Product
KERETA PENUMPANG :
A. Kereta Eksekutif Argo
Segmenting yang mendasari peluncuran KA Eksekutif dilakukan dengan mengklasifikasikan pelanggan dalam beberapa tingkatan value :
Gateway value, konsumen yang menggunakan jasa kereta api hanya mendasarkan kepada fungsinya sebagai alat transportasi
Competitive value, disamping mempertimbangkan fungsi utama sebagai alat transportasi, pelanggan mempertimbangkan pula faktor tingkat kenyamanan dan pelayanan yang dibandingkan terhadap moda pesaing
Ultimate value, pelanggan tidak sekedar menuntut fungsi dan perbandinggan, melainkan juga pertimbangan-pertimbangan psikologis yang tidak dapat diukur batasnya, misalnya gengsi, prestise dan kepuasan
Pasar sasaran yang dipilih adalah pelanggan yang tidak hanya sekedar menuntut fungsi utama kereta api, akan tetapi juga pertimbangan-pertimbangan psikologis (ultimate value), atau tepatnya pemerjalan eksekutif tidak akan kehilangan prestise walau tidak naik pesawat.
Positioning dilakukan dengan mempersepsikan produk argo sebagai moda transportasi kereta api yang terbaik, prestise, nyaman, cepat, untuk masing-masing kelas dan koridornya.
Berbagai kereta eksekutif kelas argo yang dimiliki oleh PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO) diantaranya:
- Argo Bromo Anggrek
- Argo Dwipangga
- Argo Parahyangan
- Argo Lawu
- Argo Muria
- Argo Wilis
- Argo Sindoro
- Argo Jati
B. Kereta Bisnis Eksekutif
PT. Kereta Api (Persero) juga menyediakan rangkaian kereta yang memberikan dua jenis layanan, yaitu eksekutif dan bisnis diantaranya:
- KA Sancaka
- KA Lodaya
- KA Gajayana
- KA Bima
- KA Taksaka
- KA Sembrani
- KA Harina
- KA Turangga
- KA Rajawali
- KA Gumarang
- KA Cirebon Ekspres
- KA Purwojaya
- KA Mutiara Timur
- KA Bangun Karta
- KA Malabar
C. Kereta Ekonomi
KA Kelas Ekonomi merupakan salah satu segmen pelayanan produk inti PT. Kereta Api (Persero) di luar sejumlah KA Komersil (Kelas Eksekutif dan Kelas Bisnis). KA Kelas Ekonomi yang dioperasikan PT. Kereta Api selama ini masih di kelompokkan menjadi tiga segmen, yaitu KA Ekonomi Jarak Jauh, KA Ekonomi Lokal dan KA Ekonomi Jabotabek.
Beberapa kereta ekonomi kelas ekonomi diantaranya:
- KA Matarmaja
- KA Pasundan
- KA Serayu
- KA Kahuripan
- KA Kertajaya
- KA Tawangjaya
- KA Gaya Baru Malam Selatan
- KA Brantas
- KA Tegal Arum
KERETA BARANG
BATUBARA SUMATERA
Sumatera Selatan diperkirakan memiliki kandungan batubara yang cukup besar. Diperkirakan, sedimen batubaranya sebesar 15,6 milyar ton. Artinya, sekalipun penambangannya dimaksimalkan hingga 50 juta ton per tahun batubara di wilayah ini tidak akan habis hingga 200 tahun.
Sayang, wilayah kandungan batubara terletak jauh dari pusat kota dan jauh dari pelabuhan/dermaga. Sangat mahal, lama dan beresiko jika menggunakan moda transportasi darat seperti truk atau trailer. Kereta api dipilih sebagai angkutan yang paling murah, cepat dengan sedikit resiko. Untuk itulah, pada awal penambangan, dalam proyek KP3BAKA, kereta api disepakati sebagai angkutan utama batu bara dari tambangnya di Tanjungenim menuju Pelabuhan Tarahan dan Dermaga Kertapati. Proyek KP3BAKA dimulai pada tahun 1982. Penambangan dilakukan PT Bukit Asam (PTBA), sedangkan pengangkutannya dilakukan PT Kereta Api (Persero) Divisi Regional III Sumatera Selatan.
KA Batubara Sumsel relasi Tanjungenim-Tarahan lebih dikenal sebagai KA BABARANJANG (KA Batu Bara Rangkaian Panjang). Dinamakan demikian karena memang KA ini rangkaiannya termasuk yang terpanjang di Indonesia yaitu hingga 46 gerbong yang ditarik 2 lokomotif CC202 (lokomotif dengan daya tarik terbesar di Indonesia). Sedangkan KA Batubara Sumsel relasi Tanjungenim-Kertapati jumlah rangkaiannya 15 hingga 35 gerbong setiap KA. Lokomotifnya juga bukan CC202, tetapi berjenis CC201, BB203 atau BB202. Jika rangkaiannya tidak lebih dari 20 gerbong, rangkaian hanya ditarik 1 lokomotif. Jika lebih dari 20 gerbong, maka rangkaian ditarik 2 lokomotif
| A. | Relasi angkutan |
| Tanjungenim-Tarahan | |
|
KA Babaranjang beroperasi dari tambang batu bara di Tanjungenim, Sumatera Selatan ke pembongkarannya di Pelabuhan Tarahan, Bandar Lampung sejauh 419,518 kilometer. Saat ini terdapat 14 KA yang beroperasi kondisi isian dari Tanjungenim maupun kondisi kosongan dari Tarahan.
|
|
| Tanjungenim-Kertapati | |
| Relasi Tanjungenim-Kertapati sejauh 159 km dengan KA yang beroperasi lebih sedikit yaitu 8 KA. | |
| B. | Potensi |
|
Potensi KA Batubara bagi perkeretaapian Sumatera Selatan sangat besar. Selain karena persediaan batubara yang berlimpah, angkutan batubara di Sumatera Selatan juga merupakan angkutan yang menyumbang pendapatan terbesar bagi Divre III Sumsel, bahkan bagi angkutan barang PT Kereta Api (Persero). Pasalnya, diperkirakan hampir 60 persen pendapatan angkutan barang PT Kereta Api (Persero) disumbang dari KA Batubara Sumsel ini. Dari 15,6 milyar juta ton yang terkandung, pada tahun 2008 baru tercapai sebanyak 8,4 juta ton yang terangkut oleh KA. Angkutan batubara relasi Tanjungenim-Tarahan sebagian besar digunakan untuk menyuplai kebutuhan batubara pembangkit listrik Suralaya, Cilegon. Sedangkan yang di koridor Tanjungenim-Kertapati, sebagian besar untuk keperluan ekspor
|
|
| C. | Kondisi Sarana |
| Saat ini, KA Batubara di Divre III Sumatera Selatan menggunakan gerbong berjenis KKBW dengan muatan maksimum 50 ton untuk KA relasi Tanjungenim-Tarahan dan 30 ton relasi Tanjugenim-Kertapati. Masing-masing gerbong tersebut saat ini yang siap guna operasi (SGO) berjumlah 1.054 unit untuk gerbong KKBW muatan 50 ton dan 254 unit gerbong muatan 30 ton.
Untuk lokomotif, tersedia 49 unit lokomotif CC202 dan hanya dioperasikan menarik rangkaian batubara di koridor Tanjungenim-Tarahan. Lokomotif yang didatangkan sejak tahun 1986 ini keseluruhannya dalam kondisi siap operasi dan dioperasikan dalam formasi dobel traksi di depan rangkaian. Sembilan unit lokomotif CC202 terakhir didatangkan dalam kondisi utuh (built-up) yang tiba di Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung pada April 2008 lalu
|
|
| D. | Kondisi Prasarana dan Fasilitas |
| Kondisi prasaran dan fasilitas pemuatan dan pembongkaran batubara di wilayah Divre III Sumsel relatif canggih. Khususnya di pembongkaran Trahan karena menggunakan mesin RCD (Rottary Car Dumper) yang mampu membalik gerbong hingga 180 derajat agar seluruh isi gerbong tumpah ke dalam bak penampungan. Pembalikkan (rottarry) ini memungkinkan karena putaran kopler (sambungan antar gerbong) yang fleksibel. Untuk pembongkaran di Kertapati, pembongkaran dilakukan dengan membuka penutup bagian bawah gerbong agar muatan batubara dalam gerbong dapat dikeluarkan ke bak penampungan dengan bantuan dorongan petugas menggunakan sekop.
Untuk pemuatannya, batubara dari tambang dialirkan oleh mesin hingga dicurahkan ke dalam gerong secara tepat jumlah muatannya. Lokomotif menarik secara perlahan gerbong yang sedang diisi satu-persatu melewati bagian bawah mesin
|
|
| E. | Rencana Pengembangan |
| Cadangan batubara yang masih besar di wilayah Sumsel berdampak pada pertumbuhan permintaan angkutan Batubara terus meningkat. Gerbong KKBW Batubara relasi Tanjungenim-Kertapati yang saat ini memiliki berat muat 30 ton akan ditingkatkan menjadi 50 ton. Dari sisi prasarana akan dikembangkan guna mendukung kapasitas lintas yang tersedia sehingga potensi permintaan angkutan batu bara dapat terlayani.
Potensi angkutan batu bara di Sumatera Selatan yang belum terlayani diantaranya relasi Sukacinta-Kertapati sebesar 4 juta ton, Merapi-Kramasan sebesar 4,7 juta ton
|
|


