Minggu, 20 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Perum Jasa Tirta I

Visi Kementerian BUMN : "Meningkatkan peran BUMN sebagai instrumen negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme"

Prestasi

Piagam Penghargaan dari Pemereintah Kabupaten Jombang atas Dunia Usaha Atas Partisipasi dan Dukungan Terhadap Pembangunan Kabupaten Jombang

Kegiatan

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Jajak

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Pemerintah Telah Mempunyai Rencana Penanganan Banjir Semarang

14 Maret 2009

Pemerintah
telah mempunyai rencana induk penanganan banjir dan luapan air laut pasang (rob)
yang kerap melanda kota Semarang. Direktur Sungai, Danau dan Waduk Direktorat
Jenderal Sumber Daya Air Widagdo mengatakan, konsep penanganan banjir Semarang
dilakukan dengan membagi Semarang menjadi tiga kawasan.

“Konsep tersebut penanganannya membagi menjadi
Semarang Barat, Semarang Tengah dan Semarang Timur,” ujar Widagdo kepada tim
kunjungan kerja Komisi V DPR-RI di Semarang, Jawa Tengah, Rabu
(11/3).

Untuk kawasan Semarang Barat, penanganan dilakukan
dengan pembuatan waduk Jatibarang, normalisasi sungai Banjir Kanal Barat (BKB)
serta
sistem drainase kota, yakni Kali
Semarang, Kali Baru, dan Kali Asin yang merupakan satu sistem dengan
BKB.

Pada kawasan drainase kota tersebut juga akan
dibangun tempat penampungan air seluas 8 hektare. Air dari tiga kali tersebut
ditampung di tempat tersebut, lokasinya berada di dekat penampungan hasil
galian, tepatnya di mulutnya Kali Semarang.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS)
Pemali-Juwana Hartanto menambahkan, tempat penampungan air itu akan dilengkapi
pompa berfungsi memompa air ke laut. Jadi, meskipun air laut tinggi, sedangkan
air hujan tertampung di tempat tersebut akan terus dipompa.

Hartanto menjelaskan, fungsi waduk Jatibarang selain
untuk pengendalian banjir juga penyedia air baku wilayah Semarang Barat,
sebanyak sekitar satu meter kubik per detik. Selain yang eksiting sudah
terpasang dengan kapasitas satu meter kubik per detik. Jadi total untuk air
minum itu sebanyak dua meter kubik per detik

Normalisasi BKB sepanjang 9,8 km, dimulai dari pertemuan Kaligarang
dengan Kali Kreo ke hilir sampai muara BKB. Hasil galian dari normalisasi itu
akan di tempatkan sebelah kanan muara. Di tempat tersebut akan dibangun tempat
penampungan hasil galian.

’’Diperkirakan hasil galiannya mencapai satu juta
meter kubik,’’ ungkap Hartanto.

Hartanto menjelaskan, proyek penanganan banjir di
kawasan Barat akan mulai pada tahun ini hingga 2013. Dana penanganan sebesar Rp
1,7 triliun berasal dari pinjaman pemerintah Jepang.

Sedangkan untuk penanganan kawasan Tengah Semarang,
Widagdo menerangkan perlu ditangani dengan sistem polder melalui 10 subsistem
drainase. Widagdo mengakui, kawasan Tengah Semarang yang antara lain meliputi
daerah kota tua belum ditangani dengan sistem  polder yang
menyeluruh.

“Untuk sistem full polder, seharusnya ada tanggul
yang mengeliling kota yang dilengkapi sebuah retersin basin (tampungan air-red).
Mekanismenya air dibendung dan dialirkan menuju retersin basin tersebut untuk
kemudian dialirkan ke laut,” ujar Widagdo.

Namun yang terjadi saat ini, sebuah retersin basin
yang terletak di dekat Stasiun Kereta Api Tawang malah dijadikan kawasan wisata
air.

“Memang ada konflik kepentingan, seharusnya pada
musim hujan retersin basin itu dalam keadaan kosong karena untuk menampung
aliran air dari wilayah sekitarnya untuk kemudian dipompa ke laut, namun yang
ada saat ini malah diisi karena sebagai daerah kunjungan,” sebut
Widagdo.

Sementara
untuk kawasan Timur drainase dibagi menjadi lima subsistem yaitu Banjir Kanal
Timur, Tenggang, Sringin, Babon dan Pedurungan. Penanganan rencananya dilakukan 
melalui pasangan talud di jalan Argomulyo dan Bugangan, pembuatan sodetan
kawasan Terboyo sub sistem Kali Sringin, normalisasi saluran Dempel serta
pembangunan rumah pompa dan pengadaan pompa di kali Sringin dan
Babon.

Ketua tim Kunker Komisi V DPR-RI Taufik Kurniawan
mengatakan, sudah saatnya pemerintah memprioritaskan penanganan banjir di kota
Semarang. Menurut Taufik, karena kerap dilanda banjir dan rob kondisi sejumlah
infrastruktur Semarang  tidak optimal.

Kondisi jalan arteri dan jalan nasional seringkali
rusak karena banjir. Untuk mengatasinya Ditjen Bina Marga sudah meninggikan dan
membetonisasi sejumlah ruas jalan seperti lingkar Semarang, Semarang-Demak dan
lingkar Demak.

Selain jalan infrastruktur lainnya yang terganggu
banjir antara lain stasiun tawang, pelabuhan udara Ahmad Yani dan pelabuhan laut
Tanjung Mas.  Stasiun Tawang sejak 1990 telah ditinggikan dua kali dengan
ketinggian mencapai 1,5 meter, namun kini masih juga tergenang rob.

Taufik juga menyebutkan dana Rp 15 miliar yang
dikeluarkan setiap tahunnya oleh PT Pelindo III hanya untuk meninggikan
daerahnya demi menghindari genangan air rob sebagai pemborosan.

“Hal tersebut sayang sekali, karena seharusnya dana
tersebut bisa digunakan untuk kepentingan lain yang lebih produktif. Banjir yang
sering terjadi juga menyebabkan kondisi infrastruktur di Semarang dan Jawa
Tengah pada umumnya relatif tertinggal dibanding Jawa Barat,” terang Taufik.

Source :www.jasatirta1.go.id



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

: *


*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>