Siapkan Tenaga Handal untuk Kawasan Industri

SEMARANG - Sejumlah pengusaha masih mengeluhkan kurangnya ketersediaan sumber daya manusia (SDM) siap pakai. Padahal investasi di Jawa Tengah berkembang semakin pesat. Seperti yang disampaikan perwakilan PT Aparel One Indonesia Deni, pada Business Gathering se-Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) dengan Gubernur Jawa Tengah, di KIW, Rabu (7/5).

Menurutnya, perusahaan garmen yang dikelolanya terus berkembang. Karenanya dibutuhkan tenaga kerja terampil yang cukup banyak. Pada tahun ini setidaknya dibutuhkan 2.000 karyawan. Dan pada tahun depan, karyawan yang dibutuhkan mencapai 3.000 orang. Namun, pihaknya kesulitan mencari tenaga kerja terampil di bidang garmen.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya sudah menjalin kerja sama dengan beberapa lembaga pendidikan ketrampilan (LPK). Bahkan perusahaan tersebut juga telah mendirikan training center. "Tapi kami masih kekurangan orang. Padahal infrastruktur, investor, dan buyers sudah oke. Tinggal man power-nya. Kami mohon agar Pak Gubernur bisa membantu," kata dia.

Menanggapi keluhan tersebut, Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH menyatakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah siap mencetak tenaga handal untuk disalurkan ke perusahaan. Apalagi, permintaan tenaga kerja siap pakai semakin meningkat seiring bergesernya investasi ke provinsi ini. Khusus untuk tenaga di bidang garmen, pemerintah provinsi secara rutin menyelenggarakan pelatihan singkat secara gratis. Cara semacam itu diharapkan dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja perusahaan garmen sekaligus mengurangi pengangguran di Jawa Tengah.

"Pola semacam itu terus saya dorong. Sebenarnya saya heran, banyak perusahaan kekurangan tenaga kerja, tapi kok yang nganggur juga banyak. Jadi kalau dikatakan tidak ada lapangan pekerjaan, saya mau tarik ke sini. Ini baru yang di sini. Belum yang ada di Kendal, Semarang, Demak, Boyolali, Sukoharjo," ungkap Gubernur.

Diakui Jawa Tengah semakin seksi untuk investasi. Beberapa investor pun berencana memindahkan usahanya ke provinsi ini. Karenanya hubungan industrial yang baik harus terus dijalin, terutama hubungan penusaha dan investor. Tidak hanya itu, daya dukung di sekitar Kota Semarang sebagai ibukota provinsi pun terus ditingkatkan, dengan menerapkan konsep metropolitan seperti di DKI Jakarta. Wilayah lain yang berpotensi juga terus dikembangkan. Seperti Boyolali, Cilacap, dan lainnya. Selain pengembangan wilayah, aspek transportasi dan infrastruktur terus didorong.

Direktur Utama PT KIW Mohamad Djajadi menjelaskan kawasan industri yang dikelolanya cukup strategis, serta mudah terjangkau pusat moda transportasi seperti bandara, pelabuhan laut, maupun stasiun kereta api. Untuk menarik investasi, pihaknya terus melakukan pembenahan infrastruktur internal dan menjadikannya kawasan industri yang siap pakai. Sekarang ini sejumlah bangunan pabrik siap pakai pun telah disiapkan untuk menjawab tantangan kebutuhan investor, lengkap dengan fasilitas pendukungnya. Mulai dari listrik, air, saluran telepon, membantu perekrutan tenaga kerja, hingga pengurusan perizinan.

Dalam kunjungannya ke KIW, Gubernur menyempatkan untuk meninjau PT AST Indonesia yang memroduksi komponen elektrika, antara lain televisi merek Pioneer dan piano Roland, yang semuanya made in Indonesia. Perusahaan tersebut juga tengah mengembangkan bisnisnya ke bidang furniture yang telah memasuki pasar Jepang dan Australia.  (humas provinsi  jateng)


Kategori Berita