Stasiun – Stasiun Di Lintas KA Babaranjang<!--:-->

Sumatera Selatan merupakan provinsi yang memiliki kekayaan sumber daya alam energi yang melimpah, salah satunya adalah hasil tambang batubara yang menjadi salah satu sumber utama energi Bangsa Indonesia. Menurut ahli pertambangan, diperkirakan cadangan batubara yang terdapat di Sumatera Selatan mencapai 22,24 miliar ton. Sementara ini, batubara yang bisa diproduksi oleh perusahaan PT. Tambang Batubara Bukit Asam (PT BA) di Tanjungenim baru mencapai angka rata – rata 10 juta hingga 12 juta ton, jumlah tersebut diharapkan terus berkembang hingga mencapai angka 22,7 juta ton di tahun 2014 seiring kontrak perjanjian peningkatan volume angkutan batubara dengan pihak  PT.KAI. Untuk angkutan batubara di Sumatera Selatan, secara garis besar terdapat dua jenis KA yang menjadi primadonanya, yaitu KA Babaranjang (KA Batubara Rangkaian Panjang) dan KA Babarased (KA Batubara rangkaian sedang). Panjang rangkaian KA Babaranjang berkisar antara 30 – 40 gerbong yang ditarik dengan 2 lokomotif CC 202, dimana rute perjalanannya berawal dari Stasiun Tanjungenim ke Stasiun Tarahan. Sedangkan KA Babarased, panjang rangkaiannya berkisar antara 15 sampai 35 gerbong KKBW. Jika rangkaiannya berjumlah lebih dari 20 gerbong KKBW maka ditarik 2 lokomotif berjenis CC201, BB203 atau BB202. Rute perjalanan dari KA Babarased berawal dari Stasiun Tanjungenim ke Stasiun Kertapati. Berikut stasiun – stasiun yang menjadi lintasan KA Babaranjang, mulai dari Stasiun Tanjungenim Baru, Stasiun Prabumuli, Stasiun Tanjung Karang  dan Stasiun Tarahan. 1. STASIUN TANJUNGENIM BARU Stasiun Tanjungenim Baru merupakan pengembangan dan pendukung bagi Stasiun Tanjungenim. Lokasi stasiun ini berada di wilayah kerja dari SubDivre 3.1 Kertapati, dalam kesehariannya stasiun ini hanya melayani khusus KA angkutan batubara dan terhubung dengan TLS (Train Loading Station)  VII & III yang menjadi  pintu masuk ke tambang batu bara PT.BA di kawasan Tanjungenim. Ratusan gerbong KKBW dengan angkutan batubara setiap harinya memenuhi emplasemen stasiun.  Selanjutnya gerbong-gerbong KKBW tersebut dikirim menuju Stasiun Kertapati (Divre 3.1 Kertapati) dan Stasiun Tarahan (Divre 3.2 Tanjungkarang).
ST. TANJUNGENIM BARU
Stasiun Tanjungenim Baru terletak di Km 8 + 250 dan berada di ketinggian 35 dpl (diatas permukaan laut). Emplasemen Stasiun Tanjungenim Baru memiliki 4 sepur utama dengan dilengkapi peralatan persinyalan mekanik jenis S&H menggunakan blok dalam melayani operasi KA-nya. Guna memudahkan dalam melakukan pemeliharaan sarana gerbong, maka di stasiun ini juga terdapat sebuah Dipo Gerbong. 2. STASIUN PRABUMULIH Sejarah Stasiun Prabumulih dapat kita temukan dalam catatan buku berjudul De Stoomtractive Op Java en Sumatera karangan JJG Oegema. Berdasarkan buku tersebut, Stasiun Prabumulih mulai dikenal pada tahun 1915, ketika Hindia Belanda membangun jalur kereta Kertapati – Prabumulih sepanjang 78 km dan jalur Prabumulih – Muara Enim sejauh 73 km pada tahun 1971. Selanjutnya di tahun 1927, jalur Prabumulih – Tanjung Karang sepanjang 311 km juga dibangun. Di masa itu, kereta api di Sumatera Selatan dikelola oleh Perusahaan Zuid Sumatera Spoorwegen. Dulunya terdapat enam jenis lokomotif uap di lintasan Stasiun Prabumulih, yaitu model B51, C11, C30, C50, D50 dan D52. Untuk pengisian bahan bakar berupa air bagi lokomotif tersebut, digunakan corong dan tangki pengisian air. Sekitar tahun 1984, stasiun ini mengalami perombakan bangunan yang signifikan.
ST. PRABUMULIH
Stasiun yang terletak di Km 322 + 295 dan berada diketinggian 36 dpl ini, merupakan stasiun persimpangan dan perbatasan antara wilayah kerja SubDivre III.1 Ktp dengan SubDivre III.2 Tnk. Emplasemen Stasiun kelas 1 ini dilengkapi 4 sepur KA dan menggunakan sistem persinyalan mekanik S&H dengan rumah sinyal A & B. Sebagai bagian dari program revitalisasi angkutan barang, sistem persinyalan mekanik tersebut selanjutnya direncanakan akan digantikan dengan sistem persinyalan elektrik. 3. STASIUN TANJUNG KARANG Stasiun Tanjung Karang merupakan stasiun kelas besar B yang masuk ke wilayah kerja Sub Divre 3.2 Tnk. Letak Stasiun ini berada di Km 12 + 230 dengan ketinggian 96 dpl,  jumlah sepur di emplasemennya berjumlah 5 sepur KA dan 6 sepur simpan yang terletak di Dipo lokomotif Tanjung Karang. Sesuai dengan daftar sepur di Stasiun Tanjung Karang, jalur 1 dengan panjang 757 meter untuk KA–KA penumpang seperti KA Limeks Sriwijaya, KRD Seminung dan KA Raja Basa. Jalur 2 dengan panjang 895 meter diperuntukan bagi KA Babaranjang dan KA barang pengangkut bubur PT.TEL. Jalur 3 dengan panjang  760 meter diperuntukan KA penumpang yang datang dari utara seperti KA Limeks, KA Raja Basa,  Seminung dan KA Babaranjang. Sedangkan Jalur 4 dengan panjang 287 meter digunakan untuk sepur simpan bagi KA penumpang. Stasiun ini memiliki Dipo lokomotif yang berada di sebelah barat stasiun. Dipo tersebut berfungsi sebagai tempat perawatan dan pengecekan harian bagi lokomotif–lokomotif yang melintas di Sub Divre 3.2 Tnk. Di Dipo lokomotif ini, terdapat Crane berikut kereta penolong (NR) dan  juga turntable yang terletak di belakang dipo yang masih digunakan. Sebagai bagian dari kerja sama BUMN yang tergabung dalam program Tiket Terpadu Antar Moda (TITAM), di Stasiun Tanjung Karang terdapat loket Customer Service TITAM.  Karena lokasi Tanjung Karang yang berada di kawasan pusat Kota Bandar Lampung, menjadikan Stasiun Tanjung Karang dikelilingi oleh pusat perdagangan dan perkantoran. 4. STASIUN TARAHAN Stasiun Tarahan merupakan stasiun yang berada di ujung selatan dari wilayah kerja SubDivre 3.2 Tnk dan menjadi akhir tujuan untuk KA Barang, karenanya stasiun ini menjadi penghubung pabrik kertas PT .TEL dan pintu masuk ke wilayah bongkaran batubara di Tarahan yang menggunakan sistem RCD (Rottary Car Dumper) sebagai alat bongkarnya. Stasiun ini terletak di Km 6 + 821 dan  di ketinggian 20 dpl. Guna meningkatan kapasitas angkut volume batubara, Stasiun Tarahan pada saat ini mengalami perubahan yang signifikan, baik dari jumlah sepur di emplasemen maupun sistem persinyalannya.  Emplasemen Stasiun Tarahan dirubah menjadi dua bagian , yaitu bagian emplasemen pertama digunakan untuk menerima dan memberangkatkan KA barang dengan jumlah 3 sepur KA. Sedangkan emplasemen kedua digunakan sebagai arus lalu lintas langsiran yang terdiri dari 6 sepur KA dengan  sepur-sepur  bisa terakses menuju ke dipo lokomotif, kawasan PT.TEL dan kawasan bongkaran RCD PT.BA. Persinyalan yang sebelumnya menggunakan persinyalan mekanik S&H, akan diganti dengan sistem persinyalan elektrik  dengan menggunakan interface blok Mobis antara Stasiun Tarahan – Stasiun Tanjungkarang. Persinyalan elektrik ini merupakan  produksi PT. LEN Industry. (humaska)

Kategori Artikel