Potensi Berlimpah, Butuh Terobosan untuk Memanfaatkan EBT di Tanah Air

Pengembangan energi baru terbarukan di Tanah Air terkendala adanya pembangunan yang rakus energi fosil. Pasalnya, ketergantungan pada minyak bumi dan batu bara beberapa dekade terakhir ini telah membuat Indonesia hanya memiliki 5 bauran energi nasional.

Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Ketua Tim Percepatan Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), William Sabandar dalam acara peluncuran "Indonesia 2050 Pathway Calculator" di Hotel Sahid, Jakarta, Rabu (24/8).

Sebelumnya, Indonesia telah mengajukan kontribusi niat penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) 29-41 persen sebelum 2030. Pada Konferensi perubahan iklim ke-21 di Paris, Desember 2015, Presiden Joko Widodo berjanji meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) 23 persen dari konsumsi energi nasional 2025.

William menegaskan, oleh karena itu, terobosan harus diambil agar potensi EBT yang melimpah di Indonesia bisa dimanfaatkan. Tanpa konsistensi, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus ditopang energi fosil yang kotor. “Energi baru terbarukan tak hanya soal perubahan iklim, tetapi juga ketahanan energi," ujarnya.

Namun kini, tambahnya, pemerintah menggarap besar-besaran potensi EBT prioritas, yakni panas bumi, air, angin, surya, dan bionergi. Regulasi, pendanaan, teknologi dan sumber daya manusia disiapkan lintas kementerian.

Selain itu, lanjutnya, pencapaian bauran pada EBT 5 persen menjadi bukti Indonesia terlena pada konsumsi minyak bumi yang sebagian di impor. Demi mencapai bauran energi 23 persen pada 2025 perlu dibangun pembangkit listrik berkapasitas 46 gigawat (GW) yang rencana awalnya saat ini baru 8 GW yang terpasang.

"Itu artinya, dalam sembilan tahun ke depan harus dibangun tambahan 38 GW. Ini butuh revolusi energi dari semua sektor, dan dibutuhkan karena pemerintah selama ini tak serius mengembangkan EBT," tandasnya.

Sumber


Kategori Berita