Rabu, 16 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Menjadi pengelola hutan lestari untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat

Prestasi

Menhut Serahkan Penghargaan Wana Lestari Tingkat Nasional 2013

Kegiatan

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Jajak

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Kebakaran Hutan Merapi akibat Ulah Manusia

11 Agustus 2008


Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi Seksi II Boyolali Ngusman,
Minggu (10/8), mengatakan, titik api dari bagian bawah tebing anak Gunung
Merapi itu dipastikan disebabkan oleh manusia, tetapi belum diketahui karena
kelalaian atau kesengajaan.

Titik api di
Wonodoyo muncul dari Petak 61 dan 62 Gunung Bibi, anak Gunung Merapi, Sabtu
pagi. Penanganan awal diambil alih petugas Balai Taman Nasional Gunung (BTNG)
Merbabu karena pada saat bersamaan petugas BTNG Merapi masih berupaya
memadamkan kebakaran di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, yang menghanguskan sekitar
23 hektar hutan di Gunung Merapi.

Setelah api
di Tlogolele padam Sabtu siang, pemadaman api di Wonodoyo kembali ditangani
BTNG Merapi. Dari penyelidikan sementara, kata Ngusman, titik api di Tlogolele
juga akibat ulah manusia. Tidak jauh dari lokasi kebakaran, petugas menemukan
sisa pembakaran arang.

Kebakaran di
Gunung Bibi, Wonodoyo, juga membakar sekitar 500 meter pipa paralon yang menuju
Dusun Wonopedut, Kecamatan Cepogo, dan Desa Suroteleng, Kecamatan Selo.

Menurut
Sekretaris Kecamatan Cepogo Karyono Utomo, pihaknya mengupayakan bantuan untuk
memperbaiki pipa air yang dibuat dari dana masyarakat dan bantuan Pemerintah
Kabupaten Boyolali. Sambil menunggu perbaikan, warga mendapat pasokan air
bersih dari Perum Perhutani.

Minimal 10
tahun

Pemulihan
kondisi TNG Ciremai di Jawa Barat diperkirakan perlu waktu minimal 10 tahun.
Kebakaran yang melalap 236 hektar lahan itu menghanguskan semak dan pepohonan.
Pepohonan untuk penghijauan di Desa Setianegara, Kecamatan Cilimus, Kabupaten
Kuningan, hangus terbakar. Sebagian lagi kering kepanasan. Bekas kebakaran dua
tahun lalu juga belum pulih.

”Penanaman
butuh tenaga ekstra karena wilayah bekas kebakaran hutan sebagian tidak
terjangkau kendaraan bermotor. Untuk menumbuhkan pohon pinus tidak cukup waktu
5 tahun,” kata Kepala Seksi Pengelola TNG Ciremai Wilayah I Linggarjati Maman
Surahman.

Menurut
Maman, sebagian wilayah Gunung Ciremai yang terdiri atas semak-semak memang
rawan kebakaran. ”Kebakaran terakhir yang kami tangani disebabkan bekas
perapian perkemahan yang tidak dipadamkan secara sempurna. Sebelumnya karena
pembakaran sampah dan puntung rokok,” ujarnya.

Pemadaman
bukan hal yang mudah. Petugas hanya mempunyai satu kendaraan pemadam. Untuk
memadamkan hutan, mereka harus bolak-balik naik turun gunung untuk menyedot
air. Beratnya medan membuat kecepatan kendaraan terbatas, 30 kilometer per jam.
Di sisi lain, api sangat mudah menjalar karena angin kencang. (NIT)


Anthony Lee
Sumber : Kompas Cetak

Source :Anthony Lee



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Fatal error: Call to undefined function stc_get_connect_button() in /Data/publik/www/wp-content/plugins/simple-twitter-connect/stc-comments.php on line 231