Minggu, 20 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Visi Kementerian BUMN : "Meningkatkan peran BUMN sebagai instrumen negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme"

Prestasi

Kegiatan

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Jajak

How Is PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Site?

  • Good (40%, 50 Votes)
  • Bad (33%, 41 Votes)
  • Can Be Improved (15%, 19 Votes)
  • Excellent (12%, 16 Votes)

Total Voters: 126

Loading ... Loading ...

EKSPOR BIJIH BESI MUNGKIN DIKENAI PE

8 Pebruari 2007

JAKARTA: Depperin tengah mempertimbangkan kemungkinan pengenaan pajak ekspor (PE) bijih besi guna menghambat para pemegang kuasa pertambangan (KP) mengekspor produk dalam kondisi mentah.

JAKARTA – Bisnis Indonesia: Depperin tengah mempertimbangkan kemungkinan pengenaan pajak ekspor (PE) bijih besi guna menghambat para pemegang kuasa pertambangan (KP) mengekspor produk dalam kondisi mentah.

Kemungkinan pengenaan PE bijih besi tersebut terkait dengan rencana pengembangan industri baja di Kalimantan Selatan oleh Krakatau Steel yang membutuhkan jaminan pasokan bahan baku dalam jangka panjang.

Sebagai catatan, saat ini ekspor bijih besi tidak dikenai pajak ekspor

Pengenaan pajak ekspor tersebut merupakan alternatif yang paling mungkin untuk dilaksanakan, dibandingkan dua alternatif lain yang telah disiapkan untuk mengatasi rumitnya masalah pengadaan lahan pertambangan yang dihadapi PT Krakatau Steel saat ini.

Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian Ansari Bukhari mengatakan pengenaan PE bijih besi diharapkan dapat menahan laju penjualan bahan baku baja tersebut ke luar negeri, sehingga para pemegang KP bersedia bekerja sama dengan Krakatau Steel.

“Kami belum menentukan berapa besaran pajak ekspor yang layak untuk dikenakan pada bijih besi tersebut. Masih dilakukan studi. Tujuan utama pengenaan pajak ekspor tersebut adalah untuk menghambat ekspor bijih besi,” katanya saat ditemui seusai rapat kerja dengan Komisi VI DPR, kemarin.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Perindustrian Fahmi Idris menyebutkan rencana pengembangan industri baja di Kalimantan Selatan masih terkendala dalam pengadaan lahan pertambangan yang kini telah terkotak-kotak (kaveling) dan berada di bawah otoritas bupati dan wali kota.

“Otonomi daerah membuat kewenangan bupati dan wali kota menjadi sangat luar biasa. Contohnya, untuk pengembangan industri baja di Kalsel menjadi sulit karena lahan sudah dikaveling-kaveling oleh dua pihak,” kata Fahmi.

Sementara itu, Ansari mengatakan dua alternatif lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menata kembali semua KP yang ada di Kalsel dan mendorong mereka berkerja sama dengan Krakatau Steel.

Namun, kedua hal tersebut relatif sulit untuk dilaksanakan dan memerlukan waktu yang lebih panjang sehingga pengembangan industri baja di Kalsel tidak dapat direalisasikan dalam waktu cepat.

“Dari ketiga alternatif tersebut, yang paling mungkin untuk dilakukan adalah pengenaan pajak ekspor karena itu adalah kebijakan pemerintah, jadi bisa ditetapkan dengan cepat,” jelas Ansari.

Kinerja Ekspor

Dia menambahkan ekspor bijih besi Indonesia saat ini mencapai sekitar 400.000 ton per tahun. Para keberadaan pemegang KP di Kalsel, menurut Ansari, juga cukup menyulitkan Krakatau Steel dalam menjalin kerja sama dengan pihak terkait.

Pada bagian lain dia mengatakan pemerintah juga tengah berupaya menarik investasi asing dari India untuk mengembangkan industri baja nasional.

Dalam kunjungannya ke India baru-baru ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla telah melakukan pembicaraan dengan sejumlah pengusaha baja di India agar mereka berinvestasi dalam pengembangan industri baja di Kalsel.

Tingkat konsumsi baja Indonesia saat ini hanya sekitar 26,2 kg per kapita, sedangkan Vietnam sudah mencapai 65,9 kg per kapita, Thailand 204 kg per kapita, Malaysia 278,9 kg per kapita, dan Korea Selatan 995,8 kg per kapita.

Beberapa waktu lalu Ansari menyebutkan tiga perusahaan baja besar berskala nasional dan internasional diperkirakan akan merealisasikan in-vestasinya di Indonesia.

Ketiga perusahaan tersebut a.l. PT Ispatindo, anak perusahaan Mittal Steel yang merupakan produsen baja terbesar di dunia, Essar Group asal India, Krakatau Steel.

Source :Bisnis



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

: *


*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>