Len Industri Membangun Kemandirian Energi dengan Tenaga Surya<!--:-->

Seluruh unit memberi­kan kontribusi besar terhadap perseroan, namun yang  terbesar berasal dari te­­leko­munikasi untuk apli­kasi persinyalan kereta api dan renewable ener­gy mencapai 50%. Sementara sisa­­nya  bera­sal dari lima unit bisnis lainnya. PT Len Industri (Persero) tetap eksis di kancah bisnis, khususnya bidang electronic industry dan prasarana. Industri strategis yang berdiri pada 1965 ini menjadi sebuah entitas bisnis profesional. Meski menguasai market share solar modul di dalam negeri, penetrasi produk China yang masuk melalui regulasi pemerintah sering jadi kendala. Tetapi menurut Ir. Wahyuddin Bagenda, CEO Len Incorporated, kom-petisi yang transparan dan adil, kualitas produk yang inovatif menjadi kunci keberhasilan Len di masa yang akan datang. Langkah apa yang akan dilakukan Len kedepannya? Bagaimana kiat BUMN yang semangatnya terbarukan lagi di era Prof. Dr. B.J Habibie ini meraih kemandirian teknologi yang berdaya saing global melalui pengembangan energi alternatif? Berikut petikan hasil wawancara wartawan Listrik Indonesia Deddy Hassan dengan Ir. Wahyuddin Bagenda, CEO Len Incorporated. Bisa diceritakan latar belakang berdirinya PT Len Industri dan fokus bisnis yang dikembangkan selama ini ? Awalnya, Len  hanya sebuah institusi penelitian yang berubah menjadi Badan Usaha Milik Negara dibawah koordinasi langsung dengan Kementerian BUMN. Dikenal sebagai pionir produsen pemancar TV sejak tahun 1970-an dan berinovasi mengembangkan kemampuan sebagai produsen Stasiun Bumi Kecil pada tahun 1980. Di era  tahun 1990 PT Len Industri mengembangkan Railway System (sistem persinyalan) kereta api dan pada waktu bersamaan merambah bisnis power plant yang berbasis pada pengembangan energi surya. Jasa besar mantan Presiden RI ketiga, BJ Habibie pada tahun 1991 mengubah wajah Len dari unit pelaksana LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) menjadi PT. Len Industri. Len Industri bermetamorfosa menjadi Len Incorporated pada tahun 2011. Sepanjang sejarah Len telah mengalami  dua masa transformasi, yaitu masa survival dan stabilitas. Len Incorporated, memiliki sejumlah unit bisnis atau Strategic Bussiness Unit (SBU) yang mencakup tujuh bidang, pertama signaling system yang memproduksi tiga item produk, yaitu interlocking system, automatic warning & level crossing, dan centralized traffic control (CTC). Kedua, power electric dengan tiga produk yang terdiri dari auxiliary power supply, electrical drive system, dan electrical control panel. Ketiga renewable energy, meliputi solar modul, solar home system, solar street lamp, power hybrid system, dan prepaid Kwh meter.  Sementara tiga unit bisnis lainnya adalah industrial control & automation, sektor defense,  dan telecommunication. Seluruh unit memberikan kontribusi besar terhadap perseroan, namun terbesar berasal dari telekomunikasi untuk aplikasi persinyalan kereta api dan renewable energy mencapai 50 %. Sementara sisanya  berasal dari lima unit bisnis lainnya. Untuk mempertahankan stabilitas­nya, Len telah melakukan diversifikasi usaha dengan membentuk anak perusahaan baru, yaitu PT Eltran Indonesia, PT Surya Energi Utama (renewable energy), dan PT Len Railway Systems. Kedepannya fokus pada proyek pengembangan teknologi, khususnya yang mendukung kesejahteraan masyarakat. Serta tek­nologi yang mendukung kedaulatan negara atau pertahanan (defense) yang mencakup communication equipment, radar, dan sensor weapon & command (SEWACO). Dengan bi­­dang bisnis baru yang digarap, per­seroan bisa tumbuh diatas 15% per tahun. Sementara total pen-jualan pada tahun ini mencapai Rp 2 triliun dengan pertumbuhan laba 72,32% dibandingkan tahun sebelumnya. Pemanfaatan potensi energi ter­­baru­kan (renewable) terus di dorong oleh pemerintah . Apa saja jenis energi alternatif yang di­kembangkan? Len sebagai BUMN strategis merencanakan investasi untuk pengembangan sector energy. Ada bisnis energi lebih tajam lagi yaitu renewable energy dengan produk manufaktur solar modul. Len bekerjasama dengan PLN dalam program listrik 100 pulau untuk pengadaan energi listrik tenaga surya satu Gigawatt (GW). Masalah energi terbarukan BUMN dibidang elektronik ini telah menjadi pionir di sektor pembangkit tenaga surya. Kepercayaan PT.PLN untuk mengerjakan proyek 100 solar power panel sebagai upaya mengatasi masalah kelistrikan di wilayah kepulauan bukan tanpa alasan, hal ini terkait dengan kapasitas produksi solar panel yang cukup memadai, kapabilitas engineer andal dan kiprah divisi research and development yang terus berimprovisasi dengan inovasi produk baru melalui penyempurnaan teknik produksi dan rekayasa, di­antara­nya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida Surya - Diesel, yaitu PLTS yang memanfaatkan sumber energi gabungan tenaga surya dan motor diesel. Kini, ribuan pembangkit tenaga surya, mulai dari skala kecil hingga besar, dibangun Len ad di hampir seluruh pelosok nusantara. Menurut anda, apakah energi alternatif ke depan memiliki peluang cukup besar dan bagaimana Len Incorporated berkontribusi dalam pengembangannya ? Di banding dengan negara lain, Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan kapasitas produksi listrik  melalui pengembangan energi alternatif pembangkit tenaga surya. Letak geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa memungkinkan setiap tahunnya mendapatkan cahaya matahari. Karena itulah, tenaga surya dapat menjadi primadona dalam membantu program pemerintah yang mentargetkan 100 persen rasio elektrifikasi listrik nasional pada 2025. Selain itu, matahari termasuk sumber renewable energy yang abadi. Pengembangan energi surya jauh lebih ramah lingkungan dan hemat biaya dibandingkan tenaga lain yang berbasis bahan bakar fosil, yaitu diesel atau pembangkit batubara. Selama ini, apa saja kendala yang dihadapi dalam pengembangan energi alternatif. Apakah pe­merin­tah memberikan du­ku­ngan untuk percepatannya? Green energy yang dikembangkan Len industri adalah Pembangkit Tenaga Surya (PLTS) yang  memiliki potensi terbesar di Indonesia, hanya saja sampai saat ini industri pendukungnya, seperti baterai, kaca, sel silikon, dan beberapa komponen lain sebagai bahan utama pembuatan solar panel belum memadai. Karena harus mengimpor dari sejumlah negara. Tentu saja, hal ini membuat nilai jual solar panel menjadi mahal dibanding dengan produk luar yang di impor secara utuh. Kondisi inilah yang membuat pengembangan Pembangkit Tenaga Surya sulit menembus perkotaan termasuk perumahan. Mengingat nilai jualnya jauh lebih tinggi dibanding membeli dari PLN. Jika saja regulasi pemerintah mendukung pengembangan industri terkait tenaga surya, hal ini tentu akan menjadi solusi mengatasi masalah kekurangan pasokan daya listrik yang selama ini mengakibatkan kerugian bagi konsumen. Selain harga produk yang tinggi, kendala lain yang dihadapi industri pembangkit tenaga surya adalah serbuan produk solar panel asal Cina. Kendati dari sisi kualitas kalah jauh, tapi harganya lebih terjangkau. Jika dibiarkan tanpa ada tindakan nyata dari pemerintah, dapat dipastikan keberadaanya akan menghambat pengembangan solar panel lokal. Optimalisasi kebijakan tentang penggunaan produk dalam negeri (TKDN) harus jadi acuan mendukung produk di negeri sendiri demi kemandirian energi,  melalui pengembangan energi alternatif. ■ Deddy Heryadi Hassan

Kategori Artikel