Minggu, 20 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

PT PEGADAIAN (Persero)

"MENGATASI  MASALAH TANPA MASALAH"

Prestasi

Kegiatan

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Jajak

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Pegadaian Syariah

26 Agustus 2005

SyariahPublikasi: 11/01/2005 11:42 WIB

eramuslim – Berdirinya pegadaian syariah, berawal pada tahun 1998 ketika beberapa General Manager melakukan studi banding ke Malaysia. Setelah melakukan studi banding, mulai dilakukan penggodokan rencana pendirian pegadaian syariah. Tapi ketika itu ada sedikit masalah internal sehingga hasil studi banding itu pun hanya ditumpuk.

Pada tahun 2000 konsep bank syariah mulai marak. Saat itu, Bank Muamalat Indonesia (BMI) menawarkan kejasama dan membantu segi pembiayaan dan pengembangan. Tahun 2002 mulai diterapkan sistem pegadaiaan syariah dan pada tahun 2003 pegadaian syariah resmi dioperasikan dan pegadaian cabang Dewi Sartika menjadi kantor cabang pegadaian pertama yang menerapkan sistem pegadaian syariah.

Dengan motto “Mengatasi Masalah dengan Syariah”, Manager Pegadaian Syariah cabang Dewi Sartika Rudi Kurniawan mengungkapkan, pagadaian syariah merupakan perusahaan yang modern dan dinamis. Tujuannya untuk memudahkan pemberian pinjaman dengan hukum syariah dan memberantas rentenir. Biaya awal pengoperasian pegadaian syariah cabang Dewi Sartika, kata Rudi, sebesar 1,55 milyar rupiah.

Pria kelahiran 17 Oktober 1968 ini menjelaskan, bahwa target pasar pegadaian syariah tidak bersifat eksklusif untuk masyarakat Islam saja tapi juga non Muslim. Awalnya sasaran konsumen pegadaian syariah adalah masyarakat Islam yang loyalis, yang tidak mau berhubungan dengan sistem ekonomi konvensional. Ternyata jumlah mereka cukup banyak.

Pelayanan yang Baik untuk Kepuasan Masyarakat

Untuk mengenalkan pegadaian syariah pada masyarakat, awalnya digunakan prinsip halal haram, namun seiring perjalanan waktu, konsep itu sudah tidak terlalu relevan. Karena masyarakat sekarang bukan masyarakat yang loyalis, tapi masyarakat yang rasional. Sehingga untuk menarik minat masyarakat, yang dikedepankan adalah pelayanan yang baik, bertanggungjawab dan Islami.

Pagadaian Syariah cabang Dewi Sartika, ungkap bapak empat orang anak ini, mulai beroperasi tanggal 14 Januari 2003. Rudi mengatakan, pelayanan pegadaian Syariah berbeda dengan pelayanan pegadaian konvensioanal. Salah satu yang membedakannya antara lain, karyawan perempuan misalnya harus mengenakan jilbab dan yang lebih diutamakan adalah akhlak Islami. Setiap karyawan ditekankan untuk selalu tersenyum dalam memberikan pelayanan karena senyuman adalah ibadah.

“Semua dituntut tanggung jawabnya sesuai dengan tugas dan kewajibannya masing-masing,” kata Rudi.

Sejauh ini pegadaian syariah belum menghadapi kendala yang berarti. Persentase pelanggan yang tidak bisa menebus barang yang digadaikan masih sangat kecil. Dalam hal ini, pegadaian syariah memberikan kemudahan, apabila barang tersebut belum dapat ditebus maka pelanggan bisa memperbaharui akad sebelum dilelang. “Jangka kreditnya bisa diperpanjang hingga empat bulan ke depan. Sedangkan untuk barang gadaian yang dijual, penyebabnya kebanyakan karena pelanggan sudah lupa dengan barang yang digadaikannya dan sulit dihubungi. Pembaharuan akad terus diulang bahkan sampai 12 tahun,” papar Rudi.

Untuk promosi pegadaian syariah juga mempertimbangkan prinsip-prinsip syariah, misalnya tidak mengandung dusta. “Sebab saat ini banyak sekali promosi yang mengandung dusta atau menjanjikan sesuatu yang sebenarnya tidak ada,” tambah Rudi. Ke depan, dirinya berharap pegadaian syariah mampu bersaing secara terbuka, sebab masyarakat sudah mampu memilih mana layanan-layanan yang terbaik.

Rudi mengakui masih ada kalangan masyarakat yang tidak terlalu peduli apakah pelayanan itu syariah atau bukan. Di sisi lain, banyak juga nasabah yang loyal dengan prinsip syariahnya.

“Nasabah yang loyal ini justru datang dari jauh seperti Bogor dan Bekasi. Mereka mengejar syariahnya, padahal di Bogor ada pegadaian konvensional,” ujarnya Rudi.

Prospek Pegadaian Syariah Cerah

Manager muda yang gemar membaca ini mengatakan, bahwa prospek pegadaian syariah di masa depan sangat luar biasa. Respon masyarakat terhadap pegadaian syariah ternyata jauh lebih baik dari yang diperkirakan. Menurut survei BMI, dari target operasional tahun 2003 sebesar 1,55 milyar rupiah pegadaian syariah cabang Dewi Sartika mampu mencapi target 5 milyar rupiah, dan untuk tahun selanjutnya targetnya adalah 8 milyar rupiah.

Pegadaian syariah tidak menekankan pada pemberian bunga dari barang yang digadaikan. Meski tanpa bunga, pegadaian syariah tetap memperoleh keuntungan seperti yang sudah diatur oleh Dewan Syariah Nasional, yaitu memberlakukan biaya pemeliharaan dari barang yang digadaikan. Biaya itu dihitung dari nilai barang, bukan dari jumlah pinjaman. Sedangkan pada pegadaian konvensional, biaya yang harus dibayar sejumlah dari yang dipinjamkan.

Sebagai bentuk pelayanan yang baik pada nasabah, pada momen-momen tertentu pegadaian syariah membagikan souvenir berupa payung atau kalender pada nasabahnya. Setiap bulan ramadhan pegadaian syariah melakukan kegiatan sosial dengan membagi-bagikan makanan berbuka kepada kaum muslimin yang masih dalam perjalanan disaat berbuka.

Rudy Kurniawan sendiri telah berkecimpung di pegadaian syariah sejak awal pendirian pegadaian syariah. sebelumnya ia bekerja di pegadaian konvensional. Saat ini pegadaian syariah di Jakarta sudah memiliki tiga cabang yaitu di jalan Dewi Sartika, Margonda dan Cinere, serta cabang lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia. Cabang Pegadaian Syariah pertama terletak di jalan Dewi Sartika no.139 A Cawang III, telp. 021 809 3116 (Travel Sri. WR / ln)

Source :P ariaman



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

: *


*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>