Minggu, 20 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

PT PEGADAIAN (Persero)

"MENGATASI  MASALAH TANPA MASALAH"

Prestasi

Kegiatan

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Jajak

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Pegadaian Ilegal marak di Tasik Malaya

26 Agustus 2005

TASIKMALAYA, (PR).-
Sebagian pengusaha toko emas di Tasikmalaya, teryata banyak melakukan praktek pegadaian emas yang sebenarnya melanggar PP No 10/-1990. Dalam peraturan tersebut, dijelaskan pegadaian hanya boleh dilakukan badan resmi. Tujuannya untuk membantu pemerintah dalam pembangunan dan ekonomi.

Demikian diungkapkan Manajer Perum Pegadaian Tasikmalaya Arief Rinardi,S.Sos, Kamis (8/8). Ia menjelaskan, berdasarkan survei Perum Pegadaian Tasik, dilihat dari segi bunga ada perbedaan jauh antara Pegadaian dengan toko emas. “Pegadaian swasta” itu menerapkan bunga 5% per bulan, sedangkan Perum Pegadaian hanya 1,25% – 1,75% per lima belas hari.

Kelemahan lain, pegadaian ilegal itu tidak menjamin dengan asuransi dan keamanan tidak terjamin, lain dengan Perum Pegadaian. “Pokok-nya semuanya jelas, mulai taksiran harga barang, tanggal kredit, batas waktu, dan waktu lelang,” jelas Arief.

Ia menegaskan, tidak keberatan adanya pegadaian swasta, asalkan mempunyai izin resmi. Jika tidak, jelas akan merugikan pemerintah, karena sewa modal itu bukan masuk ke pemerintah tetapi masuk ke kantung pribadi. Sesuai PP 10/1998, tugas pegadaian mencegah terjadinya praktek riba, rentenir, dan gadai gelap di masyarakat. “Jika swasta ingin praktik pegadaian berarti harus memiliki badan hukum yang jelas,” tutur Arief.

Dikatakan Arief, munculnya pegadaian swasta terjadi sejak beberapa tahun lalu, tetapi buktinya baru diketahui saat ini. Akibat banyak pegadaian ilegal, omset pegadaian jauh dari target yang ditentukan.

Untuk daerah sebesar Tasik, khusus untuk emas seharusnya mendapatkan nilai sebesar Rp 60% dari total nilai, tetapi kenyataannya hanya mendapat 40%. Untuk Rekapitulasi Januari sampai Juli 2002, dari total omset Rp 6,099 miliar, total kredit khusus emas hanya mendapat Rp 2,615 miliar (40%). Padahal seharusnya Rp 4 miliar lebih. Hasil itu sangat jauh kalau diban-dingkan dengan Pegadaian Garut dan Ciamis, yang rata-rata mencapai Rp 15 miliar.

Sekadar titipan

Beberapa pengusaha toko emas di kawasan pertokoan Cihideung, ketika dihubungi Priangan mengakui melakukan praktik gadai. Salah seorang staf toko emas di sana semula menolak melakukan gadai gelap. Namun akhirnya ia mengakui di tokonya juga sering menerima titipan emas. “Tetapi istilah bukan gadai, tetapi hanya titipan saja. Kalau ada yang nyimpan karena terdesak uang, ya kami terima,” katanya.

Ketika ditanya tentang izin usaha pegadaian, ia tidak bisa menjawabnya. “Kami memang tak memiliki izin menggadai, tetapi hanya jual beli emas,” akunya sambil menyebut alasan penitipan untuk mengantispasi agar tidak kehilangan pelanggan.

Sedangkan pemilik toko emas lainnya di kawasan yang sama, tidak ada di tempat ketika Priangan mencoba menghubunginya. Namun melalui karyawannya, membenarkan jika di tokonya juga menerima gadai emas. “Benar di toko kami menerima gadai emas,” katanya.

Tentang ada tidak surat izin pegadaian, ia mengaku tidak tahu karena hanya sebagai pegawai saja. “Masalah izin, saya tidak tahu, silahkan saja langsung ke bos,” katanya.

Sedangkan staf toko emas lainnya, juga mengakui di tokonya menerima gadai, tetapi kadang-kadang saja. “Benar, kami menerima gadai emas dari masyarakat tetapi kadang-kadang saja,” akunya.E-19***

Source :P ariaman



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

: *


*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>