PT DI Terbangkan CN-235 Flying Test Bed

PT Dirgantara Indonesia (DI) menerbangkan CN-235 Flying Test Bed (FTB) untuk kali pertama dari Bandara Husein Sastranegara Bandung, Jumat (23/8). Langkah itu menjadi penanda optimalisasi pengembangan pesawat propeller multiguna tersebut.

Pasalnya, perseroan bakal menghadirkan pembaruan baik sistem maupun varian pesawat yang diproduksi termasuk fitur persenjataan (gunship). PTDI akan mematangkannya sebelum pesawat itu dijual secara massal melalui fasilitas FTB tersebut.

Menurut Dirut PTDI, Elfien Goentoro, kehadiran FTB tak terlepas dari pasar CN-235 yang masih terbuka lebar. Secara populasi, 284 pesawat hasil kerja sama CASA-IPTN ini sudah tersebar di seluruh dunia.
Pesawat tersebut melakukan terbang perdana pada 1983.

Untuk menangkap peluang itu, mereka melakukan transformasi dengan melengkapinya melalui fasilitas FTB. ”Kami yang paling fokus memproduksi di medium turboprop saat ini di dunia,” kata Elfien sambil menyebut bahwa saat ini pihaknya tengah mengerjakan empat unit pesawat serupa.

Direktur Produksi PTDI, M Ridlo Akbar menambahkan, kehadiran FTB itu sebagai bagian ikhtiar dalam merespon dinamika teknologi pesawat mengingat sistem pesawat yang semakin berkembang. Mereka pun membangun FTB yang berbasis varian awal pesawat baling-baling tersebut yakni CN-235-10 menjadi CN-235-220.

Pembaruan sistem avionik seperti komunikasi, sistem kendali pilot, atau navigasinya pun dilakukan. ”Dengan memanfaatkan FTB pula kami akan membangun CN-235 versi gunship, kami juga akan melengkapi pesawat dengan flare untuk menghindari serangan.

Semuanya kami uji dengan FTB terutama dampak (penggunaan senjata) operasionalnya,” jelasnya. Untuk gunship, Ridlo Akbar menyebut bahwa Thailand sudah menyatakan ketertarikannya. Mereka pernah melayangkan permintaan pesawat yang dilengkapi persenjataan. Tak hanya itu, pesanan TNI AL pun disebutnya bakal menggunakan sistem avionik terbaru. ”Jadi (produknya) ini CN-235 yang dimodernisasi.

Apalagi pesawat ini kan mempunyai sejumlah keunggulan bisa sebagai pengintai, patroli, hingga sebagai penyerang,” jelasnya. Dalam terbang perdana itu, FTB dipiloti Captain Adi Budi Atmoko dan Captain Zulda Hendra. Take off sekitar pukul 10.35, pesawat dengan tubuh bernuansa merah putih itu mengudara sekitar setengah jam.

Seperti saat mulai terbang, tepuk tangan apresiasi dari karyawan membahana begitu CN-235 FTB itu melakukan fly pass kemudian mendarat mulus dan langsung menuju hanggar.


Kategori Berita