Minggu, 20 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Visi PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) : "Menjadi penyedia jasa kepelabuhanan dan logistik terkemuka di tingkat regional"

Prestasi

PT Pelindo I (Persero) Cabang Lhokseumawe Terima Penghargaan Bendera Emas SMK3 Dari Menakertrans

Kegiatan

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Jajak

Menurut Anda, apa yang menjadi prioritas untuk dilakukan oleh Manajemen PT Pelindo I (Persero) Cab. Pelabuhan Sibolga?

  • Penertiban/Penataan di dalam areal lingkungan Pelabuhan (38%, 3 Votes)
  • Peningkatan fasilitas infra dan suprastruktur (38%, 3 Votes)
  • Peningkatan Kinerja SDM (25%, 2 Votes)
  • Peningkatan Pelayanan Jasa Kepelabuhanan (0%, 0 Votes)

Total Voters: 8

Loading ... Loading ...

Peluang Wisata Kapal Pesiar di Sumatera Utara

13 Juli 2011

Wilayah Indonesia yang memiliki lautan yang luas memiliki comparative advantage menjadi kawasan wisata bahari ASEAN yang lebih luas dan lebih  indah dari Caribean dan Mediteranian.

Lautan India dan  Lautan Pasifik  yang mengelilingi Indonesia, Selat Malaka, perairan  Indonesia timur adalah jalur yang selalu dilintasi kapal pesiar internasional dan regional. Pelayaran wisata kapal pesiar  merupakan salah satu segmen pariwisata yang berkembang dengan cepat. Indonesia berada di dalam pengembangan jalur New Regional Cruise Corridors untuk wilayah ASEAN dan sekitarnya. Wisata kapal pesiar dapat mendistribusikan wisatawan mancanegara (wisman) secara langsung ke pelosok Indonesia,  hingga ke tempat paling terpencil.  

Pengembangan pariwisata bahari Sumatera Utara (Sumut) memberikan efek berganda (multiplier effects), menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, mendatangkan devisa dan dapat mendorong konservasi lingkungan. Pariwisata bahari dapat menjadi terobosan ekonomi untuk mengembangkan daerah/pulau-pulau kecil  yang terpencil yang belum terjangkau melalui moda angkutan darat dan udara.

Wisata kapal pesiar sudah berkembang  di Thailand yang bermarkas di Phuket (Grup Ranong) dan pelabuhan khusus kapal pesiar di Phuket. Wisata kapal pesiar di Singapura dengan  home base kapal pesiar (Grup Seaworld) dan  punya terminal khusus kapal pesiar. Wisata kapal pesiar di Malaysia dengan home base kapal pesiar di Penang dan Port Klang (Grup Genting Berhad) dan pelabuhan khusus kapal pesiar di Langkawi.

Di Indonesia, sudah ada kapal pesiar  domestik home base di Bali dengan trayek Bali sekitarnya.  Belum ada kapal pesiar home base Indonesia  untuk  trayek internasional.  Yang sudah ada saat ini adalah lomba perahu layar Ambon–Darwin secara rutin.

Tarif pelabuhan  di Malaysia untuk kapal internasional dan domestik  dipatok  sama dalam ringgit. Biaya sandar berdasar panjang kapal dan lama sandar, dihitung per jam. Pasang jangkar di tengah laut gratis. Handling fee, minyak dan air tidak dikenakan sales tax  (Pajak Penjualan/PPn)

Tarif pelabuhan Indonesia untuk kapal trayek  internasional (maskapai asing dan maskapai Indonesia)  dalam US$, sedangkan rute domestik tarif dalam rupiah. Handling fee, harga minyak dan  air bersih untuk trayek  internasional lebih mahal daripada trayek domestik dan harus dalam US$ dan dikenakan PPn. Biaya sandar di pelabuhan diukur berdasarkan tonase kapal dan dibayar per et mal (per enam jam). Pasang jangkar di tengah laut bagi kapal asing  bayar Rp 1 juta per hari (?)

Saat ini belum ada kapal pesiar yang masuk ke pelabuhan Indonesia dan mengambil penumpang WNI. Bagi WNI  yang mau naik kapal pesiar harus ke Singapura dan berangkat dari negeri pulau itu. Hal ini terjadi akibat Keputusan Menteri Perhubungan (Menhub) No KP 20/AL.005/PHB-92, tanggal 10 September 1992 tentang Larangan Penyelenggaraan Perjudian di atas kapal di wilayah perairan Indonesia yang diteken Menhub Azwar Anas. Dalam pasal 3 disebutkan setiap kapal asing yang menyediakan fasilitas perjudian di atas kapal, dilarang menaikkan penumpang WNI dari seluruh pelabuhan di seluruh Indonesia.

Keputusan Menhub No KP 80 Tahun 2001, tanggal  22 Maret 2001 tentang Pencabutan Keputusan Menhub No KP 20/AL.005/PHB-92, tanggal 10 September 1992 tentang Larangan Penyelenggaraan Perjudian di atas kapal di wilayah perairan Indonesia yang diteken Menhub Agum Gumelar. Pada pasal 1  (1) :  Keputusan Menhub No KP 20/AL.005/PHB-92, tanggal  10 September 1992  tentang Larangan Penyelenggaraan perjudian di atas kapal di wilayah perairan Indonesia dinyatakan tidak berlaku.

Pada pasal 1 (2) disebut larangan perjudian di atas kapal di wilayah perairan Indonesia dilaksanakan sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku.

Surat Edaran (SE) Dirjen Perhubungan Laut Dephub No UM 48/4/13-01 tanggal 9 Maret 2001 tentang pengoperasian kapal pesiar perorangan, ditanda tangani Dirjen Perhubungan Laut Tjuk Sukardiman. Dalam Butir 3 ayat  a, disebutkan, kapal pesiar niaga asing (cruise) sesuai peraturan yang berlaku selama ini, dapat beroperasi di Indonesia dengan menunjuk perusahaan pelayaran nasional sebagai general agentnya. Dalam butir 3 ayat b disebut, dalam pengoperasian di Indonesia, harus terlebih dahulu mendapatkan Clearance Approval for Indonesia Territory (CAIT) yang meliputi Political Clearance dari Deplu, Security Clearance dari Mabes TNI dan Sailing Permit dari Dirjen Perhubungan Laut.

Beranjak dari regulasi tersebut, sudah terbuka peluang bagi ussaha kapal pesiar di Indonesia, termasuk peluang wisata kapal pesiar  di Sumut . Peluang tersebut karena geografis Sumut dekat dengan jalur kapal pesiar regional (home basenya)  di Singapura, Malaysia dan Thailand. Kedua, dilewati jalur kapal pesiar long haul destination dari Eropah, Mediterania dan  Carribean. Ketiga, Sumut mempunyai banyak pulau eksotik untuk persinggahan seperti di pantai Timur ada Pulau Berhala, Salahnama, Pandang, Kepulauan Aru,  di pantai barat ada Kepulauan  Nias, Pulau-Pulau Batu (Pini, Telo,Tanahmasa, Tanahbala, Sigata dll). Keempat, mempunyai banyak pelabuhan besar lengkap dengan fasilitas dan dekat ke objek wisata “one day tour” seperti  Belawan,  Teluk Dalam, Gunung Sitoli  dan Sibolga.

Tantangan pengembangan wisata kapal pesiar Indonesia antara lain, pertama, tarif pelabuhan dan port handling di pelabuhan Indonesia lebih mahal dibanding  Thailand, Malaysia dan Singapura. Kedua, prosedur perizinan kapal pesiar masuk ke Indonesia sangat rumit. Ketiga, fasilitas pelabuhan Indonesia untuk kapal pesiar masih belum memuaskan dibanding negara jiran.

Keempat, belum beroperasi  kapal pesiar trayek internasional home base Indonesia
Untuk merangsang tumbuhnya wisata kapal pesiar diusulkan dibangun infrastruktur pendukung wisata bahari  di Sumut. Antara lain agar dibangun fasilitas CIQP (Custom, Imigrasi, Karantina, Port Authority) untuk kapal singgah tanpa sandar di daerah pulau –pulau eksotik dari Sumut. Kedua, terminal penumpang kapal pesiar yang layak dengan fasilitas CIQP. Ketiga, marina untuk yacht.

Usulan kegiatan wisata kapal pesiar Sumut antara lain dilakukan dengan cara, pertama, promosi wisata bahari di Internasional Cruise Travel Fair. Kedua, promosi kapal pesiar perorangan (yacht). Ketiga, kegiatan touring/lomba jet ski, yacht lintas Selat Malaka dan keliling pulau Sumatera  meliputi Singapura, Malaysia, Thailand dan Sumatera (Indonesia).  Keempat, pengadaan lomba kapal layar India – Nias, Singapura-Medan (seperti  lomba kapal layar Ambon – Darwin). Promosi kapal pesiar trayek internasional tujuannya agar kapal pesiar mau  singgah di Sumut.

Perairan Sumut dapat dikunjungi kapal pesiar dengan memakai  jalur  Lingkar Luar Indonesia:Masuk Indonesia (Singapura)–Kepulauan  Rupat–Belawan – Sabang – Banyak – Nias – Mentawai – Enggano – Krakatau – Pelabuhan Ratu – Pangandaran – Cilacap – Sendang Biru – Bali – Lombok – Komodo – Rote – Kupang -  Wetar – Keluar Indonesia (Darwin). Kemudian, jalur internasional  jarak jauh (long haul) dari Eropa Cruise, Mediteranian Cruise  dan  Caribean Cruise jalur lintas Selat Malaka.

Bila kegiatan dan program di atas dapat diwujudkan, dipastikan akan terjadi peningkatan wisman ke Sumut menggunakan kapal pesiar dan yacht tersebut. (Raya Timbul Manurung)

(Penulis adalah pengamat pariwisata dan infrastruktur, tinggal di Medan)



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Fatal error: Call to undefined function stc_get_connect_button() in /Data/publik/www/wp-content/plugins/simple-twitter-connect/stc-comments.php on line 231