XT-400, Pesawat Perintis Pertama LAPAN Rancangan Suharto

AIRSPACE-REVIEW.com – ­­Sebelum terlibat dalam perancangan pesawat terbang perintis N219 bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Lembaga Penerbangan & Antariksa Penerbangan Nasional (LAPAN) pernah merancang pesawat serupa pada 1977.

Pesawat dibangun dalam proyek bersandi SainKon yang merupakan kependekan dari ‘Desain & Konstruksi’.

Lewat proyek SainKon tersebut, Lapan ingin mengembangkan pesawat ringan serbaguna yang mampu beroperasi di lapangan terbang perintis.

Pesawat akan digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang lewat udara di daerah-daerah terpencil di seluruh wilayah Nusantara.

Dalam perancangan pesawat yang diberi nama XT-400 (Experimental Transport) ini, LAPAN bermitra dengan PT Chandra Dirgantara.

Sebelumnya, perusahaan yang ditangani para purnawirawan TNI AU ini dikenal dengan nama Komando Pelaksana Proyek Industri Penerbangan (Kopelapip).

Di masa pemerintahan Presiden Sukarno, Kopelapip bertugas mempersiapkan perakitan pesawat Fokker F27 di Tanah Air, tapi bubar pasca pemberontakan PKI/Gestapu.

Sebelum menangani XT-400, PT Chandra Dirgantara telah memiliki pengalaman dalam pembangunan pesawat latih LT-200 (Lipnur Trainer) berdasar kit pesawat Pazmany dari AS.

Proses perakitan LT-200 sendiri dilaksanakan oleh Lipnur (Lembaga Industri Pesawat Terbang Nurtanio) tahun 1976 di kawasan Lanud Husein Sastranegara, Bandung.

Rancang bangun XT-400 dibuat oleh Suharto, seorang insinyur lulusan ITB dan Universitas Teknologi Braunschweig Jerman. Suharto adalah seorang staf teknik/tenaga ahli di PT Chandra Dirgantara.

Konsepnya disetujui LAPAN di bawah kepemimpinan Raden Jacob Salatun kala itu. Kemudian dilanjutkan dengan perhitungan teknis hingga pembuatan skala penuhnya (full-scale wooden mock-up).

XT-400 mengadopsi desain sayap model tinggi dan roda pendarat model tetap. Pesawat memiliki dimensi panjang 10,2 m, rentang sayap 14,5 m, dan tinggi 4,3 m. Pesawat cukup diawaki seorang pilot dengan penumpang hingga tujuh orang.

Rencananya XT-400 akan mengadopsi dua mesin Lycoming IO-540C berdaya 250 hp masing-masing. Kecepatan maksimumnya berkisar 273 km/jam, ketinggian terbang 4.665 m, dan jangkaun operasi sekitar 965 km.

Proyek XT-400 sendiri didukung penuh oleh Menristek kala itu Sumitro Djojohadikusumo. Pendanaan proyeknya disediakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BPPN) yang diambil dari APBN.

Sayangnya, proyek pengembangan XT-400 yang sudah berjalan 50 persen tersebut tak bisa lagi diteruskan pada 1978. Hali ini disebabkan dana untuk pengembangannya tak lagi mengucur.

Di tahun yang sama program XT-400 tergantikan dengan proyek pesawat angkut ringan serba guna yang dibuat IPTN (kini PTDI).  Pembuatannya mendapatkan lisensi dari CASA Spanyol yang selanjutnya dikenal sebagai pesawat NC212.

Untuk mengenang dan menghargai hasil jerih payah tim yang terlibat dalam proyek SainKon dibuatlah scale down XT-400.

Replika pesawat tersebut dipajang di depan gedung Pustekbang LAPAN di Rumpin, Bogor. Pesawat bertengger di atas tiang beton seolah terbang gagah mengangkasa.

Rangga Baswara Sawiyya

https://www.airspace-review.com/2019/08/08/xt-400-pesawat-perintis-pertama-lapan-rancangan-suharto/


Kategori Berita