Jumat, 18 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Menjadi pengelola hutan lestari untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat

Prestasi

Menhut Serahkan Penghargaan Wana Lestari Tingkat Nasional 2013

Kegiatan

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Jajak

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

CEGAH BENCANA ALAM DENGAN MELESTARIKAN HUTAN

24 Oktober 2008


Demikian
kutipan sebuah buku karya Rachel Carson, berjudul The Silent Spring
(Musim Semi yang Sunyi) yang diterbitkan pada 1962 silam. Pada masa itu, buku
tersebut populer karena mempunyai pengaruh yang cukup kuat terhadap kesadaran
seseorang dalam memelihara atau melestarikan lingkungan hidup. Sedangkan
beberapa tahun sebelum buku itu diterbitkan, banyak sejumlah kota besar seperti
Los Angeles mengalami masalah asap yang menyerupai kabut. Selimut asap itu
tentunya mengganggu kesehatan, khususnya saluran pernafasan dan merusak pula
perkebunan sayuran dan buah-buahan di kota itu. Atas kondisi itulah, terbitnya
buku Rachel sangat disambut baik oleh masyarakat setempat, terlebih lagi dapat
mempengaruhi perilaku manusia terhadap lingkungan hidup. Memang, perilaku
manusia terhadap lingkungan hidup mesti diperhatikan, karena hal itu merupakan
salah satu penyebab terjadinya kerusakan hutan, bencana banjir dan longsor,
kekurangan air, dan lain-lain. Tapi selain itu, kerusakan hutan dan terjadinya
bencana alam juga ada yang disebabkan oleh faktor alam. Kitab suci agama Islam,
Kristen dan Yahudi mencatat betapa banyak masalah lingkungan yang dihadapi umat
manusia. Air bah yang dihadapi Nabi Nuh dan berbagai kesulitan yang dihadapi
Nabi Musa di gunung pasir pada saat mengembara dari Mesir ke Kana’an juga
menjadi salah satu permasalah lingkungan yang dihadapi manusia. Ada pula yang
menyebutkan, ambruknya kerajaan di Mesopotamia disebabkan oleh salinisasi atau
naiknya kadar garam dalam tanah yang disebabkan oleh pengairan. Proses
salinisasi itu pada akhirnya menghancurkan kesuburan tanah pertanian.

Pada abad ke-14 Eropa dilanda wabah pes yang menewaskan ribuan orang. Kemudian
pada abad ke-19, London dan sejumlah kota industri lainnya mengalami masalah
asap kabut. Demikianlah, permasalahan lingkungan hidup bukanlah hal yang baru,
tapi sudah ada sejak dahulu, bahkan sudah ada sejak bumi itu lahir. Bumi tidak
statis, melainkan dinamis dan terus menerus mengalami perubahan. Hingga kini,
perubahan-perubahan itu masih terus terjadi ditandai dengan gempa bumi yang
menjadi-jadi, meletusnya gunung berapi, puting beliung, musim kemarau dan musim
hujan yang terjadi secara abnormal. Bencana-bencana itu hanya sebagian saja
yang terjadi akibat perilaku manusia dan sebagian lainnya akibat faktor alam.

Untuk menciptakan lingkungan hidup dalam kehidupan yang seimbang sangat
tergantung dari kegiatan manusia. Sedangkan kegiatan manusia sangat dipengaruhi
oleh tingkat kesadarannya masing-masing dalam memelihara dan melestarikan
lingkungan hidup. Sebagaimana diketahui, kehidupan bernegara itu didalamnya
berisi kumpulan manusia yang disebut masyarakat, bagian terkecil dari masyarkat
ialah keluarga. Dengan demikian, maka warna dari masyarakat itu ditentukan oleh
keadaan keluarga.

Sedangkan mengenai kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, harus diawali dari
kesadaran keluarga, yakni kesadaran dalam menghadapi dan menciptakan lingkungannya
masing-masing. Misalnya, bagaimana menciptakan suasana bersih di sekitar rumah,
bagaimana memelihara kebersihan di rumah, kemudian berkembang untuk menciptakan
suasana bersih di sekitar masyarakat. Selanjutnya, apabila suasana dan tingkah
laku seperti itu sudah membudaya, maka tinggal meningkatkan bagaimana mengelola
atau membudidayakan lingkungan dengan berwawasan lingkungan. Perilaku manusia
pada dasarnya dikendalikan oleh etika manusia itu sendiri. Lalu, bagaimanakah
cara mengembangkan diri manusia etika lingkungan yang pada akhirnya nanti
terwujud kelestarian hutan?

Etika adalah nilai moral seseorang atau kelompok manusia yang membimbing
tindakan dan sikapnya. Nilai moral manusia itu kemudian membimbing seseorang
berbuat baik, benar dan patut. Dalam perkembangan hidup manusia terdapat
faktor-faktor lain yang bisa mempengaruhi nilai moral manusia, yakni kondisi
lingkungan sosial dan lingkungan alam. Sedangkan nilai moral yang mempengaruhi
perilaku manusia ditentukan oleh hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Kuasa,
hubungan manusia dengan manusia dalam lingkungan sosial dan hubungan manusia
dengan berbagai komponen ekosistem dalam lingkungan alam. Dengan demikian,
salah satu upaya melestarikan lingkungan dan hutan itu diperlukan sebuah etika
lingkungan, termasuk kesadaran manusia dalam memelihara lingkungan dan hutan.
Keberadaan hutan itu memiliki peran ganda, termasuk berperan dalam
mempertahankan kelangsungan hidup manusia. Bahkan, terdapat puluhan juta umat
manusia di Indonesia yang secara langsung menggantungkan hidupnya terhadap
sumber alam hayati, kenapa manusia dengan mudahnya merusak hutan? Kenapa harus
ada pengrusakan hutan yang diakibatkan oleh tindakan manusia? Bukankah hutan
seharusnya dilestarikan bersama-sama? Jika pun harus memanfaatkan hutan, bisa
dilakukan sesuai dengan etika dan aturan yang berlaku? Tapi, kenapa tetap saja
ada pengrusakan hutan? Tidak bisakah manusia bersama-sama menjaga dan
melestarikan hutan untuk kepentingan generasi selanjutnya. Jika hutan tetap
rusak, bagaimana nasib anak dan cucu kita nanti?

Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Profesor
Doktor Soekotjo menyebutkan bahwa selama beberapa puluh tahun terakhir, laju
kerusakan hutan di Indonesia mencapai dua juta hektar per tahun. Penyebab
kerusakan hutan dalam kurun waktu itu banyak disebabkan oleh kebakaran hutan
dan aksi penebangan liar (illegal loging).

Ia mencatat, selama tahun 1985-1997 kerusakan hutan di Indonesia mencapai 22,46
juta hektar. Artinya, rata-rata kerusakan hutan per tahun di Indonesia sudah
mencapai angka yang memprihatinkan, yakni seluas 1,6 juta hektar hutan. Menurut
dia, penyebab kerusakan hutan di Indonesia itu ialah penebangan yang berlebihan
disertai kurangnya pengawasan lapangan, maraknya penebangan liar, kebakaran
hutan, dan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian atau pemukiman.

Kebakaran hutan terbesar pernah terjadi di Indonesia pada 1997, mengakibatkan
hampir 70 persen hutan terbakar. Kerusakan hutan semakin meningkat ketika marak
penebangan liar di Indonesia. Penebangan liar itu sendiri telah merusak
segalanya, mulai dari ekosistem hutan sampai perdagangan kayu hutan. Selain
itu, lemahnya pengawasan lapangan penebangan resmi juga memberi andil tingginya
laju kerusakan hutan di Indonesia. Padahal sebenarnya, kriteria Direktorat
Kehutanan mengenai Tebang Pilih Indonesia (TPI) sudah cukup baik dan sesuai
dengan kriteria pengelolaan hutan yang dirumuskan dalam berbagai pertemuan ahli
hutan se-dunia. Namun pelaksanaan di lapangan, nampaknya kriteria itu tidak
berjalan karena lemahnya pengawasan. Perum Perhutani mencatat, kerusakan hutan
yang terjadi pada tahun 2007 mencapai kisaran 250 ribu-300 ribu hektar. Angka
tersebut hampir menyamai jumlah kerusakan hutan yang terjadi selama 2006.
Sedangkan dalam mengatasi kerusakan hutan itu, pihak Perhutani menyiapkan
ratusan juta bibit pohon yang ditanami di beberapa lahan hutan yang kosong di
berbagai daerah. Penanaman ratusan juta bibit pohon yang dilakukan di seluruh
jajaran Perhutani itu ditargetkan bisa selesai sebelum tahun 2010 mendatang.
Sedangkan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mencatat, kerusakan hutan yang
terjadi akibat penebangan hutan di Indonesia yang tidak terkendali sejak akhir
tahun 1960-an. Pada saat itu, banyak orang melakukan penebangan kayu secara
manual. Penebangan hutan skala besar yang terjadi mulai tahun 1970 juga
menyumbang laju kerusakan hutan di Indonesia. Selain itu, pengeluaran izin-izin
pengusahaan hutan tanaman industri pada tahun 1990 juga mengakibatkan kerusakan
hutan. Kerusakan hutan semakin parah dengan kondisi pemerintahan yang korup,
dan beranggapan bahwa hutan merupakan sumber uang dan dapat dikuras habis hanya
untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Dalam bukunya yang berjudul Ekologi,
Lingkungan Hidup dan Pembangunan
, Otto Soemarwoto menyebutkan, sumber
masalah kerusakan lingkungan hidup ialah terjadinya tekanan penduduk terhadap
lahan yang berlebih atau dilampauinya dayadukung lingkungan. Karena itu, hal
tersebut harus segera ditangani. Jika permasalahan itu sudah bisa diatasi, baik
urbanisasi maupun lahan kritis, maka akan dapat teratasi pula kerusakan
lingkungan. Sedangkan jika permasalahan yang berupa tekanan penduduk yang
berlebih tidak ditangani, maka masalah urbanisasi dan lahan kritis pun tidak
akan bisa teratasi.

Tekanan penduduk terhadap lahan dapat dikurangi dengan menaikkan dayadukung
lingkungan. Sebaliknya, penurunan dayadukung lingkungan akan menaikkan tekanan
penduduk. Hal itulah yang sering terjadi dalam usaha menanggulangi permasalahan
lahan kritis. Bermilyar-milyar rupiah telah dikeluarkan untuk penghijauan dan
reboisasi, tapi hasilnya belum juga menggembirakan. Banyak pohon yang ditanami
dalam rangka melakukan penghijauan dan reboisasi, tapi pohon-pohon itu
dimatikan lagi oleh penduduk. Kegagalan penghijauan dan reboisasi tersebut
dapat dipahami, karena kedua hal tersebut pada dasarnya menurunkan dayadukung
lingkungan. Dalam hal penghijauan, pohon ditanam di lahan petani yang digarap.
Pohon itu mengambil luas tertentu, sehingga jumlah luas lahan yang tersedia
untuk tanaman petani menjadi berkurang. Karena itu, petani berusaha mematikan
pohon-pohon itu. Apabila penghijauan dikaitkan dengan perbaikan pencagaran
tanah, seperti dengan pembuatan sengkedan, maka penghijauan itu dapat menaikkan
dayadukung lingkungan. Namun, usaha itu memerlukan banyak biaya, sehingga tidak
banyak petani yang mengikutinya.
Reboisasi juga mempunyai efek yang sama sebagaimana usaha penghijauan, yakni
akan mengurangi luas lahan yang dapat ditanami oleh peladang dan pengurangan
produksi oleh naungan pohon. Perbedaannya dengan penghijauan ialah lahan yang
direboisasi bukanlah milik peladang, melainkan milik negara. Para peladang
menggarap lahan kehutanan itu secara tidak sah. Karena itu, jika dilihat dari
sisi hukum, maka pihak Dinas Kehutanan mempunyai hak untuk mengambil kembali
lahan kawasan hutan yang digarap oleh peladang. Hanya, peladang yang tidak
mempunyai sumber kehidupan lain tidak mempunyai pilihan lain, selain menggarap
lahan kehutanan itu. Dengan demikian jelas, dari segi ekologi manusia,
penghijauan dan reboisasi sulit untuk bisa berhasil, selama usaha itu mempunyai
efek menurunkan dayadukung lingkungan dan menghilangkan atau mengurangi sumber
mata pencaharian penduduk.

Mengutip kesulitan ekologi manusia seperti itu, nampaknya perlu dicari
perbaikan dan pencairan usaha penanggulangan alternatif yang ditujukan pada
pemecahan sumber masalah, yakni sedapat-dapatnya mengurangi dan bila
memungkinkan meniadakan tekanan penduduk yang melampaui dayadukung lingkungan.
Tekanan penduduk bisa dikurangi dengan menaikkan dayadukung lingkungan dan atau
mengurangi jumlah petani. Usaha pengurangan tekanan merupakan usaha baik untuk
mengatasi permasalahan lahan kritis maupun urbanisasi. Karena itu,
penanggulangan lahan kritis bukanlah masalah kehutanan yang sempit, melainkan
masalah pembangunan yang luas. Beberapa kemungkinan yang bisa dijadikan cara
alternatif ialah empat jenis sistem penghijauan berturut-turut, yakni sawah,
pekarangan, talun-kebun, dan perkebunan rakyat, serta sistem perikanan dan
penciptaan lapangan kerja baru. Namun, hal tersebut hanya sebagai contoh cara
alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam penanggulangan lahan kritis, dan
selain itu, kemungkinan masih ada lagi cara alternatif lain. Para ilmuwan di
Fakultas Kehutanan UGM optimistis hutan di Indonesia masih bisa dipulihkan
dalam kurun waktu 40 tahun mendatang. Caranya ialah dengan melakukan teknik
pemuliaan pohon, manipulasi lingkungan, serta pengendalian hama dan penyakit.
Penanaman hutan secara intensif menjadi pilihan terbaik, karena bisa diprediksi
untuk beberapa tahun ke depan. Sehingga, kebutuhan kayu bisa diperhitungkan
tanpa harus merusak habitat hutan alam yang masih baik. Meski demikian, untuk
mempertahankan seluruh hutan di Indonesia yang kini kondisinya sudah sangat
memprihatinkan itu tidak mungkin. Tapi paling tidak, 50 persen hutan alam di
Indonesia harus tetap dijaga keasliannya. Sisanya, bisa diusahakan menjadi
hutan tanaman industri. Menjaga 50 persen hutan alam itu sendiri berguna untuk
keseimbangan ekosistem, mempertahankan genetik tanaman dan menjadi sumber
tanaman obat serta sumber makanan. Karena itu, mari bersama-sama menjaga dan
melestarikan hutan. Mulailah menanam pohon untuk kebutuhan kayu keluarga di
masa datang, memanfaatkan kayu dengan bijak dan taat hukum. (*)
REFERENSI
A. Mangunhardjana, 1997, Isme-Isme dalam Etika dari A sampai Z,
Yogyakarta, Kanisius.

Emil Salim, 2000, Kembali ke Jalan Lurus (Esai-Esai 1966-99), Jakarta,
Alvabet.

Otto Soemarwoto, 1985, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan,
Bandung, Djambatan.

P. Djoko Subagyo, 1992, Hukum Lingkungan (Masalah dan Penanggulangannya),
Jakarta, Rineka Cipta.

http://www.walhi.or.id

http://www.kabarindonesia.com

http://www.indonesia.go.id

http://klipingut.wordpress.com

Source :Ali Khumaini



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Fatal error: Call to undefined function stc_get_connect_button() in /Data/publik/www/wp-content/plugins/simple-twitter-connect/stc-comments.php on line 231