Wednesday, 16 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

PT Asuransi Jiwasraya

Visi Kementerian BUMN : "Meningkatkan peran BUMN sebagai instrumen negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme"

Achievements

Activity

April  2014
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Contact Us

pic

Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

TOP BRAND AWARD 2008 “Jiwasraya” Tetap Unggul Diantara World Class Company

5 March 2008

Loyalitas Nasabah Yang Sangat Kuat  


“Loyalitas nasabah merupakan faktor utama yang sukses menghantarkan Jiwasraya memperoleh kembali peringkat kedua dalam Top Brand Award 2008 kategori Asuransi Jiwa,” jelas Handi Irawan D., Chairman Frontier Consulting Group & Top Brand Inisiator.  Dalam wawancara dengan Jiwasraya Magazine, Handi menyebutkan, “Prestasi Jiwasraya sangat membanggakan, dimana para nasabah memberikan tanggapan dan juga loyalitas yang baik sekali kepada Jiwasraya. ”Melalui prestasi ini, terlihat jelas bahwa Jiwasraya berhasil membangun awareness yang kuat dalam benak nasabah maupun masyarakat luas. Jiwasraya sukses mempertahankan pangsa pasar dan sekaligus membangun loyalitas mereka,” tutur Handi membedah kesuksesan merek Jiwasraya. Menanggapi keberhasilan Jiwasraya kembali meraih Top Brand Award Direktur Utama Asuransi Jiwasraya Hendrisman Rahim mengatakan bahwa penghargaan Top Brand merupakan added value bagi Jiwasraya dalam menunjukkan eksistensinya di market. “Artinya dari sisi brand, Jiwasraya sudah selangkah di depan” ujarnya lagi. Hendrisman  juga berpendapat bahwa sudah merupakan hal yang wajar karena memang seharusnya Jiwasraya mendapatkan predikat tersebut. Beliau menambahkan bahwa yang terpenting adalah bagaimana membuktikan bahwa Jiwasraya layak mendapatkan predikat tersebut. Menurut Hendrisman, Jiwasraya adalah perusahaan asuransi jiwa milik negara yang tidak hanya besar, namun juga yang pertama di Indonesia. Jiwasraya memiliki jaringan distribusi luas di Indonesia, oleh karenanya tidak heran bila riset yang dilakukan di 6 kota besar menempatkan Jiwasraya sebagai Top Brand di Industri Asuransi Jiwa. “Nama Jiwasraya cukup tertanam kuat dalam benak masyarakat “ ujar Hendrisman. Berkaitan dengan apa yang diutarakan oleh Hendrisman, De Yong Adrian, Direktur Pemasaran Jiwasraya berpandangan bahwa keberhasilan Jiwasraya meraih Top Brand 2008  untuk kedua kalinya merupakan ukuran bahwa Jiwasraya adalah perusahaan dengan komitmen untuk memenuhi harapan konsumennya. Menurut De Yong dalam bisnis jasa asuransi yang produknya tidak berwujud, komitmen adalah penting. “Bisa dibayangkan, bahwa kita harus komit terhadap janji kepada konsumen dalam waktu lebih dari 5 tahun bahkan seumur hidup. Jadi diperlukan kesungguhan dan ketulusan dalam melayani” urai De Yong. Secara kongkrit De Yong menjelaskan bahwa Top Brand dapat dimaknai bahwa Jiwasraya merupakan perusahaan yang paling banyak dikenal, paling banyak dibeli dan memiliki konsumen setia dan punya komitmen  untuk membeli lagi  karena puas dengan pelayanan yang diberikan. Dengan demikian De Yong berpandangan bahwa Top Brand merupakan aset penting bagi Jiwasraya. Karena ditengah persaingan terbuka saat ini, Top Brand dapat dijadikan ukuran relatif  bahwa Jiwasraya memberikan yang terbaik kepada konsumennya. Disamping itu, dalam kesempatan yang sama Hendrisman menjelaskan bahwa disamping Top Brand, Jiwasraya masih memiliki resource yang bagus untuk berperan sebagai “pemain utama” di industri asuransi. Sebagai perusahaan asuransi jiwa pertama sekaligus  Badan Usaha Milik Negara, jaringan distribusi terluas dan kualitas SDM yang baik adalah nilai tambah buat perusahaan.  ÃƒÆ’¢â‚¬Å“Dengan elemen-elemen tersebut dan bila dilakukan bersama-sama, saya percaya jiwasraya bisa bertahan sebagai pemain utama di pasar Asuransi Jiwa” demikian Hendrisman menguraikan. 
Mempertahankan Reputasi Terbaik 
Mempertahankan reputasi jauh lebih sulit dari meraihnya. Terkait perolehan Top Brand Award Handi berharap Jiwasraya tidak terlena dengan prestasi ini. “Mengapa demikian ? Karena pasar bisnis asuransi relatif tidak stabil, terlebih persaingan berlangsung semakin ketat. Kompetitornya sangat banyak dan mereka semua merupakan world class company. Oleh karenanya, Jiwasraya sebagai salah satu pelaku dalam bisnis asuransi harus tetap mampu menjaga kinerja terbaiknya,” imbuh Handi lebih jauh.  Paralel dengan pendapat Handi tersebut, Hendrisman berpandangan bahwa dengan dua kali meraih Top  Brand, maka yang menjadi tantangan selanjutnya adalah bagaimana Jiwasraya dapat membuktikan bahwa Top Brand  memberikan hasil yang baik bagi perusahaan “Jiwasraya ditantang apakah Brand name ini mampu meningkatkan hasil penjualan dan produk-produk yang yang bagus pula,” jelasnya.  Menurut Hendrisman, kondisi ini bagaikan dua sisi yang harus dijalankan perusahaan. Sungguh ironis bila Jiwasraya menyandang status sebagai Top Brand tetapi penjualannya tidak bagus. “Top Brand  seharusnya jadi  modal yang baik untuk kita melakukan penjualan,” imbuhnya. De Yong memandang bahwa meraih Top Brand bukan mudah. Dengan demikian, semua elemen di Jiwasraya diharapkan dapat merespon prestasi ini dengan kerja lebih keras dan cerdas. Disamping itu De Yong mengingatkan bahwa kegiatan Top Brand Award memberi masukan bagi Jiwasraya karena kini konsumen memiliki wadah untuk menilai perusahaan. Jadi setiap perusahaan tentunya akan berusaha pula memperoleh nilai terbaik di mata konsumennya.   Disisi lain, De Yong menjelaskan bahwa penetrasi pasar asuransi jiwa di Indonesia baru sekitar 11% dari jumlah penduduk dan kontribusi industri asuransi sekitar 5% dari PDRB, artinya peran industri asuransi masih kecil sementara perkembangan pasar masih terbuka luas. Menurut De Yong dengan kondisi tersebut  serta sistem pengembangan asuransi yang cukup terbuka di Indonesia menjadi salah satu daya tarik investor asing.  ÃƒÆ’¢â‚¬Å“Kita bisa lihat  perusahaan asing sudah banyak  merambah pasar Indonesia. Dan saat ini makin terasa terbatasnya ruang gerak pemasaran dengan adanya perusahaan asing yang cukup agresif  apalagi  dibekali modal dan teknologi informasi yang kuat” jelas De Yong.De Yong menguraikan, untuk tetap eksis dalam persaingan, Jiwasraya harus senantiasa melakukan kajian agar penghargaan yang telah diberikan oleh konsumen dapat direspon dan diwujudkan melalui program yang berorientasi serta memberikan nilai kepada konsumen. “Pengembangan produk,  standar pelayanan, dan kinerja saluran distribusi adalah sektor yang menjadi perhatian kami,” Jelas De Yong.


Lebih lanjut, De Yong menekankan perlunya kekuatan Tim Pemasaran yang solid, kreatif, inovatif dan loyal kepada perusahaan agar momentum Top Brand juga bermanfaat untuk pencapaian tingkat penjualan jangka panjang Perusahaan. “ Kalau peningkatan pelayanan berjalan menjadi satu kesatuan, kita tidak hanya sekedar mempertahankan Top Brand tapi pada akhirnya bermuara pada peningkatan produksi” Ujarnya lagi.

 Hendrisman pun berpendapat sama, bahwa tantangan terbesar bagi Jiwasraya adalah bagaimana tetap bisa eksis dalam persaingan. “Adalah wajar yang namanya mempertahankan prestasi jauh lebih sulit dibandingkan meraih prestasi” ujar Hendrisman. Menurut Hendrisman Top Brand dapat dijadikan pemicu bahwa Top Brand yang kita raih haruslah Top Brand yang “penuh”. Artinya harus dibuktikan dan ditunjukkan kepada masyarakat bahwa Jiwasraya adalah perusahaan yang layak menyandang Top Brand. “Kalau sudah demikian, orang tidak akan ragu kepada Jiwasraya,” imbuhnya lagi. Komentar tak hanya datang dari kalangan manajemen. Benny karyawan dari Divisi Keuangan, Akutansi & Inkaso (KAI) menyatakan kegembiraannya dengan keberhasilan Jiwasraya meraih Top Brand, namun dibalik itu ia juga berharap agar Jiwasraya dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk mendapatkan premi yang lebih besar lagi. Senada dengan Benny, Lusiana dari Divisi Investasi juga menyatakan kebanggaannya dengan pencapaian tersebut. “Artinya kerja keras Jiwasraya untuk membangun image yang baik di mata masyarakat telah berhasil, karena image adalah salah satu faktor utama kesuksesan suatu perusahaan”.  Lusiana juga berharap hal ini harus dimanfaatkan oleh Jiwasraya yang telah berhasil membangun image masyarakat terhadap Asuransi Jiwasraya dengan memberikan layanan kepada pemegang polis secara maksimal dan mampu menciptakan produk-produk Asuransi yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga dapat meningkatkan pendapatan premi dan meningkatkan laba perusahaan 
Meningkatkan Layanan dan Kepercayaan 
Berkenaan dengan berbagai hal tersebut, Hendrisman mengingatkan agar seluruh karyawan sadar bahwa bisnis yang dikelola perusahaan adalah bisnis jasa. Dalam bisnis jasa hanya satu pilihan yaitu pelayanan dan kepercayaan. Oleh karenanya seluruh jajaran Jiwasraya harus dapat meningkatkan pelayanan dan kepercayaan nasabah secara berkesinambungan. Lebih jauh, Hendrisman menekankan agar peningkatan dan pelayanan di Jiwasraya haruslah merupakan satu kesatuan yang utuh baik kepada pelanggan eksternal maupun internal. “Unit terdepan harus terus meningkatkan pelayanannya kepada customer, sedangkan supporting unit harus memberikan dukungan pelayanan juga kepada unit terdepan,” urainya menambahkan. ÃƒÆ’¢â‚¬Å“Apabila peningkatan pelayanan berjalan menjadi satu kesatuan, maka kita tidak hanya sekedar mempertahankan Top Brand tapi pada akhirnya bermuara pada peningkatan produksi,” ujar Hendrisman mengakhiri perbincangan.  

Kekuatan Sebuah Merek 
Dalam kesempatan malam penganugerahan Top Brand Award, Handi Irawan menjelaskan bahwa merek merupakan aset yang nilainya sangat besar. “Nilainya dapat mencapai hingga puluhan kali lipat dari nilai buku perusahaan itu sendiri,” tegas Handi. “Saya meyakini sepenuhnya bawa para pimpinan puncak dan marketer dari perusahaan tentu telah memahami hal ini sepenuhnya,” sambung Handi. Pada sisi lain, yaitu dari sudut pandang konsumen, dapat dipastikan bahwa merek merupakan aset yang senantiasa menjadi acuan konsumen ketika melakukan pembelian produk. “Konsumen akan membeli kepercayaan yang terkandung dalam sebuah merek. Merek merupakan sumber daya yang sangat berharga dan dapat menjadi sumber keunggulan bersaing bagi perusahaan,” papar Handi panjang lebar. Merek yang kuat dapat menciptakan loyalitas. “Perusahaan atau produk yang memiliki merek yang kuat cenderung lebih mudah memenuhi kebutuhan dan keinginan sesuai dengan persepsi pelanggan,” tutur Handi. Disamping itu, menciptakan merek yang kuat memberikan banyak keuntungan bagi perusahaan, antara lain dapat digunakan sebagai franchise, meningkatkan brand loyalty, membuat harga menjadi tidak elastis (kenaikan harga sedikit saja tidak akan menyebabkan konsumen berpindah ke merek lain yang harganya lebih murah), dan meningkatkan keunggulan bersaing. Salah satu kunci penting bagi keberhasilan pengelolaan merek adalah dengan melakukan pengukuran kekuatan merek. Pengukuran perlu dilakukan guna mendapatkan informasi mengenai kekuatan merek di pasar relatif terhadap para pesaingnya. Informasi yang terkumpul, selanjutnya dapat digunakan sebagai landasan dalam penyusunan strategi membangun merek. Dalam Majalah Marketing, edisi khusus vol.1/2008, Philip Kotler, Marketing Guru bertaraf Internasional menyebutkan bahwa ada lima dimensi yang dimiliki oleh sebuah merek yang hebat. “Pertama, sebuah merek harus dapat mencerminkan atribut-atribut tertentu, seperti fitur produk, style dan berbagai hal lainnya. Kedua, merek harus bisa menonjolkan satu atau lebih keunggulan utamanya. Ketiga, kita harus mampu menvisualisasikan karakteristik merek tersebut seakan-akan ia manusia. Keempat, sebuah merek harus bisa mencerminkan sesuatu yang berkenaan dengan value perusahaan; apakah perusahaan tersebut inovatif, responsif terhadap pelanggan atau memiliki kesadaran sosial yang tinggi?” jelas Philip. ÃƒÆ’¢â‚¬Å“Dan yang kelima atau yang terakhir adalah sebuah merek yang kuat mampu memberikan gambaran tentang pengguna merek tersebut. Yaitu apakah mereka kalangan muda yang antusias, atau golongan berumur tetapi sudah mapan?” lanjut Philip. Yang terutama, menurut Philip, merek kuat mampu memunculkan image, ekspektasi dan kinerja yang dijanjikan. “Mereka punya karakter,” tegasnya mantap. “Dan untuk menyegarkan kembali sebuah merek, dibutuhkan suntikan segar berupa benefit, value, serta arti baru dari sebuah merek. Merek yang sukses adalah merek yang mampu memenuhi janji-janji mereka yang unik dan lebih baik,” demikian lanjut Philip. 

Sebuah Apresiasi Bertajuk Top Brand Award
 
Top Brand Award adalah sebuah penghargaan yang diberikan kepada serangkaian merek yang tergolong sebagai merek yang top. Yang dimaksud dengan kriteria “top” disini adalah berlandas pada hasil survei yang dilakukan oleh Frontier Consulting Group. Pada penyelenggaraannya di tahun 2008 ini, Top Brand Award diberikan kepada lebih dari 190 merek yang mewakili 80 kategori produk. Prosesi penganugerahan Top Brand Award itu sendiri berlangsung sebagai hasil kolaborasi apik antara Frontier Consulting Group dan Majalah Marketing.  Handi Irawan menjelaskan bahwa Top Brand Award hanya dianugerahkan kepada merek-merek dalam kategori tertentu yang memenuhi dua kriteria, yaitu :

  1. Merek-merek yang memperoleh Top Brand Index minimum sebesar 10%.

  2. Merek-merek yang menurut hasil survey berada dalam posisi top three dalam kategori produknya.
Kedua kriteria ini harus dipenuhi oleh sebuah merek agar berhak menyandang predikat Top Brand. Dengan adanya kedua kriteria ini, maka dalam 1 kategori produk tidak menutup kemungkinan terdapat lebih dari satu merek, maksimal 3 merek yang meraih predikat Top Brand. Terkait dengan pengukuran tersebut, Frontier Consulting Group melakukan pengukuran kekuatan merek melalui sebuah model tersendiri yang telah diaplikasikan selama 8 tahun lebih. Model ini terdiri atas tiga variabel, yaitu mind share, market share dan commitment share. Variabel pertama, diindikasikan oleh parameter top of mind awareness. Variabel kedua, yaitu market share diindikasikan oleh parameter last brand used. Sedangkan variabel ketiga, commitment share memiliki indikator berupa future intention. ÃƒÆ’¢â‚¬Å“Selanjutnya, kekuatan merek yang disebut dengan Top Brand Index tersebut diperoleh dengan mengambil rata-rata terbobot dari ketiga parameter yang ada. Index ini selanjutnya akan digunakan untuk menentukan merek-merek yang masuk ke dalam kategori Top Brand,” jelas Handi. Handi pun berharap bahwa pengukuran yang dilakukan berdasarkan model ini dapat memberi inspirasi bagi para manajemen puncak perusahaan dalam merumuskan strategi membangun merek-mereknya. “Hasil dari pengukurannya pun dapat memberikan pelajaran yang sangat berharga mengenai dinamikan persaingan antar merek dalam kurun waktu 8 tahun. Dinamika yang dapat memberikan informasi mengenai mengapa sebuah merek berhasil dan mengapa merek yang lain gagal,” jelas Handi bersemangat. Lebih jauh, dengan sedikit berdiplomasi, Handi mengatakan bahwa “Top Brand Index hanyalah merupakan sarana untuk membuka wawasan dan menggugah para pemilik merek di Indonesia.” 

Source :Jiwasraya Magazine Edisi 63 Maret 2008



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Your email address will not be published. Required fields are marked *

: *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>