Friday, 18 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

"Menjadi pengelola hutan lestari untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat"

Achievements

Menhut Serahkan Penghargaan Wana Lestari Tingkat Nasional 2013

Activity

April  2014
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Jati Platinum, Varietas Baru dari LIPI

17 January 2012

Jati berlian adalah varietas jati paling unggul hingga saat ini. Selain memiliki akar kokoh dengan akar tunjang majemuk, jati berlian memiliki ciri khas tumbuh lurus ke atas dan cenderung tidak bercabang.

Yang membuatnya istimewa, jati berlian tumbuh cepat. Dalam tiga tahun, tingginya dapat mencapai 10 meter dengan diameter batang 20 sentimeter dan setiap tahun diameternya bertambah 5 cm.

Namun kejayaan jati berlian mulai terancam. Berawal dari iseng, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melahirkan jati platinum. Vari etas unggulan dari tanaman bernama ilmiah Tectona grandis ini merupakan hasil mutasi bibit jati berlian.

“Dari jati berlian ini kami bermain mutasi,“kata Kepala Pusat Bioteknologi LIPI Witjaksono.

Untuk melahirkan varietas ati platinum, bibit jati ber ian terlebih dulu diperbanyak secara vegetatif dengan eknik kultur jaringan.

Caranya, meristem atau aringan tumbuh bibit ati berlian dikembangkan menjadi tunas. Setiap tunas yang dihasilkan memi iki banyak meristem.

Setidaknya, setiap ruas dalam satu tunas mengandung dua meristem yang dipotong lalu ditanam lagi menjadi tunas-tunas baru. “Seperti singkong, distek, tapi secara kultur jaringan,“ ujar Witjaksono.

Tunas hasil perbanyakan vegetatif ini ditanam dalam botol dan selanjutnya diradiasi di Badan Tenaga Nuklir Nasional. Tunas-tunas tersebut sengaja diberi radiasi supaya mengalami mutasi gen. Jika terjadi satu mutasi, akan ada satu tunas mutan.

Setelah diradiasi, tunastersebut kembali diperbanyak secara kultur jaringan, dengan perbandingan satu tunas diperbanyak menjadi 200 tunas baru.

Selanjutnya tunas tersebut ditanam di lahan perkebunan LIPI di Cibinong, Bogor.

Pertumbuhan tunas hasil radiasi ini terus diamati. Setelah 5 tahun, peneliti menemukan pertumbuhan tunas tersebut ternyata berbeda-beda, ada yang berukuran besar dan ada yang kecil.

Jati hasil radiasi yang pertumbuhannya cepat dan berukuran besar ditandai untuk mengecek kandungan DNA (asam deoksiribonukleat). Hasilnya, gen pohon hasil radiasi berbeda dengan induknya.

“Jadi kami yakin ini hasil mutasi jati berlian,“ ujarnya. “Ini kami namakan jati platinum.“

Witjaksono mengatakan keunggulan jati platinum dibanding varietas jati lainnya, termasuk jati berlian, masih perlu diteliti lebih lanjut.
Namun ia memastikan pertumbuhan jati platinum jauh lebih cepat dibanding jati berlian.

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI mengembangkan varietas jati platinum sejak 7 tahun lalu, hampir ber samaan dengan pengembangan bibit jati berlian lewat teknik kultur jaringan. Namun LIPI belum merilis secara resmi bibit jati platinum lantaran jumlah bibitnya masih sedikit.

LIPI memprioritaskan pe ngem bangan varietas jati platinum dan jati berlian lewat kultur jaringan secara bersamaan.

Sebab, keduanya merupakan varietas jati unggul yang memiliki prospek cerah untuk dikembangkan.

Ia mengakui pengembangan bibit jati berlian dan platinum masih terhambat keterbatasan laboratorium dan tenaga riset yang dimiliki LIPI. Untuk mengatasi masalah itu, pada pameran LIPI November lalu, LIPI menandatangani kerja sama dengan pondok Pesantren Ar-Risalah dari Ciamis, Jawa Barat, untuk pengembangan bibit kedua varietas jati.

“Masih kami godok, sejauh mana alih teknologi bisa kami berikan, apakah keseluruhan atau sebagian,“ kata Witjaksono.

“Laboratorium kami kecil tidak mungkin produksi berjuta-juta bibit.“ Kendati demikian, ia optimistis kedua varietas jati unggulan tersebut dapat dikembangkan dengan baik. Jati berlian dan platinum relatif gampang dikembangkan.

Ia mengatakan, jati berlian dan platinum dapat beradaptasi di ketinggian 600-800 meter di atas permukaan laut. Keduanya juga bisa tumbuh di daerah de ngan curah hujan tinggi, asalkan air tanahnya tidak dangkal.

“Sebab, kalau akarnya terkena air, akan mati,“ kata dia.

Kedua varietas jati ini juga mampu beradaptasi dengan da erah kering. Sebagai bentuk
adaptasi, pohon jati akan merontokkan daunnya begitu daerah tumbuhnya kekeringan, sehingga batangnya tidak menjadi kering.
“Ketika hujan turun, daunnya bisa tumbuh lagi,“ ujar Witjaksono.
Secara ekonomi, jati berlian hasil kultur jaringan pengembangan LIPI dipatok dengan harga jauh lebih murah dibanding bibit yang beredar di pasaran. Sementara di luaran harganya Rp 15-20 ribu per polybag, bibit jati berlian milik LIPI ini dihargai Rp 10 ribu.

Witjaksono mengatakan, dengan harga pasaran kayu jati Rp 3 juta per meter kubik, satu pohon jati berlian siap panen berusia 8-10 tahun bisa menghasilkan minimal 0,4 meter kubik dengan harga Rp 1,2 juta. Jika 1.000 pohon jati berlian ditanam di lahan seluas 1 hektare, nilainya bisa mencapai Rp 1,2 miliar dalam 10 tahun.

“Jadi lahan 1 hektare ditanam 1.000 pohon jati nilainya Rp 120 juta per tahun. Kan susah nyari investasi seperti ini,“ ujar Witjaksono.

Tanpa harus menunggu usia 10 tahun, jati berlian sudah bisa dipanen. Pada usia lima tahun,

jati berlian dapat dimanfaatkan sebagai kayu pelapis. Selama ini masyarakat menggunakan pelapis kayu dari pohon karet.
Tak hanya itu, jika ditanam rapat dengan jarak 3 meter, jarak antar-pohon jati berlian pada usia 5 tahun bisa diperlebar. Pohon yang dipanen dapat dimanfaatkan untuk pelapis.

Bekas tempat pena na mannya, sembari menunggu separuh jumlah pohon lainnya tumbuh hingga usia matang 10 tahun, bisa digunakan untuk tanaman palawija.

KORAN TEMPO :: 17 JANUARI 2012, Hal. A12



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fatal error: Call to undefined function stc_get_connect_button() in /Data/publik/www/wp-content/plugins/simple-twitter-connect/stc-comments.php on line 231