan kami bisa bangun beberapa helicopter, cukup. Disamping itu ada industry komponen yang sudah jalan, yang bisa bantu kami (setara) gaji tiga bulan dalam setahun, 30 persen kira-kira.
Masih ada juga jasa perawatan. CN235 yang tersebar di dunia, sebagian besar kami rawat. Kami juga bisa rawat Boeing 737. Nanti rencananya pun kami masuk ke Airbus, (untuk) Airbus 319-320. Itu dulu yang banyak (pesawatnya).
Selain itu, ada peluang di produk engineering. Rencana saya, dari 800 orang (engineer yang masih ada), 00 orang mau kami jual untuk terima paket-paket pekerjaan dari Airbus. Saingan kita India. Nilai lebih kami, kami punya lengkap. Tinggal order general, kami sudah bisa melengkapinya, mereka tak pusing lagi dengan manajemen.
Apa kendalanya ?
Kami lihat pasar domestik sekarang tak punya rencana pembelian jangka panjang. (misalnya untuk C295), kami agak kesulitan mendapatkan komitmen final assembly disini dari Airbus Military, kalau jumlah pembeliannya tak cukup.
Jumlah cukup itu sekitar 20-an lah. Kami baru dapat enam. Kalau jumlah pembeli tak cukup, PT DI hanya akan jadi trading house. Pesawatnya tidak dibuat disini, pemerintah kita beli, dan kita tidak dapat apa-apa. Itu yang kami usahakan untuk bisa diatasi.
Untuk pesawat penerbangan perintis, ada masalah soal tender pengelola per tahun. Ini agak susah bagi maskapai. Bagaimana harus investasi jangka pendek menyediakan pesawat ? Ada alternative solusi, sebenarnya. (Yaitu) pemerintah yang punya pesawat, tendernya untuk pengelolaan saja. Subsidi fuel untuk penerbangan perintis dijadikan pesawat terbang. Jadi, yang disubsidi bukan fuelnya, tapi dikasih pesawat.
Juga ada kendala komitmen jangka panjang pemerintah yang jadi pasar dalam negeri kami. Untuk start pertama, kami butuh launching customer dan itu kami harapkan pemerintah. Bangun disini dulu dengan minimum oder dari pemerintah, untuk kemudian kami bisa mencari pasar di luar negeri. Kami juga harapkan pemerintah membuat semacam standardisasi (kebutuhan jenis pesawat dan helikopter). Misalnya kalau untuk helikopter kecil itu apa (jenisnya), menengah apa, berat apa.
Selama ini ?
AL maunya Eurocopter, AD maunya BELL, Polisi maunya lain lagi. Kalau ada standardisasi, katakanlah sekarang beli empat setahun, kita kumpulkan 10 tahun. (Kalau) ada komitmen 10 tahun, mungkin bisa 20-30 unit, dan itu dengan sendirinya semua bisa dibangun di sini.
Kmi sudah coba tawarkan pemetaan dan kesiapan produksi. Budget pertahanan kecil, (tapi) kalau dikumpulkan (sebagai komitmen jangka panjang tadi), cukup kok. Untuk TNI saja, kira-kira (kebutuhannya) 90 helikopter. Tapi masalahnya itu belum ada komitmenmya. Nanti turun per tahun, yang harus lewat DPR dulu untuk penentuan anggaran.
Bagaimana kita mau buat komitmen kalau kondisinya begini ? Jadi, masalah utamanya adalah komitmen dan rencana jangka panjang pemerintah ?
Iya. Untuk tahap awal, kami butuh itu. Kalau sekarang kami cari ke pasar luar, jual CN235 saja ada pertanyaan yang selalu tak bisa kami jawab, Cuma satu. (Yaitu) Pemerintah kalian pakai atau tidak ? Berapa pakainya ? Cuma enam ? (Sementara) Malaysia pakai lebih banyak, beli dari kami juga. Korea juga lebih banyak. Pertanyaan selalu begitu. Pemerintah kalian saja tak percaya pada kalian, apalagi kami itulah kira-kira.
Kalau komitmen dan rencana jangka panjang itu ada, PTDI pasti hidup. Tidak usah dengan tambahan apa-apa, dengan yang ada saja dijadikan produk kami. Kalau kami punya garapan, dengan sendirinya yang lain sembuh sendiri. Tak usah suntik uang lagi. Kalau tidak dikasih pekerjaan cukup, dikasih uang akan habis terus.
Sepertinya cukup nyaman kerja sama dengan Airbus ?
Kalau di produksi, selama ini yang mau kerja sama dengan kami baru EADS (Airbus itu,- Red). Yang lain hanya melibatkan kami dalam porsi pekerjaan kecil untuk bisa menjual produk mereka disini. Kalau mau, pemerintah harus punya aturan konten dalam negeri seperti Turki atau Korea, yang menuntut minimum 50 persen.
Soal kehilangan SDM selama gonjang ganjing PT DI kemaren, ada strategi untuk mengatasinya ?
Ya, kehilangan kita sudah banyak. (Padahal) yang susah di industry penerbangan itu engineering-nya, yang tidak semua Negara – produsen pesawat sekalipun – punya. Ini yang dibangun Pak Habibie dengan susah payah. Untuk mempertahankan (yang tertinggal), saya butuh N-219, pengembangan pesawat satu cycle. Kalau KF-X / IF-X kok kelamaan karena baru 2025 bisa produksi.
Kalau Kementerian Perindustrian bisa keluarkan dananya awal tahun depan, kami bisa mulai N-219 dan 2014 bisa jadi satu unit. Sampingannya, begitu N-219 jalan, kami akan rekrut engineer muda, kalau bisa kami pakai yang ada di BPPT dan Lapan. Syukur, kalau amanat UU I/2009 bisa dijalankan, soal tanggung jawab pemerintah terhadap industry penerbangan nasional.
Soal mesin produksi yang sudah tua, itu tak akan jadi kendala ?
Kami sudah mulai peremajaan enam bulan terakhir. Pembelian mesin.
Ada kendala lain ?
Riset dan industry tak ada koordinasi. Sekarang, yang namanya seal karet pesawat terbang saja, itu impor. Padahal, kita bisa buat , tapi tak ada yang berani approve. Yang bisa approve ini kan bukan badan regulator kita, yang seharusnya didekatkan dengan lembaga riset.
Lakukanlah riset bagaimana caranya agar barang ini bisa di-approve. Selama tak ada yang approve, tak ada yang lindungi produksi itu, (industry) tak berkembang.
Kemungkinan terburuk untuk PT DI ?
Kalau mau dijual, ada kemungkinan diambil EADS dijadika industry komponen. Tapi, dijadikan industry komponen, engineer kita dihabisin. Kalau namanya engineering pesawat terbang itu bisa dibawa kemana saja, bisa jadi industry pertahanan. Core-nya begitu, harus dibantu industry otomotif dan elektronik, seperti di Korea. Yang kita kuasai hanya airframe, nilainya paling hanya 20 persen dari nilai pesawat.
