Indonesia Masuk dalam Radar Investor

Empat tahun tarakhir Indonesia menjadi sorotan dunia khususnya kalangan investor. Ditengah  merosotnya perekonomian di berbagai negara di dunia, Indonesia justru muncul sebagai negara dengan pertumbuhan ekonmi mengesankan. Tak heran, jika keterpurukan ekonomi di negara – negara di dunia itu, secara tidak langsung, menjadi berkah bagi Indonesia karena masuk dalam radar investor. Perekonomian hampir di negara-negara maju di eropa banyak mengalami masalah contohnya seperti di Inggris, Prancis dan Amerika (AS) terjadi perlambatan. Yen Jepang mengalami apresiasi jadi dan oleh karenanya biaya produksi di Jepang sangat mahal kemudian produksinya  harus dibikin di luar negeri. China banyak protes dan ada permasalahan di tenaga kerja sehingga membuat negara itu melakukan relokasi. Ini semua terjadi disaat yang sama. Logikanya, tidak mungkin bagi para investor membuat uangnya berhenti, mereka akan terus memutar uang itu, kalau hanya disimpan di brankas maka biayanya juga akan besar sekali. Sekarang kalau Amerika seperti itu, investornya pasti akan mencari emerging market. Biasanya China, tetapi pertumbuhan yang mencapai 9 sampai dengan 10 % kini turun menjadi 7,5 % demikian juga yang terjadi di India. Investor pasti akan mencari dan melihat negara mana  yang trennya naik ? dan salah satu diantaranya adalah Indonesia. Dalam hal ini Indonesia bisa disebut sebagai negara the least unattractive country (negara yang kurang menarik), atau the best among the worst (terbaik diantara yang terburuk). Kita tidak melakukan apapun tetapi orang lain akan melihat kita. Dengan kata lain auto pilot saja kita bisa tumbuh. Jadi kondisi seperti ini terus akan berkelanjutan kalau tidak didukung langkah-langkah reformasi yang konsisten. Pemulihan krisis itu tidak mungkin bisa selesai  hanya butuh waktu  setahun atau dua tahun, Karena kalau kurang dari itu mereka akan  mereview investasinya. Keunggulan yang dimiliki oleh Indonesia adalah yang menyebabkan investor asing mau masuk  karena Indonesia memiliki pull factor (faktor penarik) yaitu potensi pasar yang sangat besar sekali. Banyak investor Jepang yang melirik Indonesia sebagai tempat relokasi investasi karena mereka pada saat ini sedang mengalami apresiasi Yen. Tentu memiliki alasan mengapa mereka baru masuk sekarang padahal tahun 1980-an pernah juga terjadi tapi tidak pindah produksinya di luar. Mereka mengatakan waktu itu pasar di Indonesia tidak besar seperti sekarang, dan pasar di Indonesia sekarang besar sekali. Faktor lain adalah kondisi politik kita yang cukup kundusif, walaupun kadang-kadang agak ribut tapi tidak sampai menimbulkan kebuntuan. Kelihatanya ada gempa, ada banjir tetapi tetap tidak heboh. Lain halnya seperti di Thailand yang membuat ekonominya stuck (buntu). Indonesia terlihat ribut dimana-mana, di parlemen tapi beberapa minggu kemudian sudah tenang. Kalau dilihat dalam 14 tahun  terakhir tidak ada yang begitu mengkhawatirkan. Secara makro perekonomian di Indonesia stabil, inflasi baik, pertumbuhan ekonomi kuat. Ini kemudian yang menempatkan Indonesia dalam negara yang menarik bagi investor. Momentum ini tidak boleh dihilangkan dengan menghilangkan langkah untuk reformasi. Oleh karena itu reformasi  perlu dilakukan karena masih banyak isu yang menjadi fokus. Pertama adalah infrastuktur. Biaya logistik menjadi isu karena biaya logistik di Indonesia masih tinggi yaitu 14% sama dengan biaya labour cost. Bagaimana kita bisa bersaing dengan Jepang biaya logistiknya hanya 5%. Masalah utama adalah supply chain. Dan Masalah yang dihadapi lainnya adalah ketidakpastian, aturan, inefisiensi dan birokrasi. (Sumber : M. Chatib Basri Kepala BKPM RI, www.central-java.com)

Kategori Artikel