Saturday, 19 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Visi Kementerian BUMN : "Meningkatkan peran BUMN sebagai instrumen negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme"

Achievements

Activity

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Harga Gabah Anjlok

15 April 2013

KUDUS, suaramerdeka.com – Harga gabah di kawasan banjir seperti sejumlah desa di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, anjlok. Saat kondisi normal, harga gabah kering panen per kilogram dapat mencapai Rp 3.200. Hanya saja, saat ini diperkirakan hanya laku sekitar Rp 1.500 per kilogram. Hanya saja, hal itu dengan catatan bila ada pembelinya.

Seorang petani di Desa Garung Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Sunardi, mengemukakan hal tersebut, Minggu (14/4). Pihaknya mengeluhkan anjloknya hasil panen bila sawah banjir seperti sekarang ini. “Harga Rp 1.500 per kilogram itu saja dengan catatan bila memang ada pembelinya,” katanya.

Pasalnya, di pasaran pembeli akan lebih memilih hasil panen dari daerah yang tidak banjir. Hal tersebut dimungkinkan karena mereka tidak ingin dipusingkan dengan sederet ongkos untuk pengolahan hasil panen seperti itu.

“Mau apa lagi, terpaksa harus diterima kondisi tersebut,” imbuhnya.

Seorang petani lainnya, Kunardi menambahkan, bila tidak dipanen petani dipastikan tidak akan dapat merasakan keuntungan. Pasalnya, padi kemungkinan akan busuk dan bahkan tidak akan dapat dimanfaatkan lagi. “Ya, sebaiknya dipanen meskipun dengan kondisi seperti sekarang ini,” ungkapnya.

Seandainya tidak laku dijual, gabah tersebut akan diproses sendiri dan kemudian dikonsumsi sendiri. Menurutnya, hal tersebut merupakan yang terbaik saat ini. “Kondisi gabah yang basah memang sulit dijual dengan harga yang baik,” jelasnya.

Camat Kaliwungu, Djatmiko menyatakan, di wilayahnya setidaknya terdapat 318 hektare lahan pertanian yang terendam banjir. Kerugian yang diderita petani memang tidak sedikit yakni diperkirakan mencapai belasan juta setiap hektarenya.

Sebagian memilih untuk memanen lebih dini, sedangkan lainnya sudah beranggapan padinya puso. “Ini merupakan kondisi yang tidak mengenakkan bagi petani,” tandasnya.

( Anton WH / CN31 / JBSM )



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

: *


*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>