Thursday, 17 April 2014

Portal Kementerian BUMN | Direktori BUMN

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk

Visi Kementerian BUMN : "Meningkatkan peran BUMN sebagai instrumen negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme"

Achievements

Activity

April  2014
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  

Contact Us

pic

Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

16 November 2007

Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan lebih rendah dari target
pemerintah sebesar 6,3 persen. Angka pertumbuhan kemungkinan maksimal hanya
6,2 persen. Itu pun dengan syarat apabila kinerja selama kuartal IV relatif
baik dan mampu mencapai 6,4 – 6,6 persen. Sepintas tampaknya tak ada persoalan
serius dengan perkembangan yang tak terlalu menggembirakan itu. Apa artinya
bila bedanya hanya 0,1 persen? Tetapi jangan lupa, dampaknya terhadap penyerapan
tenaga kerja sangat besar. Setiap 0,1 persen pertumbuhan diperkirakan akan
terkait dengan sekitar 100 ribu kesempatan kerja. Jadi akan ada pengurangan
sebesar itu.

Padahal, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dengan pertambahan
angkatan kerja setahun sebanyak 2,1 juta orang dan kesempatan kerja 2 juta
orang, memang akan ada tambahan pengangguran100 ribu. Dan secara akumulatif
jumlah pengangguran di negara kita akan semakin besar. Di situlah sebenarnya
letak persoalan itu. Angka riilnya bisa jauh lebih besar, karena semua
baru perhitungan kasar atas dasar asumsi tertentu. Padahal pertumbuhan
ekonomi lebih banyak ditopang konsumsi, sementara penggunaan teknologi
canggih yang kurang menyerap tenaga kerja semakin banyak dijadikan pilihan.

Mungkin kondisinya sedikit tertolong karena laju inflasi juga bisa ditekan
menjadi sekitar 6,5 persen. Jadi pertumbuhan ekonomi tak terlalu dimakan
inflasi. Di samping itu daya beli masyarakat tidak semakin merosot. Itulah
yang mampu menggairahkan pasar domestik sehingga tingkat konsumsi masyarakat
masih meningkat. Kredit perbankan di sektor konsumtif pun tumbuh lebih
cepat katimbang untuk sektor produktif seperti investasi. Apalagi yang
berjangka panjang. Memang akan lebih mantap apabila pertumbuhan yang terjadi
lebih didukung perkembangan investasi dan sektor riil, karena sekaligus
menyerap tenaga kerja.

Banyak faktor, baik internal maupun eksternal yang mengakibatkan pertumbuhan
sedikit meleset dari perkiraan. Di dalam negeri, menurunnya investasi menjadi
penyebab utama, dan itu terlihat juga dari kinerja perbankan dalam penyaluran
kredit. Mengapa investor masih enggan bergerak? Ada banyak faktor, terutama
menyangkut iklim usaha dan persepsi terhadap prospek bisnis itu sendiri.
Sementara itu investor asing pun belum banyak tertarik, sehingga yang masuk
lebih banyak aliran modal ke dalam investasi portofolio. Persaingan yang
makin ketat dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia pun tentu
ada pengaruhnya.

Menggiatkan investasi dan sektor riil adalah strategi yang paling tepat,
dan potensi swasta harus menjadi andalan, mengingat kemampuan pemerintah
sudah terbatas. Pengeluaran rutin makin memberatkan APBN, sehingga pengeluaran
untuk pembangunan, yang sebagian besar lari ke daerah, tidak lagi bisa
diharapkan menjadi stimulus. Dalam konteks inilah, perlu upaya serius memperbaiki
iklim usaha dan memberikan insentif maksimal bagi kalangan dunia usaha.
Celakanya, yang terjadi malah kebijakan-kebijakan yang memberatkan, seperti
penyesuaian harga BBM industri, tarif pajak, dan sebagainya.

Kita tahu belum ada perbaikan signifikan pada iklim usaha. Keluhan tentang
ekonomi biaya tinggi akibat banyaknya pungli, kepastian hukum serta rumitnya
perizinan masih saja terjadi. Belum lagi hal-hal yang terkait dengan ketidakpastian
jangka menengah dan panjang. Sebenarnya situasi makro yang makin kondusif
bisa menjadi faktor positif. Karena bagaimanapun stabilitas moneter dan
ekonomi pada umumnya relatif terjaga dan semakin permanen. Demikian juga
stabilitas politik. Kendati belum dijamin benar, namun dinamikanya masih
dalam batas kewajaran. Artinya, iklim investasi sebenarnya tidaklah terlampau
buruk.

Sumber : SuaraMerdeka

Source :




Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

16 November 2007

Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan lebih rendah dari target
pemerintah sebesar 6,3 persen. Angka pertumbuhan kemungkinan maksimal hanya
6,2 persen. Itu pun dengan syarat apabila kinerja selama kuartal IV relatif
baik dan mampu mencapai 6,4 – 6,6 persen. Sepintas tampaknya tak ada persoalan
serius dengan perkembangan yang tak terlalu menggembirakan itu. Apa artinya
bila bedanya hanya 0,1 persen? Tetapi jangan lupa, dampaknya terhadap penyerapan
tenaga kerja sangat besar. Setiap 0,1 persen pertumbuhan diperkirakan akan
terkait dengan sekitar 100 ribu kesempatan kerja. Jadi akan ada pengurangan
sebesar itu.

Padahal, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dengan pertambahan
angkatan kerja setahun sebanyak 2,1 juta orang dan kesempatan kerja 2 juta
orang, memang akan ada tambahan pengangguran100 ribu. Dan secara akumulatif
jumlah pengangguran di negara kita akan semakin besar. Di situlah sebenarnya
letak persoalan itu. Angka riilnya bisa jauh lebih besar, karena semua
baru perhitungan kasar atas dasar asumsi tertentu. Padahal pertumbuhan
ekonomi lebih banyak ditopang konsumsi, sementara penggunaan teknologi
canggih yang kurang menyerap tenaga kerja semakin banyak dijadikan pilihan.

Mungkin kondisinya sedikit tertolong karena laju inflasi juga bisa ditekan
menjadi sekitar 6,5 persen. Jadi pertumbuhan ekonomi tak terlalu dimakan
inflasi. Di samping itu daya beli masyarakat tidak semakin merosot. Itulah
yang mampu menggairahkan pasar domestik sehingga tingkat konsumsi masyarakat
masih meningkat. Kredit perbankan di sektor konsumtif pun tumbuh lebih
cepat katimbang untuk sektor produktif seperti investasi. Apalagi yang
berjangka panjang. Memang akan lebih mantap apabila pertumbuhan yang terjadi
lebih didukung perkembangan investasi dan sektor riil, karena sekaligus
menyerap tenaga kerja.

Banyak faktor, baik internal maupun eksternal yang mengakibatkan pertumbuhan
sedikit meleset dari perkiraan. Di dalam negeri, menurunnya investasi menjadi
penyebab utama, dan itu terlihat juga dari kinerja perbankan dalam penyaluran
kredit. Mengapa investor masih enggan bergerak? Ada banyak faktor, terutama
menyangkut iklim usaha dan persepsi terhadap prospek bisnis itu sendiri.
Sementara itu investor asing pun belum banyak tertarik, sehingga yang masuk
lebih banyak aliran modal ke dalam investasi portofolio. Persaingan yang
makin ketat dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia pun tentu
ada pengaruhnya.

Menggiatkan investasi dan sektor riil adalah strategi yang paling tepat,
dan potensi swasta harus menjadi andalan, mengingat kemampuan pemerintah
sudah terbatas. Pengeluaran rutin makin memberatkan APBN, sehingga pengeluaran
untuk pembangunan, yang sebagian besar lari ke daerah, tidak lagi bisa
diharapkan menjadi stimulus. Dalam konteks inilah, perlu upaya serius memperbaiki
iklim usaha dan memberikan insentif maksimal bagi kalangan dunia usaha.
Celakanya, yang terjadi malah kebijakan-kebijakan yang memberatkan, seperti
penyesuaian harga BBM industri, tarif pajak, dan sebagainya.

Kita tahu belum ada perbaikan signifikan pada iklim usaha. Keluhan tentang
ekonomi biaya tinggi akibat banyaknya pungli, kepastian hukum serta rumitnya
perizinan masih saja terjadi. Belum lagi hal-hal yang terkait dengan ketidakpastian
jangka menengah dan panjang. Sebenarnya situasi makro yang makin kondusif
bisa menjadi faktor positif. Karena bagaimanapun stabilitas moneter dan
ekonomi pada umumnya relatif terjaga dan semakin permanen. Demikian juga
stabilitas politik. Kendati belum dijamin benar, namun dinamikanya masih
dalam batas kewajaran. Artinya, iklim investasi sebenarnya tidaklah terlampau
buruk.

Sumber : SuaraMerdeka

Source :



Kirim Komentar

Baca Komentar ( 0 )

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

: *


*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>