Industri Asuransi Makin Bersemi

Tahun ini, total pendapatan asuransi jiwa mencatatkan pertumbuhan hingga 78,1%. Angkanya mencapai sekitar Rp 158,65 triliun. Sedangkan pendapatan premi industri asuransi jiwa mencapai Rp 116,06 triliun. Meningkat 15,1% dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 100,80 triliun.

Rinciannya, untuk premi baru mencapai Rp 69,42 triliun atau meningkat 20,5% dari tahun lalu yang mencapai Rp 57,60 triliun. Jumlahnya diperkirakan mencapai Rp 94,29 triliun sampai akhir tahun. Sedangkan pembayaran klaim nilai tebus hingga kuartal ketiga mencapai Rp 39,82 triliun. Meningkat sebesar 38,3% dibanding tahun sebelumnya. Rinciannya, klaim kesehatan meningkat 22,3% menjadi Rp 7,34 triliun dari Rp 6 triliun yang dibayarkan pada 2015.

“Sepanjang 10 tahun ini, asuransi jiwa selalu tumbuh rata-rata tumbuh di atas 10%.  Tidak pernah tidak tumbuh. Tahun ini, akan lebih baik dari tahun lalu, termasuk dari sisi investasi. Namun, kita perlu waspada terhadap siklus sepuluh tahunan di bidang investasi,” kata Hendrisman Rahim, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI).

Hendrisman menambahkan bahwa dalam sektor investasi ada siklus yang polanya berulang tiap 10 tahun. Yakni, terjadi goncangan di pasar modal di tingkat global, dan Indonesia bisa terkena imbasnya. Tapi, ia menambahkan bahwa optimisme harus tetap dijaga. Apalagi, pondasi perekonomian negara ini terbilang cukup kuat.

Hingga kuartal ketiga tahun ini, jumlah investasi mencapai Rp 386,18 triliun, meningkat 25,7% dari tahun lalu yang mencapai Rp 307,29 triliun. Diperkirakan sampai akhir tahun ini investasi bisa mencapai Rp 404,68 triliun.

Tahun depan, AAJI memprediksi pertumbuhan asuransi jiwa bisa tumbuh di kirasaran 10%-30%. Penetrasi asuransi jiwa individu juga ditargetkan tumbuh dari 2,7% pada tahun ini, menjadi 3% pada tahun 2017. Pendorongnya adalah pertumbuhan ekonomi yang dipicu oleh belanja pemerintah dan masyarakat serta peningkatan investasi di negara ini.

Bila asuransi jiwa optimistis menatap tahun 2017, bagaimana dengan asuransi umum? Tahun ini, di asuransi umum pun pertumbuhannya di atas dua digit. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memperkirakan pertumbuhan premi industri asuransi umum tahun 2016 meningkat di angka 10%-15%.

Pertumbuhan ini didorong oleh membaiknya penjualan di industri otomotif roda empat yang tumbuh tipis pada tahun ini. Sedangkan untuk kendaraan roda dua dan properti yang juga menjadi kontributor terbesar di asuransi umum mengalami penurunan. Meski begitu, dua sektor tersebut tetap memberikan kontribusi bagi pertumbuhan asuransi umum.

“Tahun depan, kami harapkan industri asuransi umum bisa tumbuh di kisaran 15%-20%. Harapannya, sektor otomotif, baik roda empat dan dua membaik. Lalu, sektor properti kembali menguat pada tahun depan bila ada aturan tarif baru dan dipatuhi pelaku pasar. Asuransi kesehatan juga kami harapkan semakin tumbuh setelah aturan soal Coordination of Benefit (COB) bisa segera final,” kata Yasril Y. Rasyid, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI).

Proyeksi pertumbuhan yang lebih tinggi dari tahun ini juga berkat adanya angin segar bagi industri asuransi umum.  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan segera membuka kran lebih lebar agar pelaku di industri ini bisa menjual produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI). Produk baru ini tentunya akan semakin mendorong pertumbuhan asuransi umum.

Jenis asuransi yang bisa digabung dengan produk unit link antara lain untuk kecelakaan diri, properti, dan kendaraan bermotor. Sementara ini, OJK kemungkinan baru akan menyetujui PAYDI untuk asuransi kecelakaan diri. Sebabnya, jenis asuransi ini lebih mungkin ditentukan ratio klaimnya. Selain itu, pelaku di industri asuransi umum nantinya juga bisa menjual jasa keuangan yang lain.

“Selain perluasan produk, masih ada sentimen positif yang bisa menjadi pendorong pertumbuhan asuransi umum. Antara lain, pelaksaan program tax amnesty dan percepatan pembangunan infrastruktur,” tambah Yasril.

Eko Adiwaluyo, Majalah Marketeers Edisi Desember 2016-Januari 2017


Kategori Berita