Indonesia Salah Langkah Soal Imbauan Elpiji, Kenapa?

Pengamat, sekaligus praktisi energi, Gusti Suwarnaya menilai bahwa pemerintah telah salah langkah 'memaksa' masyarakat untuk mengalihkan konsumsi bahan bakar mereka ke elpiji.

Posisi Indonesia, yang masih menjadi negara pengimpor terbesar dalam hal energi, membuatnya menjadi kontraproduktif.

"Pemerintah salah langkah gembor-gemborkan elpiji, alatnya pun tidak kita kembangkan sendiri," ujar Gusti, usai diskusi bertajuk Apa Kabar Poros Maritim di Jakarta Pusat, Minggu 7 Juni 2015.

Dia menjelaskan, untuk gas elpiji, Indonesia mengimpor sebesar 60 persen dari total yang digunakan Indonesia. "Impor elpiji itu 60 persen dari  total yang kita gunakan, karena gas yang dihasilkan Indonesia tidak menghasilkan gas untuk elpiji, gas kita itu kering, cocok untuk LNG (liquid natural gas), atau CNG (compressed natural gas)," katanya.

Dijelaskannya bahwa kebutuhan Indonesia akan elpiji setiap tahunnya mencapai angka 60 juta ton. "Makanya, kalau kita meningkatkan konsumsi elpiji, kita sama saja meningkatkan ketergantungan terhadap pihak luar juga," jelasnya.

Di sisi lain, lanjutnya, Indonesia sebenarnya memiliki potensi wilayah maritim yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan sumber energi terbarukan. Karena itu, ia menyarankan pemerintah perlu meningkatkan produksi energi dari sumber energi lain.

"Jadi, sumber energi baru terbarukan, apakah alga, atau bio etanol, itu yang perlu dikembangkan, dengan memanfaatkan laut," ujarnya.

Sementara itu, dia juga menilai bahwa untuk pasokan energi, pemerintah perlu membangun SPBU, atau SPBG yang kuantitasnya masih terlalu kurang di daerah-daerah. Jika tidak, akan berimbas kepada harga bahan bakar yang melambung tinggi yang didapatkan nelayan.

Sumber : http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/635012-indonesia-salah-langkah-soal-imbauan-elpiji--kenapa-


Kategori Artikel