Kamis, 17 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

INKA

Visi : "Menjadi perusahaan manufaktur sarana kereta api dan transportasi kelas dunia yang unggul di Indonesia"

Prestasi

Kegiatan

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Jajak

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Kereta Api Aceh, Modal Transportasi Masa Depan yang Terintegrasi

27 Mei 2008

Oleh Muhammad Nizar

Rakyat Aceh berkesempatan naik kereta api. Jalur kereta
api Bireuen-Lhokseumawe sepanjang 71,9 km akan dapat beroperasi mulai tahun
ini. “Gerbang kereta sudah dipesan, tinggal menunggu 20 persen lagi,” kata
pejabat perhubungan.

Demikian headline Harian
Aceh, Senin (12/5) tentang persiapan pengoperasian kereta api yang sudah lama
menghilang di Aceh. Kehadiran kereta api nantinya akan melancarkan jalur
transportasi darat yang selama ini dikuasai bus. Namun, kehadiran kereta api
tidak akan menjadi pesaing transportasi yang telah ada, seperti bus dan
pesawat.

Kereta api Aceh, zaman dulu disebut Atjeh Tramp, lebih dimaksud sebagai
sarana komuter masyarakat kota yang mempunyai mobilitas tinggi berpindah antar
kota, jarak-dekat. Padatnya penduduk menjadi pertimbangan utama pemerintah
memprioritaskan kehadiran kereta api dengan membangun rel kereta api.

Lintas Bireuen-Lhokseumawe menjadi jalur pertama pembangunan rel kereta
api dan diharapkan selesai tahun 2008. Kehadiran kereta api, selain berfungsi
sebagai sarana angkutan barang, juga dapat menjadi sarana memperkenalkan objek
wisata. Karena ke depan, bisa saja jalur kereta api diarahkan ke Dataran tinggi
Aceh, yang terkenal dengan tempat wisatanya.

Impian
itu disampaikan oleh Kadishubkomintel Provinsi NAD, Prof.DR.Ir. Yuwaldi Away,
putera Aceh Selatan yang baru menduduki posisi ini setelah lulus fit and proper
test penerimaan pejabat eselon II beberapa waktu lalu. Penjelasan ini
disampaikan sebagai tanggapan atas pro-kontra masyarakat terhadap pembangunan
kembali jalur kereta api Aceh – Sumatera Utara sepanjang 586 km.

Muncul
pertanyaan, sejauhmana kebutuhan masyarakat Aceh akan adanya sarana
transportasi baru jenis KA? Bukankah selama ini masyarakat sudah terlayani dan
menikmati transportasi lain seperti bus, kapal laut dan pesawat udara.
Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab, mengingat Aceh memiliki sejarah
panjang perkeretaapian sejak zaman Belanda hingga masa kemerdekaan.
Jalur
kereta api Aceh tempoe doeloe dibangun dengan dana jutaan Golden dan
mengorbankan banyak nyawa.

Sejarah pembangunan kereta api Aceh sangat unik, berbeda dari daerah lain.
Perbedaan ini disebabkan tujuan awal pembangunan kereta api dan siapa saja yang
memanfaatkannya. Kereta api Aceh mulanya dibangun sebagai sarana mengangkut
peralatan militer dari pelabuhan Ulee Lheue ke Kutaraja atau Banda Aceh. Dengan
kata lain kereta api dibangun untuk kepentingan perang daripada kepentingan
ekonomi dan sosial. Hingga pada akhirnya juga memberikan keuntungan ekonomi dan
politik yang besar.

Pasca reformasi 1998, Presiden RI saat itu, BJ Habibie mengeluarkan janji
politik kepada masyarakat Aceh. Salah satu janji-janji itu adalah pembangunan
kembali jalur kereta api. Pasca janji tersebut, pada tahun 2002 dibuatlah
Rencana Umum Pengembangan Kereta Api Sumatera, yang merupakan hasil kesepakatan
Gubernur se-Sumatera.

Program Perkeretaapian Aceh merupakan bagian dari program Trans Sumatera
Railway Development. Pembangunan jalan kereta api Aceh dianggap solusi tepat
saat ini dan juga di masa depan, di mana angkutan kereta api ini bersifat
massal, murah, aman dan efektif. Pembangunan kembali jaringan pelayanan kereta
api Aceh diyakini memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Pelayanan tersebut akan semakin membuka dan menghubungkan
kota Banda Aceh, Sigli, Lhokseumawe, Langsa, Besitang, Medan-Belawan,
Medan-Tebing Tinggi, Pematang Siantar-Rantau Perapat. Lintas jaringan tersebut
 juga nantinya akan terhubung dengan jaringan baru yang menghubungkan
kota-kota di provinsi Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu
dan Lampung dalam satu kesatuan sistem Trans Sumatera Railway.

Demikian setidaknya grand design yang terdapat dalam proposal pembangunan
jaringan kereta api Aceh yang sudah disusun oleh pemerintah dengan bantuan
konsultan asing, Mott McDonald dan SNCF Internasional.

Pembangunan kembali jalur kereta api di Provinsi Aceh dilakukan dengan memperhatikan
enam pertimbangan yaitu: aspek politis (janji mantan presiden Habibie kepada
masyarakat Aceh yang harus ditunaikan), aspek ekonomi (dibukanya pusat-pusat
industri dan kawasan-kawasan andalan), aspek potensi jumlah penduduk (perkiraan
jumlah penumpang yang diangkut pada jalur kereta api Banda Aceh-Medan), aspek
pengembangan wilayah (dengan garis pantai + 1.850 Km, system transportasi Aceh
mengacu pada pengembangan kawasan berpotensi), aspek pengembangan transportasi
(sebagai perwujudan Transportasi Nasional dan System Transportasi Wilayah
jaringan KA sesumatera), aspek potensi wilayah (sepanjang jalur terdapat
potensi peternakan, perikanan, perkebunan, pertambangan, pertanian, dsb).

Jadi, dapat disimpulkan, tak ada yang salah dalam rencana pembangunan
kereta api. Karenya, masyarakat Aceh sangat mengharapkan pembangunan kereta api
Aceh dapat selesai pada tahun 2012 (lihat tabel) yang dimulai dengan
pembangunan rel di kawasan lintas tengah yaitu Bireun-Lhokseumawe. Pembangunan
dilakukan secara bertahap, layaknya pembangunan kereta api zaman Belanda. Hanya
saja Belanda memulai dengan Ulee Lheue-Kutaradja (Lihat Pembangunan AtjehTramp
Tempo doeloe..

No.

Kota

Jarak (Km)

Tahun

Alokasi Dana (Rp)

1

Sp Mane-Bungkah-Kr. Geukuh-Bl. Pulo

20,4

2007

108 milyar

2

Bl.
Pulo-Lhokseumawe dan Sp.Mane-Mns Alue

51,5

2008

772,5 milyar

3

Sigli – Mns
Alue

100,6

2009

1.509 miliyar

4

Banda
Aceh-Sigli

112

2010-2012

1.680 milyar

5

Lhokseumawe-Batas
Sumut

199,5

2009-2012

2.992,5 milyar

Namun konsep
transportasi Kereta Api Aceh sudah berubah sebagaimana disebutkan dalam awal
tulisan ini. Masyarakat harus diyakinkan untuk memanfaatkan kereta api, sebab
kereta api akan kesepian tanpa penumpang.

Seorang Pakar
Transportasi Universitas Syiah Kuala, Ir.Bukhari RA, M.Eng menyatakan ada hal
yang lebih penting disiapkan terlebih dahulu di banding membangun sistem
perkeretaapian. Jalan-jalan darat yang menghubungkan berbagai wilayah Aceh
Pantai Barat dan dataran Tinggi Aceh harus diselesaikan dahulu.
Dengan
lancarnya transportasi darat dengan sendiri sistem transportasi secara
keseluruhan akan berfungsi dengan otomatis. Transportasi jalan diibaratkan
sebagai pengumpan (feeder) penumpang kereta api. ”Jadi bukan hanya masyarakat
sekitar jalur kereta api saja yang memanfaatkan kereta api. Kalau cuma
mengharap hal ini, niscaya anggapan kereta api merupakan angkutan massal dan
murah tidak sesuai lagi,” katanya kepada Harian Aceh.

Pemerintah,  lanjutnya, harus sadar akan sistem transportasi yang
terintegrasi, bukan sebatas memanfaatkan dana kereta api yang terlanjur
dijanjikan tapi lupa memikirkan bahwa masih ada warga yang belum menikmati
jalan mulus seperti yang ada di kawasan ALA. Sistem transportasi yang
terintegrasi berarti juga memikirkan fasilitas publik jalan yang masih banyak
terbengkalai. Menyatukan berbagai wilayah dalam provinsi Aceh dalam suatu
kesatuan transportasi. Ke depan diharapkan semakin banyak warga Aceh yang dapat
saling mengunjungi antar daerah, daerah pegunungan sekalipun.

Bepergian dengan Atjeh Tram
 Tempoe Doeloe

Anda ingin bepergian dari Medan ke Banda Aceh? Dengan menaiki bus, anda
membutuhkan waktu 10 jam untuk tiba di Banda Aceh dengan nyaman. Atau jika anda
buru-buru dan mempunyai kocek yang tebal naik saja pesawat terbang, 45 menit
sudah sampai di Bandara Sultan Iskandar Muda. Namun bagaiman orang tempoe
doeloe, tahun 1930-an, bepergian dari Medan – Banda Aceh? Mereka umumnya
menggunakan jasa transportasi kereta Api.

Stasion KA
Banda Aceh di akhir kejayaannya,1970-an. (Dok Kadishubkomintel)

Berangkat dari Medan dengan kereta api biasanya pada pagi
hari, kereta akan berjalan ke arah utara melalui tempat pengilangan minyak BPM
(Bataafsche Petroleum Maatschappij) Pangkalan Berandan. Di perbatasan Aceh,
yaitu di Besitang, jenis kereta api diganti dari kereta api DSM dengan kereta
api Aceh Atjeh Tram yang mempunyai jalur lebih sempit dan gerbong lebih kecil.
Perjalanan hingga Langsa melalui daerah-daerah perkebunan karet. Pemandangan
kampung-kampung dengan pohon-pohon kelapa dan pisang, rumpun bambu yang rimbun
dan persawahan menjadi hiburan tersendiri bagi pengguna kereta api.

Di sepanjang perjalanan banyak dijumpai stasion-stasion kecil. Pada pukul
18.00 sore kereta api sampai di Lhokseumawe, selanjutnya keesokan harinya pada
pukul 13.00 siang tiba di stasion Sigli. Di Padang Tiji kereta api berhenti
selama + 10 menit untuk ganti lokomotif yang lebih kuat, sebab jalan mulai
menanjak melalui batas air antara gunung Seulawah Agam dan gunung Seulawah
Inong yaitu melewati krueng Empat Puluh Empat. Pukul 15.00 kereta api berangkat
dari Seulimum melalui Indrapuri menuju Lambaro, di Lambaro kondektur kembali
memeriksa karcis penumpang. Pada pukul 18.00 sore kereta api baru tiba di
stasion Kutaradja. Jadi perjalanan dengan memakai kereta api untuk lintas Medan
– Kutaradja memakan waktu selama 2 hari!

Pemberhentian terakhir Atjeh Tram melalui sebuah tanggal kecil yang
berujung dekat jembatan kereta api yang terbentang di atas kuala, muara Krueng
Aceh. Tempat itu berada dekat hutan bakau. Di tempat itu sekarang sudah berdiri
dengan kokoh pertokoan Barata Department Store. Jadi, dengan kehadiran kereta
api yang diramalkan akan segera beroperasi di Aceh, diharapakan suasana perjalanan
seperti tempoe doeloe yang menyenangkan terhidang di depan mata.(t-7/dbs)

Source :Harian Aceh



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

: *


*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>