Friday, 18 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

"Menjadi pengelola hutan lestari untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat"

Achievements

Menhut Serahkan Penghargaan Wana Lestari Tingkat Nasional 2013

Activity

April  2014
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Rendah, Pendapatan Petani Kopi

18 March 2009


Kepala Perum Perhutani Jabar-Banten
KPH Bandung Selatan Lies Bahunta mengatakan, petani kopi yang menjadi mitra
Perhutani menjual produknya dalam bentuk gelondongan dengan harga hanya Rp
2.500 hingga Rp 3.000 per kilogram. “Kami mengharapkan unit bisnis kopi (UBK)
ini juga mencakup aspek penelitian dan pengembangan supaya kopi yang dijual
nantinya sudah dalam bentuk bubuk,” katanya, Senin (16/3) di Bandung.

Menurut dia, harga kopi bubuk di
pasar domestik saat ini Rp 30.000 hingga Rp 40.000 per kg, atau lebih dari 10
kali lipat jika dibandingkan dengan harga kopi petik. Adapun harga kopi
kategori gabah (biji kopi tanpa kulit) mencapai Rp 10.000 per kg. Lies
mengatakan, teknologi pengolahan kopi menjadi gabah sebenarnya cukup mudah dan
harga alatnya juga relatif murah, sekitar Rp 5 juta per unit.

Selain itu, ujarnya, kopi kategori
gabah yang sudah disangrai nantinya juga bisa dijual dalam kopi kategori beras
dengan harga Rp 20.000 per kg. “Intinya kami menginginkan petani yang
bermitra dengan kami dalam pola pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM)
mendapatkan margin keuntungan lebih besar dari komoditas yang dihasilkan,”
katanya.

Target 4.000 hektar

Luas lahan kopi varietas arabica di
KPH Bandung Selatan saat ini mencapai 1.970 hektar dengan jumlah pohon kopi mencapai
dua juta batang. Adapun volume produksi komoditas kopi mencapai 700 ton per
tahun. Hingga tahun 2010, Perhutani KPH Bandung Selatan yang meliputi Kabupaten
Bandung dan Kabupaten Bandung Barat menargetkan luas lahan kopi mencapai
sekitar 4.000 hektar dengan jumlah pohon kopi mencapai empat juta batang.

General Manager UBK Perhutani KPH
Bandung Selatan Rudi AH mengatakan, selama ini banyak oknum membeli kopi untuk
dijual lagi. Ini menyebabkan rantai pemasaran kopi terlalu panjang dan
menyebabkan harganya relatif tinggi di pasaran. Sayangnya, keuntungan tersebut
belum dinikmati petani kopi.

Dengan adanya UBK itu, Rudi
berharap, secara bertahap, keuntungan tersebut dapat dinikmati petani kopi.
Keuntungan lain yang tidak bisa dinilai dengan uang adalah kesinambungan fungsi
hutan. Dengan keuntungan yang tinggi, petani kopi secara tidak langsung akan
memelihara agar tanaman pokok tumbuh sebaik-baiknya.

Secara terpisah, Ketua Koperasi
Petani Kopi Warga Masyarakat Hutan Pangalengan, Rusnandar, mengatakan, rencana
Perhutani menyatukan industri kopi dari hulu ke hilir cukup baik dan berpotensi
meningkatkan kesejahteraan petani. Selama ini petani kopi cenderung menjual
produk dalam bentuk gelondongan karena tidak memiliki teknologi pengolah biji
kopi. “Namun, kami tetap akan menjual kopi hasil produksi kepada penawar
tertinggi,” katanya. (GRE)

Source :Kompas



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fatal error: Call to undefined function stc_get_connect_button() in /Data/publik/www/wp-content/plugins/simple-twitter-connect/stc-comments.php on line 231