Gas Arun Bukan Warisan Turun-temurun

Metrotvnews.com, Lhokseumawe: "Saya jualan batu akik karena sedang tren saja. Apalagi di Aceh ini banyak jenis batu mulia. Tapi saya berharap bisa segera bekerja kembali di Kilang LNG Arun yang sekarang mau dioperasikan lagi," ujar Ismail, 45, sambil tetap mengasah batu akik pesanan pelanggan di emperan sebuah toko swalayan di Blang Lancang, Lhokseumawe, Aceh Utara,Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), beberapa waktu lalu.

Nyaris dua dekade dia menjadi sopir lepas sebuah perusahaan pemasok kebutuhan pekerja kilang gas alam cair (LNG) Arun di kota tersebut. Selama itu pula dia mengaku menikmati pendapatan yang cukup dari gaji maupun usaha warung makan yang dikelola istrinya di sekitar komplek kilang.

Namun di awal 2014, dia harus kehilangan pekerjaan karena terhentinya kontrak perusahaan dengan pengelola kilang tersebut. Pun, para pelanggan warung makannya, pekerja asing dan lokal di kilang itu satu persatu menghilang.

Sejak resmi berhenti beroperasi pada Oktober 2014, ratusan pekerja kontrak di kilang pengolah LNG itu pun harus kehilangan pekerjaan. Padahal, umumnya geliat hidup 194 ribu warga Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara cukup tertopang oleh keberadaan kilang yang beroperasi sejak 1974 itu.

Bahkan di masa jayanya, saat Kilang Arun menjadi salah satu produsen LNG terbesar di dunia di era 1990-an, Lhokseumawe sempat menyandang predikat petrodollar city.

Saat itu tidak hanya kilang, Lhokseumawe juga menggeliat karena adanya pabrik pupuk ASEAN-Aceh Fertilizer (AAF) dan pabrik kertas Kraft Aceh. Keduanya mendapat pasokan gas yang mencukupi untuk bahan baku pupuk dan bahan bakar. Namun seiring menipisnya pasokan gas alam dari kontraktor migas Blok North Sumatra Offshore (NSO) milik Exxon Mobil Oil Indonesia Inc.

Sejak melakukan pengapalan perdana pada 1977, kilang LNG Arun telah mengapalkan LNG sebanyak 4.251 kargo, 1.880 kargo kondensat, 355 kargo elpiji propane dan 359 kargo elpiji butane, serta 211 kargo sulfur. Saham LNG Arun, 55 persen dikuasai Pertamina, Exxon Mobil Oil Indonesia Inc sebanyak 30 persen, dan Japan Indonesia LNG Co (JILCO) 15 persen. JILCO juga berposisi sebagai pembeli LNG dari kilang ini.

"Kemiskinan di Aceh mencapai 17 persen, paling banyak di Aceh Utara yang merupakan lokasi kilang LNG Arun berada," ungkap Gubernur NAD Zaini Abdullah saat peresmian Terminal Regisifikasi (TPR) LNG Arun oleh Presiden Joko Widodo, pekan lalu.

Zaini mengibaratkan, habis manis sepah dibuang. Gas bumi di Aceh disedot sampai habis selama 40 tahun, namun ekonomi rakyat di Aceh tidak maju-maju.

"Dengan diresmikan PT PAG ini yang dananya, mencapai Rp4 triliun ini menandakan perhatian pemerintah pusat kepada Aceh sudah membaik. Untuk itu juga kami minta agar lokasi ini dapat dijadikan kawasan Industri terpadu," ucap Zaini.

Proyek yang digarap PT Perta Arun Gas (PAG), perusahaan patungan PT Pertamina Gas (Pertagas) dengan BUMD Aceh itu diyakini bakal menghidupkan kembali geliat industri di Lhokseumawe dan NAD.

"Arun ini kawasan industri lama, luasnya 3.000-an hektar. Industri yang akan investasi didorong ke sini karena bahan bakar gas lebih murah. Lahan siap, energi siap, listrik juga siap listrik, saya ingin masalah penganguran dan kemiskinan harus diatasi dengan adanya industri ini," kata Jokowi dalam sambutannya.

Jokowi juga mengaku menerima curahan hati (curhat) dari Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib.

"Bupati bilang, Pak, Bandara di Lhokseumawe sudah puluhan tahun tidak diperpanjang landasan pacunya (runway)," ucap Jokowi.

Dia pun langsung menghubungi Menteri Perhubungan Ignasius Jonan untuk segera memperpanjang runway dari 1.800 meter menjadi 2.400 meter.

"Dalam hitungan detik saya telepon Menhub. Jadi itu akan langsung diperpanjang 2.400 meter," tukas Jokowi.

Upaya itu diharapkan dapat menghidupkan kembali posisi sentral Lhokseumawe sebagai sentra industri. Pasalnya, selain terminal regasifikasi dan hub.

LNG Arun dan jaringan pipa gas Arun-Medan, Pertamina berencana melaksanakan proyek pengangkutan elpiji (transhipment) yang akan dimulai pada Agustus 2015.

Gas dari TPR LNG Arun juga bisa dipakai PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang akan mengambil alih PT Aceh Asean Fertilizer (AAF), produsen pupuk patungan Indonesia-Asean. Pengambilalihan AAF menjadi bagian program revitalisasi dan sinergi antarperusahaan pelat merah untuk menghidupkan kembali industri di Serambi Mekkah.

Direktur Utama PAG, Teuku Khaidir menjelaskan gas yang diolah bersifat terbuka untuk sejumlah kalangan industri. Meski pada tahap awal suplai gas baru dikirim ke Sumatera Utara.

"Kami berharap semua perusahaan di Aceh juga tumbuh karena gas sudah tersedia. Gas ini terbuka untuk siapa saja," katanya.

Presiden Direktur Pertagas Hendra Jaya juga menyebut gas dari TPR Arun bisa dipakai untuk menggarap potensi industri dan rumah tangga antara Lhokseumawe hingga Banda Aceh.

"Untuk pembangkit listrik skala kecil dan industri semen di Pidie juga potensial. Kami juga berniat menggandeng PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) untuk memasok gas dan menggarap pelanggan yang belum tergarap," cetusnya.

Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib berharap TPR Arun bisa memberi kontribusi lebih besar dibanding PT Arun NGL.

"Kami tidak mau lagi dibohongi, butuh realisasi saja, listrik yang mencukupi, peluang kerja yang luas untuk masyarakat. Bila pabrik pupuk sudah ada kami bisa mengaktifkan kembali sektor pertanian dan perkebunan," katanya.

Apalagi Aceh Utara masih memiliki lahan terlantar atau lahan tidur sekitar 38.410 hektar yang dapat diberdayakan.

Hal itu pula yang membuat Ismail tersadar kehidupan keluarganya tidak bisa lagi sepenuhnya bergantung kepada keberadaan kilang.

"Mungkin kami harus bersiap untuk tidak lagi bergantung dengan keberadaan kilang supaya tidak susah seperti sekarang. Kami selama ini terbuai gas di perut bumi Lhokseumawe tidak bakal habis. Padahal gas Arun tidak bisa diwariskan turun-temurun," kata Ismail.    (Jajang Sumantri)
WID

Sumber: metrotvnews.com


Kategori Berita