Kamis, 24 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Prestasi

CEO, CFO dan Investor Relations Pertamina Terbaik di Asia

Kegiatan

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Jajak

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Sinergi BUMN : Seharusnya Tidak Masalah

25 Juli 2011

JAKARTA – Bertempat di Kantor Pusat Pertamina telah dilaksanakan disikusi Diskusi Persiapan Pelaksanaan Sinergi Aset BUMN pada Kamis (7/7). Acara dibuka oleh Staf Ahli  Menteri Negara BUMN Bidang Sinergi BUMN Suhendro. Bertindak sebagai narasumber  adalah Suhendro, Direktur Umum Pertamina Waluyo, dan Komisioner KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) Tadjudin N. Said, dan undangan yang mewakili 15 BUMN.

Suhendro dalam pembukaannya mengatakan bahwa maksud dari diskusi ini adalah dalam rangka meningkatkan sinergi antar BU MN. “Karena dengan sinergi diharapkan dapat diperoleh banyak manfaat, bukan  hanya bagi BUMN yang bersangkutan, tetapi juga bagi  masyarakat kita semua. “

Suhendro menyatakan bahwa selama ini perkembangan dari sinergi BUMN sebenarnya sudah baik, namun masih ada keraguan dalam hal penunjukan langsung bagi yang punya proyek kepada yang akan melaksanakan. “Padahal seperti sudah dikatakan langsung oleh KPPU dari segi legal dan sebagainya, penunjukan langsung ataupun sinergi antar BUMN itu tidak ada masalah, sepanjang kita dapat memberikan sesuatu yaang lebih efisien dibandingkan yang lain,“ tandas Suhendro.

Waluyo dalam pemaparannya mengemukakan ada dua hal penting yang harus diperhatikan dalam sinergi BUMN ini. Yaitu, Regulatory Driven dan Business Driven. Regulatory driven adalah imbauan driven, yang mengacu pada Instruksi Menteri Negara BUMN tahun 2002, Peraturan Menteri Negara BUMN No. 5tahun 2008 untuk Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa BUMN, serta Peraturan Menteri Perindustrian No. 30 tahun 2006 tentang Penggunaan Produksi Dalam Negeri. “Tetapi sebenarnya yang lebih penting lagi adalah business driven. Tidak usah disuruh-suruh juga, kalau memang akan membawa manfaat, maka akan jalan juga,” kata Waluyo.

Waluyo pun menjelaskan dan membandingkan blue ocean strategy dan red ocean strategy. “Di dalam blue ocean strategy, ternyata kalau kita melakukan kerjasama, bisa menciptakan value creation yang menguntungkan kedua belah pihak. Jadi sebenarnya business driven-nya itu jelas. Sesama BUMN ada kompetisi yang bisa menghasilkan  manfaat.”

Dalam kesempatan itu pun, Waluyo mengusulkan pembentukan Program Pengembangan Eksekutif BUMN aau Akademi BUMN. Alasannya jika di Pertamina ada Program  Pengembangan Eksekutif Pertamina (PPEP), maka seharusnya di tingkat BUMN ada program serupa untuk pengembangan para manajer dan eksekutif BUMNBUMN.

Sementara itu, VP Asset Management Pertamina Gathot Harsono kepada Media Pertamina menjelaskan bahwa ide untuk menyinergikan BUMN ini datang dari kantor Kementerian Negara BUMN, khususnya pada tahap awal, dalam bidang aset. “Untuk tahap pertama ini, yang diundang baru 15 BU MN, dan Pertamina mendapat kesempatan pertama sebagai tuan rumah,” jelasnya.

Diskusi bertujuan untuk melihat peluang-peluang usaha yang ada, dan membahas apakah sinergi ini bertentangan dengan UU Persaingan Usaha.MPUHK



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

: *


*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>