Len Industri, Sinari Pulau Nusantara<!--:-->

Tidak mudah membuat seluruh Tanah Air menyala oleh sinar listrik, mengingat letak geografisnya terdiri dari wilayah kepulauan dan sulit dijangkau jaringan yang tersedia. Dalam merealisasikan rencana itu, tentu membutuhkan komitmen tinggi yang sarat dengan pengalaman luas. Adalah PT. Len Industri (Persero), perusahaan yang dipercaya mengawal pelaksanaan proyek tersebut. Kenapa PT. Len Industri dipercaya? Pasalnya, perusahaan ini merupakan pemain lama di sektor pembangkit tenaga surya. Sejak 21 tahun silam, BUMN dibidang elektronik ini men­gembangkan produk solar panel sebagai komponen utama penghasil tenaga matahari. Kini, telah mencapai ribuan pembangkit tenaga surya, mulai dari skala kecil hingga besar yang dibangun perusahaan tersebut di hampir seluruh pelosok Indonesia bahkan mancanegara. Awalnya, perusahaan itu hanya sebagai institusi penelitian dan berubah menjadi Badan Usaha Milik Negara pada tahun 1991 dibawah koordinasi langsung dengan Kementerian BUMN. Dikenal sebagai produsen pemancar TV sejak 1970-an dan mengembangkan kemampuan menjadi produsen Stasiun Bumi Kecil pada tahun 1980. Pada 1990-an, PT Len Industri mengembangkan sistem persinyalan kereta api yang hingga kini telah terpasang di berbagai lokasi di Pulau Jawa dan pada waktu yang sama juga merambah bisnis pembangkitan yang fokus pada pengembangan energi surya. Selain itu, perusahaan ini juga membangun keunggulan di bidang elektronika untuk menunjang sistem pertahanan darat, laut dan udara. Melalui penyempurnaan tek­nik produksi dan rekayasa yang berkesinambungan, komitmen dan pemahaman pribadi pada konsumen, menjadikan perusahaan itu sebagai produsen lokal andal di Tanah Air dengan tiga bidang usaha, mencakup sistem persinyalan kereta api, Pembangkit Listrik Tenaga Surya, dan pemancar TV. Sebagai BUMN, PT Len Industri memperoleh perlakukan yang sama seperti entitas bisnis lainnya. Dituntut agar mampu berdiri sendiri dan memberikan manfaat bagi Negara. Penerapan standar-standar international untuk pelaporan, produksi, perawatan dan pengelolaan data meruapakan bagian dari upaya tak kenal lelah yang menjadikan perusahaan tersebut sebagai pemain global. Dalam menjalankan bisnisnya, Len Industri juga bertanggung jawab pada masyarakat dan menjunjung tinggi etika dengan penerapan prinsip – prinsip good corporate governance untuk menciptakan perusahaan yang sehat, bersih, dan memiliki daya saing tinggi. Didukung oleh lebih dari 300 tenaga ahli yang berpengalaman selama puluhan tahun melaksanakan proyek-proyek dalam bidang elektronika industri dan pemasaran. Menyadari bahwa kesuksesan perusahaan sangat bergantung pa­da kepuasan pelanggan, Len In­dus­tri berkomitmen kuat untuk senantiasa menyediakan produk dan jasa yang memiliki kualitas sesuai harapan konsumen. Sebagai bentuk komitmen terhadap jaminan kualitas, perusahaan ini mengembangkan dan menerapkan sistem manajemen mutu berdasarkan standar ISO 9001:2000 secara konsisten. Adapun lini bisnis yang dikem­bangkan Len Industri mencakup tujuh bidang, pertama signaling system yang memproduksi tiga item barang, yaitu interlocking system, automatic warning & level crossing, dan centralized traffic control (CTC). Kedua, power electric dengan tiga produk yang terdiri dari auxiliary power supply, electrical drive system, dan electric control panel. Ketiga renewable energy, meliputi solar module, solar home system, solar street lamp, power hybrid system, dan prepaid kwh meter. Sementara lini bisnis keempat, adalah industrial control & automation yang meliputi produk scada, detection equipment system, dan asset monitoring & tracking sytem. Kelima, di sector pertahanan (defense) yang mencakup communication equipment, radar, dan sensor weapon & command (SEWACO). Lini bisnis keenam, DVB-T – transmitter, FM transmitter, dan antenna system. Sedangkan lini bisnis ketujuh, yaitu telecommunication dengan tiga produk unggulan mencakup WiMAX, VSAT, dan solar satellite phone. Seluruh produk yang dikembangkan Len Industri selama ini tidak hanya dipasarkan kepada tiga anak perusahaan, yaitu PT Eltran Indonesia, PT Surya Energi Indotama, dan PT Interlokindo Utama, melainkan juga kepada seluruh perusahaan EPC, government, dan seluruh BUMN terkait termasuk PT. PLN (Persero). Bahkan, belakangan ini mulai menjajaki pasar ekspor khususnya di Negara-negara Timur Tengah. CEO Len Incorporated (PT. Len Industri), Wahyuddin Bagenda mengatakan, jatuhnya kepercayaan PT. PLN pada Len Industri untuk mengerjakan proyek 100% solar panel sebagai upaya mengatasi masalah kelistrikan di wilayah kepulauan, sehubungan dengan kapasitas produksi solar panel cukup memadai, kapabilitas engineer andal, dan divisi research and development yang tak pernah berhenti menemukan inovasi-inovasi produk baru. Bahkan melalui divisi Pengembangan yang berlokasi di Graha Samaun Samadikun (research and development), PT. Len Industri akan lebih fokus pada pengembangan produk dan teknologi, bukan lagi menjadi perusahaan kontraktor yang mengedepankan pengerjaan proyek tertentu. Berkenaan dengan kotrak, akan diserahkan kepada anak perusahaan atau pihak swasta. Dengan demikian pangsa pasar akan semakin terbuka lebar. “Itulah poin penting dari Len Incorporated. Peningkatan pelayanan kepada customer menjadi poin tambahan yang tak kalah pentingnya. Dengan demikian, diharapkan public dapat melihat Len tidak hanya dari sisi bisnisnya semata, melainkan juga dapat menilai atas kontribusi terhadap kemajuan teknologi nasional,” ungkap Wahyuddin Bagenda. Pengembangan semua lini bisnis menjadi sangat penting dalam mengimbangi ketatnya persaingan pasar global, termasuk terus meningatkan kapasitas produksi dan teknologi pembangkit tenaga surya. Mengingat Indonesia memiliki potensi besar sebagai basis pengembangan terknologi itu. Jika dibandingkan dengan Negara-negara lain di dunia, dalam setiap tahunnya Indonesia hampir tak pernah mendapatkan cahaya matahari. Pasalnya, letak geografis Indonesia berada di garis katulistiwa. Berbeda dengan Eropa, belum tentu sepanjang tahun mendapatkan sinar matahari. Karena itulah, terkait dengan program pemerintah yang mentargetkan 100% ratio elektrifikasi listrik nasional pada 2025, salah satunya akan dicapai dengan pengembangan Pembangkit Tenaga Surya. Selain itu, matahari ternamsuk sumber renewable energy yang tak akan pernah habis sepanjang masa, meskipun penggunaannya terus ditambah seiring peningkatan jumlah kebutuhan. Lebih dari itu, pengembangan energi surya jauh lebih ramah lingkungan dan hemat biaya dibandingkan dengan tenaga lain utamanya yang berbasis bahan bakar fosil, yaitu disel atau pembangkit batubara. Apalagi, jika pembangkit tersebut dibangun di wilayah kepulauan. Dapat dipastikan, biaya pengoperasian pembangkit akan tinggi karena sulitnya transportasi untuk menjangkau wilayah tersebut dalam menyediakan bahan bakar. “Secara kebetulan, kami sudah cukup berpengalaman membangun Pembangkit Tenaga Surya di wilayah kepulauan, termasuk yang sangat terpencil. Sesuai dengan kebutuhan, umumnya pembangkit yang kami bangun berskala kecil dan paling besar pernah mencapai 150 Megawatt,” katanya. Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya memiliki potensi besar di Indonesia, hanya saja sampai saat ini industri pendukungnya, seperti baterai, kaca, sel silicon, dan beberapa komponen lain sebagai bahan utama pembuatan solar panel belum memadai. Karena itu, PT. Len Industri harus mengimpornya dari sejumlah Negara. Tentu saja, hal itu membuat nilai jual solar panel menjadi mahal jika dibandingkan dengan produk luar yang diimpor secara utuh. Kondisi inilah yang kemudian membuat pengembangan Pembangkit Tenaga Surya sulit berkembang di perkotaan dan pasar rumahan. Mengingat nilai jualnya jauh lebih tinggi dibanding membeli langsung dari PLN. Padahal, jika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang men­dukung pengembangan industri turunan terkait tenaga matahari, bukan saja lapangan kerja akan tersedia lebih luas tetapi dapat mengatasi masalah kekurangan daya listrik yang selama ini mejadi momok menakutkan.■ Produk Solar Panel Cina Serbu Pasar Masalah yang dihadapi industri pembangkitan tenaga surya tidak berhenti pada harga produk yang tinggi, tetapi juga mulai direpotkan dengan membanjirnya produk solar panel asal Cina. Kendati dari sisi kualitas kalah jauh dibanding produksi Dalam Negeri, namun harganya cukup kompetitif di pasaran. Jika dibiarkan tanpa ada kebijakan yang jelas dari pemerintah, dapat dipastikan keberadaan produk tesebut akan mengganggu pengembangan solar panel lokal. Manager  Manajemen Pemasaran dan Penjualan PT. Len Industri (Persero), Agus Iswanto berharap ada terobosan dari pemerintah untuk dapat memberikan proteksi terhadap produk lokal atas produk asal Cina tersebut. Memang total kebutuhan terhadap listrik tenaga surya di Dalam Negeri belum bisa terpenuhi seluruhnya oleh produsen lokal, terkait kapasitas produksi yang masih terbatas. Namun bila pemerintah tidak melakukan langkah-langkah perlindungan terhadap produsen lokal, dengan membiarkan secara bebas masuknya produk impor, maka dengan sendirinya industri Dalam Negeri kurang bisa berkembang karena tidak ada jaminan penyerapan pasar atas hasil yang sudah diproduksi. “Itu bisa membahayakan keberlangsungan pengembangan industri kita. Produk Cina bisa murah karena dukungan pemerintahnya jelas terhadap pengembangan industri lokal. Sementara kita, dituntut berkembang tapi disisi lain dibiarkan mandek karena tidak didukung oleh kebijakan yang pro bisnis,”.  Kebijakan tentang penggunaan produk dalam negri (TKDN) sebenarnya sudah mendukung namun dalam pelaksanaannya masih belum optimal.■

Kategori Artikel