Monday, 21 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

Visi PT. Indofarma (Persero) Tbk : "Menjadi perusahaan yang berperan secara signifikan pada perbaikan kualitas hidup manusia dengan memberi solusi terhadap masalah kesehatan dan kesejahteraan masyarakat"

Achievements

Activity

April  2014
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Kontak Kami

pic

Polls

Apa pendapat Anda tentang obat generik?

View Results

Loading ... Loading ...

Menjadi Perusahaan Handal

2 August 2012

MENJADI PERUSAHAAN HANDAL

Bambang Widodo ( Bidang SPI )

Akhir-akhir ini kita sering membaca banyak perusahaan yang  terancam bangkrut atau telah bangkrut serta melakukan PHK ratusan atau ribuan karyawannya karena pengaruh krisis ekonomi global. Hal itu disebabkan antara lain perusahaan tersebut dapat dibilang kurang handal berhubung tidak mampu menanggulangi krisis tersebut. Kita mudah mengatakan bahwa kita bisa menjadi perusahaan handal. Tapi tidaklah mudah untuk menjadi perusahaan handal karena membutuhkan  proses dan komitmen kuat.

Perusahaan handal dalam arti luasnya adalah perusahaan yang mampu bertahan dan bahkan berkembang di tengah persaingan usaha dan kondisi ekonomi yang kurang kondusif yang berakhir dengan kenaikan nilai perusahaan atau kemakmuran pemilik perusahaan (shareholder wealth). Dari berbagai sumber, secara teknis perusahaan handal adalah perusahaan yang mampu meniadakan atau meminimalkan pengaruh risiko terhadap kegiatan bisnis yaitu pengaruh internal dan pengaruh eksternal (risk management), melaksanakan GCG (Good Coorporate Governance) dengan komitmen yang kuat dan konsisten serta menciptakan sistem lingkungan pengendalian intern  (internal control) yang kuat.

Pengelolaan Resiko ( Risk management)

Pengaruh Internal :

Pengaruh internal sebagai dampak yang timbul dari risiko di dalam perusahaan dan pada umumnya dapat dikendalikan pada level tertentu. Sumber risiko internal diantaranya finansial, operasional dan teknologi.

Risiko finansial antara lain likuiditas di mana untuk pengadaan bahan dan produksi harus dilakukan lebih awal, sementara produk yang terjual sampai dengan pembayaran membutuhkan waktu sehingga perusahaan akan mengalami kekurangan likuiditas sementara. Untuk meminimalkan risiko tersebut antara lain perusahaan haruslah memperoleh fasilitas kontrak kredit modal kerja atau dana talangan (bridging finance) dari perbankan atau sumber lain dengan bunga relatif rendah dengan jaminan aset.

Risiko operasional antara lain risiko pencemaran lingkungan karena dapat mendatangkan tuntutan hukum,  untuk meminimalkannya antara lain harus ada sistem pengolahan limbah yang memenuhi peraturan perundangan. Selain itu HPP yang relatif tinggi tentu  dapat mengurangi margin bahkan rugi. Untuk meminimalkannya antara lain harus ada subsitusi bahan yang relatif murah berkualitas atau perubahan proses pengolahan produk yang lebih singkat.

Risiko teknologi antara lain mesin produksi yang sudah tua berakibat produk yang dihasilkan tidak sesuai spesifikasi dan outputnya rendah. Untuk meminimalkanya antara lain harus ada penggantian mesin/teknologi yang lebih baru dan lebih cepat dan atau perubahan proses pengolahan produk / jasa yang lebih sederhana

Pengaruh Eksternal :

Pengaruh eksternal merupakan risiko dari lingkungan luar perusahaan  dan tidak dapat dikendalikan oleh sistem dan prosedur perusahaan yang ada. Sumber risiko eksternal antara lain ekonomi, lingkungan, hukum, politik, pasar dan sosial.

Risiko ekonomi berupa turunnya permintaan, fluktuasi penawaran, tingkat pengangguran dan kebijakan pemerintah (tingkat suku bunga dan proteksi perdagangan), fluktuasi nilai tukar dan inflasi. Untuk meminimalkannya antara lain perusahaan harus tahu lebih banyak tentang rencana belanja pemerintah yang relevan dengan aktivitas bisnis, antisipasi terhadap dinamika PDB (Produk Domestik Bruto) dalam jangka pendek yang berdampak pada lapangan kerja, harga dan standar hidup masyarakat, lalu dampak inflasi dan tingkat bunga terhadap permintaan serta meningkatkan riset pasar yang lebih teliti saat awal-awal masuk pasar domestik maupun global.

Risiko lingkungan bagi kebanyakan perusahaan adalah risiko memburuknya kinerja utama perusahaan yang disebabkan isu-isu lingkungan,   misalnya regulasi yang semakin ketat atas pemakaian energi, penurunan reputasi, merek dan pangsa pasar yang disebabkan adanya insiden lingkungan. Untuk meminimalkannya antara lain dengan mengatasi isu-isu lingkungan misalnya perusahaan mempromosikan produk dan merek yang ramah lingkungan, yang menjaga kelangsungan hidup, energi yang terbarukan dan pelestarian sumber daya alam.

Risiko hukum diartikan sebagai kegagalan perusahaan beroperasi sesuai hukum yang berlaku. Sumber resiko hukum meliputi tuntutan pelanggaran hak cipta, hilangnya peluang usaha yang disebabkan hilangnya waktu manajemen puncak akibat pertikaian hukum, hilangnya reputasi disebabkan perselisihan dengan pelanggan, mitra atau pemasok. Untuk meminimalkannya antara lain perusahaan perlu memiliki bagian legal untuk mengkaji ulang kontrak sebelum ditandatangani dan peraturan terkait produk berjalan sebelum melepas produk baru ke pasar.

Risiko politik merupakan ketidakpastian yang berasal dari pelaksanaan kekuatan oleh pemerintah dan aksi dari kelompok non pemerintah misalnya perang, kudeta, birokrasi yang tidak kompeten, pajak, kebijakan tarif dan kuota dan demontrasi atas produk tertentu. Untuk meminimalkannya antara lain mengembangkan penyelidikan atas pasar yang akan dimasuki dan memperoleh dukungan pemerintah.

Risiko pasar merupakan pengungkapan atas kerugian potensial yang timbul dari menurunnya penjualan atau marjin yang diakibatkan dari perubahan kondisi pasar. Sumber risiko pasar meliputi jumlah pesaing di pasar, tingkat kesulitan masuk pasar baru, jumlah barang subsitusi, pangsa pasar, tindakan pesaing dan siklus hidup produk. Untuk meminimalkannya antara lain perlu identifikasi resiko pasar, diukur, dimonitor, dikendalikan dan secara berkala dilaporkan ke Direksi disertai analisis risiko dan peluang berkaitan dengan hambatan masuk pasar.

Risiko sosial merupakan risiko yang berasal dari perubahan dalam masyarakat yang dapat menciptakan perubahan permintaan dan membuka pasar baru. Resiko sosial meliputi rendahnya standar pendidikan pegawai baru khususnya kemampuan berbahasa, hambatan bahasa di perdagangan global, hilangnya pangsa pasar karena kurang memperhatikan pasar informal. Untuk meminimalkannya perlu ada identifikasi-identifikasi misalnya pada pendidikan pegawai baru dan meningkatkan kompetensinya, kelompok sosial ekonomi yang berkembang dan perubahan yang dilakukan terhadap pasar dan merespon publik atas kenaikan tingkat suku bunga dan penurunan penjualan, serta menumbuhkan kepedulian lingkungan.

Maka menjadi kebutuhan perlu adanya suatu unit khusus yang fokus bertugas mengelola risiko-risiko tersebut agar dapat diminimalkan dengan antisipasi aktif dan efektif yang didukung kuat oleh komitmen dan konsistensi dari top manajemen.

Penerapan Prinsip-prinsip GCG (Good Corporate Governance)

GCG atau tata kelola perusahaan yang baik merupakan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan berkaitan dengan hak –hak dan kewajiban antara pemegang saham, pengurus (manajemen), komisaris dan stake holders lainnya atas dasar prinsip-prinsip keterbukaan informasi (transparency), Akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility), kemandirian (independency), kesetaraan dan kewajaran (fairness).

GCG bukan slogan tapi sesuatu yang menjiwai kegiatan perusahaan, sesuatu yang harus diterapkan secara konsisten dan konsekuen. Tidak cukup menyatakan bahwa GCG telah diterapkan dengan hanya mengungkapkan bahwa perusahaan memiliki pedoman GCG dan memiliki komisaris independen, atau membentuk komite audit. Sebab penerapan GCG tidak sekedar ditandai dengan adanya struktur dan membuat pernyataan komitmen tertulis  tentang penerapan prinsip-prinsip GCG tersebut. Implementasi GCG harus dimulai dari top manajemen.

Agar tidak berhenti sebatas slogan, direksi dan dewan komisaris sebagai top manajemen harus memiliki komitmen penuh dalam implementasinya. Manajemen harus menjadikan GCG benar-benar sebagai budaya yang hidup dan berlaku di perusahaan,
Pimpinan puncak dituntut selalu mengambil keputusan berdasarkan asas kepatuhan. Peraturan dan etika bisnis harus menjadi acuan dalam perumusan dan pengambilan keputusan.

Dengan diterapkannya GCG secara konsisten, konsekuen dan penuh komitmen diharapkan perusahaan akan menjadi handal karena secara umum akan bermanfaat untuk :

  1. Menurunkan resiko
  2. Meningkatkan nilai saham
  3. Menjamin kepatuhan
  4. Memiliki daya tahan (sustainability)
  5. Memacu kinerja
  6. Meningkatkan akuntansi publik
  7. Membantu penerimaan negara
  8. Pertumbuhan ekonomi meningkat wajar,
  9. Kesempatan kerja semakin besar dan
  10. Daya saing lokal maupun internasional meningkat.

Agar pelaksanaan atau penerapan prinsip GCG berjalan konsisten perlu ada monitoring secara aktif oleh unit khusus atau bahkan sebuah komite, serta didukung kuat secara konsisten dan penuh komitmen oleh top manajemen.

Penciptaan Sistem Pengendalian Internal yang Baik

Sistem pengendalian internal menurut COSO sebagai suatu proses yang diefektifkan oleh manajemen dan personil lain, yang diciptakan untuk memberikan jaminan (keyakinan) yang beralasan (memadai) dalam mencapai tujuan organisasi yaitu efektifitas dan efisiensi operasi, keandalan pelaporan keuangan serta ketaatan pada peraturan dan undang-undang berlaku.

Sistem pengendalian internal tersebut terdiri atas lima unsur yaitu lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi serta pemantauan.

Lingkungan pengendalian (internal control) merupakan fondasi untuk keseluruh unsur tersebut. Sedangkan komponen komunikasi dan informasi merupakan saluran terhadap keempat unsur pengendaliaan lainnya. Oleh karena hal itu dan keterbatasan lainnya, penulis membatasi diri untuk membahas unsur lingkungan pengendalian saja.

Di dalam perusahaan, inti dari pengendalian yang efektif terletak pada sikap manajemen. Jika top manajemen percaya bahwa pengendalian itu sangat penting, maka unsur lain dalam organisasi akan memandangnya demikian pula serta tanggap pada setiap kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan. Kebalikannya, jika top manajemen menganggap bahwa pengendalian itu tidak penting dan hanya sekedar simbol saja, maka tujuan pengendalian manajemen yang efektif tentu sulit dicapai.

Lingkungan pengendalian terdiri dari tindakan, kebijakan dan prosedur yang mencerminkan sikap keseluruhan top manajemen, direktur dan pemilik suatu perusahaan terhadap pengendalian dan pentingnya bagi perusahaan.

Sementara itu sub unsur pembentukan lingkungan pengendalian antara lain :

  1. Integritas dan nilai etika, yang merupakan produk standar etika dan perilaku perusahaan serta bagaimana standar tersebut dikomunikasikan dan dipaksakan dalam prakteknya.
  2. Komitmen terhadap kompetensi, yang mencakup pertimbangan manajemen atas tingkat kompetensi untuk tugas-tugas tertentu dan bagaimana tingkat-tingkat kompetensi ini diterjemahkan kedalam ketrampilan dan pengetahuan yang disyaratkan.
  3. Filosofi manajemen dan gaya kepemimpinan, merupakan keyakinan-keyakinan dasar menajemen mengenai cara suatu organisasi dikelola, termasuk risiko yang diterima serta mengkomunikasikannya kepada pegawai dengan memberikan contoh.
  4. Struktur organisasi, berupa penetapan atas bidang-bidang kunci beserta kewenangan dan tanggungjawab serta jalur pelaporannya secara efektif atas dasar ukuran dan aktivitasnya.
  5. Pendelegasian wewenang dan tanggungjawab, merupakan bentuk komunikasi formal sehubungan dengan pengendalian atas masalah-masalah atau kegiatan –kegiatan yang dilaksanakan.
  6. Kebijakan SDM dan penerapannya, untuk menciptakan pengendalian yang efektif sehubungan dengan penciptaan pegawai yang jujur, kompeten dan dapat dipercaya, maka harus dibuat metode bagaimana pegawai itu dikontrak/dipekerjakan, dinilai dan dilatih, dipromosikan dan kompensasi yang sesuai, di mana semua ini merupakan bagian penting dari struktur pengendalian internal.
  7. Kelompok pengawas, seperti internal audit dan komite audit pada manajemen yang lebih tinggi dapat memberikan kontribusi lebih dengan meningkatkan perannya dengan  paradigma baru. Perannya  tidak lagi sebagai watch dog (berupa detective dan corective control) tetapi berperan sebagai konsultan (preventive control) dan katalisator (directive control).  Hal tersebut dapat berjalan jika ada dukungan kuat dari manajemen untuk optimalisasi pemberdayaannya serta adanya realisasi tindaklanjut atas temuan audit.

Sistem pengendalian internal yang ada perlu ditinjau ulang secara periodik oleh unit pengawasan seperti internal audit, komite audit bahkan eksternal auditor untuk memastikan bahwa aktivitas perusahaan telah dijalankan semestinya, serta jika belum ada agar dibuat segera oleh manajemen sebagai suatu kebutuhan mendesak.

Akhirnya,  dengan penerapan pengelolaan risiko (risk management), prinsip-prinsip GCG dan sistem pengendalian intern (internal control) yang baik dan konsisten -insya Alloh- akan membuat perusahaan menjadi handal dan tahan banting dalam menghadapi gejolak perubahan yang ada. Bagaimana kita?